Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Investor agresif

Investor agresif
Senior Advisor PT BNP ParibasInvestment Partners

Mendengar istilah agresif, mungkin banyak orang memiliki kesan negatif daripada positif. Padahal, istilah investor agresif sama sekali bukan berkonotasi negatif. Itu sebabnya, walau memiliki arti yang berbeda, saya sebenarnya lebih suka menggunakan kata progresif ketimbang agresif. Sebab, kata progresif berkesan lebih positif.

Investor agresif adalah kelompok teratas dalam kategori jenis investor dari tingkat toleransi dalam menerima risiko investasi. Bahkan, sebagian menjuluki investor agresif merupakan investor yang menyukai dan "mencari" risiko, sering disebut juga sebagai risk seeker investor.

Berbeda dengan para investor konservatif yang lebih mengutamakan perlindungan nilai investasi (modal) dan pendapatan (income) berkala, investor agresif malah bersedia menerima penurunan nilai modal mereka. Dan, investor agresif tidak menerima pendapatan.

Lalu, apa yang mereka cari? Jawabannya adalah: pertumbuhan nilai investasi. Sebagai contoh, dua orang investor, Andi dan Budi, yang memiliki dana awal yang sama sebesar Rp 100 juta. Andi sebagai investor konservatif lebih memerlukan perlindungan, agar dana investasinya tidak berkurang juga pendapatan berkala dari bunga deposito. Sedangkan Budi lebih memilih membeli reksadana saham. Budi berharap dalam 12 tahun ke depan dana tersebut menjadi Rp 400 juta, misalnya.

Apakah harapan investor agresif seperti Budi di atas pasti tercapai? Belum tentu. Itulah yang membedakan "keberanian" investor agresif untuk menerima ketidakpastian, di samping memiliki harapan dengan imbal hasil yang tinggi. Umumnya, investor agresif lebih paham tentang karakteristik instrumen yang berisiko seperti saham. Itu sebabnya, portofolio investasi investor agresif cenderung didominasi oleh efek saham atau reksadana saham.

Investor agresif juga memahami fluktuasi harga yang selalu bergejolak, sehingga harus paham tentang konsep keuntungan dan kerugian yang belum direalisasikan (unrealized gains and loses). Kelompok kaum muda yang memiliki tujuan jangka panjang, seperti persiapan dana pendidikan tinggi anak atau persiapan pensiun yang jangka waktunya di atas 10 tahun, mungkin cocok berinvestasi dengan pendekatan sebagai investor agresif. Tentu saja, sepanjang mereka memahami risiko investasinya.