: WIB    —   
indikator  I  

Menyambut Desember

Menyambut Desember
Financial Expert Prasetiya Mulya Business School

Desember selalu disambut dengan ceria. Bulan yang satu ini identik dengan liburan, bonus tahunan, kedamaian Natal, Sinterklas yang rajin membagi hadiah, perusahaan menutup buku, hingga investor yang menghitung cuan dan menyusun rencana investasi baru.

Desember juga mengekspresikan kegembiraan para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari analisis saya terhadap daily returns IHSG periode Januari 2000 hingga Agustus 2009, rata-rata imbal hasil harian di Desember mengalahkan bulan-bulan yang lain. Selain itu, selama 19 tahun terakhir, 12 kali imbal hasil IHSG di Desember positif. Pada tabel bisa dilihat bahwa dalam lima tahun terakhir (sejak 2011), IHSG selalu naik di Desember.

Menjelang akhir tahun, di pasar modal AS ada istilah Santa Claus Rally. Ini merujuk pada fenomena kenaikan harga saham antara Natal dan tahun baru. Profesor Richard Sias dari Washington State University mencari bukti empiris dengan mengambil sampel periode 1984-2004. Hasilnya: harga saham rata-rata naik 5,5% dalam waktu sepekan menjelang tutup tahun.

Bukti empiris juga mengindikasikan bahwa sejak 1945, S&P 500 mengalami kenaikan rata-rata 1,7% pada Desember. Ini berbeda dengan rata-rata kenaikan bulanan yang hanya 0,7%. S&P 500 juga memberikan imbal hasil positif pada Desember sebanyak 77% dari semua Desember sejak 1945.

Hasil yang senada saya peroleh ketika meneliti Bursa Efek Indonesia dengan sampel periode 2002-2009. Setiap tahun, IHSG di akhir Desember selalu lebih tinggi daripada di awal Desember, dengan rata-rata kenaikan 5,3%.

Saya juga mencoba menghitung kenaikan harga saham dari sehari sebelum Natal hingga akhir tahun selama periode 2002-2009. Setiap tahun, kecuali 2002, harga saham selalu naik rata-rata 1,4% hingga akhir tahun. Artinya, Santa Claus berminat juga ikut reli di lintasan balap BEI, meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan di AS.

Melihat perilaku IHSG menjelang akhir tahun ini, ada harapan IHSG ditutup lebih tinggi daripada angka saat pembaca menyimak artikel ini. Tentunya, para trader saham sudah siap dengan strategi beli sekarang dan jual pada awal tahun.

Santa Claus Rally berhubungan dengan January Effect yang jauh lebih populer. January Effect adalah fenomena harga saham, terutama saham perusahaan kecil, di mana biasanya harga naik sejak sepekan sebelum pergantian tahun hingga dua minggu pertama di Januari.

Fenomena ini sering disebut turn-of-the-year effect. Di bursa AS, dengan sampel antara 1950-2004, ditemukan bukti bahwa rata-rata imbal hasil selama tiga pekan periode turn-of-the year adalah 14,4%. Ini jauh di atas rata-rata imbal hasil tiga minggu hari-hari biasa yang hanya 3,9%.

Saya menghitung imbal hasil IHSG periode turn-of the year ini dengan data sejak Natal 2002 hingga Januari 2010. Dari delapan tahun pengamatan, hanya dua kali periode ini memberikan imbal hasil negatif, yaitu 2002 dan 2006. Rata-rata kenaikan jika membeli saham sehari sebelum Natal dan menjual pada 15 Januari tahun berikutnya adalah 3,1%.

Tapi, hati-hati, jangan sampai terlambat menjual saham. Jika beli sehari sebelum Natal dan jual pada akhir Januari tahun berikutnya, imbal hasil melorot jadi 1,7%. Bahkan, dari delapan tahun pengamatan itu, empat kali imbal hasilnya negatif jika menunggu hingga akhir Januari. Perlu diingat, riset ini menggunakan IHSG, bukan saham perusahaan kecil.

Berbagai teori diusung untuk menerangkan anomali di bursa saham menjelang akhir tahun. Misalnya, alasan pajak, window dressing oleh para fund manager, pembagian bonus yang meningkatkan daya beli hingga teori bahwa para investor pesimistis sudah berlibur.

Bagi trader, yang lebih menarik adalah bagaimana menikmati suasana akhir tahun di bursa saham dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sementara investor jangka panjang mungkin memilih berlibur dulu dan baru kembali memburu saham murah di akhir Januari.


Close [X]