Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Trader menjadi herbivore investor

Trader menjadi herbivore investor
Financial Expert Prasetiya Mulya Business School

Dua bulan lalu saya menghadiri konferensi tahunan Asian Corporate Governance Association (ACGA) di Tokyo, Jepang. ACGA (www.acga-asia.org) adalah asosiasi independen dan nirlaba yang bertujuan untuk mempromosikan Upaya memajukan tata kelola korporasi (CG) di Asia.

Anggota ACGA meliputi 112 institusi dari 17 negara. Anggotanya terdiri atas investasi internasional, perusahaan publik dan non-publik, bank, perusahaan asuransi, hingga institusi pendidikan di seluruh dunia. Mayoritas anggota ACGA adalah institusi pengelola dana atau asset management (56%) serta lembaga pengelola dana pensiun (16%). Total dana yang dikelola institusi anggota ACGA mencapai US$ 25 triliun (sekitar Rp 337.500 trilliun atau setara 67 kali kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia).

Salah satu pembicara yang menarik di konferensi ACGA, Tokyo kemarin adalah Ken Shibusawa, pendiri perusahaan pengelola dana Commons Asset Management Inc. Ken Shibushawa merUpakan cucu buyut Eiichi Shibusawa, tokoh keuangan legendaris Jepang. Dialah pendiri First National Bank, bank pertama di Jepang, serta membantu mendirikan sekitar 500 perusahaan Jepang, termasuk Tokyo Stock Exchange.

Saat Eiichi berkunjung ke Paris World Fair tahun 1876 silam, apa yang dia lihat menyakinkan dirinya bahwa feodal Jepang perlu sistem perbankan untuk mengembangkan industri dan ekonominya. Ia pun mengibaratkan uang masyarakat Jepang sebagai tetesan air yang bila dikumpulkan akan menjadi aliran air sungai yang memiliki kekuatan dahsyat untuk mendorong ekonomi Jepang.

Ken Shibusawa sadar betul prestasi dan nama besar kakek buyutnya bagi kemajuan industri dan ekonomi Jepang. Namun, hingga Ken berusia 40 tahun barulah ia mulai belajar memahami filosofi Eiichi. Saat bergulat dengan apa yang ingin ia lakukan dalam sisa hidUpnya, Ken membaca kompilasi tulisan-tulisan Eichii. Ken pun mendapatkan jawabannya.

Ken adalah produk Amerika Serikat. Ia lulus dari University of Texas di Austin (1983) dan mendapat gelar MBA dari University of California, Los Angeles. Ken pernah bekerja sebagai trader kontrak opsi mata uang dan obligasi Jepang di JP Morgan. Dia juga pernah bekerja sebagai trader saham untuk Goldman Sachs. Sebelum mendirikan bisnisnya sendiri, Ken memimpin Moore Capital Management di Jepang. I was a short-term guy, I was a trader, kata Ken, sekarang berusia 55 tahun, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg di Tokyo. But I saw the necessity of a long-term perspective.

Ken menyadari bahwa sebagian besar masyarakat Jepang masih menaruh uangnya di bank. Sekitar US$ 16 triliun (setara Rp 200.000 triliun) tabungan rumahtangga Jepang berada di bank dan praktis tidak mendapatkan bunga. Visi Ken adalah menyadarkan masyarakat Jepang untuk melihat pasar modal sebagai tempat terbaik untuk menabung demi masa depan, serta mendorong ekonomi Jepang dengan mengalirkan dana ke perusahaan-perusahaan terbaik. Untuk mewujudkan visinya tersebut, Ken meninggalkan pekerjaan dengan gaji fantastis, dan mendirikan Commons Asset Management Inc. Ia menyediakan sarana bagi masyarakat Jepang untuk berinvestasi pada saham melalui reksadana dengan biaya rendah, yang mengadopsi strategi investasi buy and hold (beli dan pegang untuk jangka panjang).

I was much more financially comfortable in my 20s and 30s, kata Ken. But people in the financial services industry, somewhere in their hearts, theres a sort of empty space, imbuhnya. They kind of feel, I think, probably trapped.

Ken menawarkan reksadana Commons 30. Ken berinvestasi pada 30 saham perusahaan unggulan (blue chip) Jepang secara jangka panjang. Ia, misalnya, hanya mengganti satu saham dalam setahun. Sisa waktunya dia gunakan untuk mendorong perusahaan Jepang dalam portofolionya dan investornya untuk saling berkomunikasi. Ken memberi nama strategi ini sebagai Herbivore Investing.

Dalam berinvestasi, menurut Ken, kuncinya adalah menemukan bisnis yang masih bertumbuh satu generasi dari sekarang. Commons 30 tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran standar seperti profitabilitas dan valuasi untuk memilih saham. Namun juga fokus pada apakah sebuah perusahaan terbuka terhadap para investor dan memiliki budaya perusahaan (tata kelola) yang baik. Saham yang dipegang Commons 30 antara lain Ajinomoto, Daikin, Shiseido, dan Kubota.

Sekarang, jauh dari kehidUpan penuh pompaan adrenalin di ruang trader, Ken menghabiskan waktunya untuk mengorganisir event di mana nasabahnya yang berinvestasi minimal US$ 28, bisa berdiskusi dengan eksekutif perusahaan tempat mereka berinvestasi. Awalnya, beberapa perusahaan enggan bertemu dengan investor ritel. Namun, lambat laun mereka menyadari keuntungannya.

Its like comparing an elephant to an ant, Ken merendah saat ditanya apakah yang sudah ia lakukan bisa disamakan dengan prestasi kakek buyutnya. Tapi, Ken menekankan, apa yang dia lakukan mirip dengan yang dilakukan Eiichi, yakni mengumpulkan tetesan-tetesan air untuk menjadi aliran dana yang mampu mendorong perekonomian Jepang.