Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Memimpin itu Mengabdi

Memimpin itu Mengabdi
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Beberapa bulan ke depan, rakyat Indonesia akan disibukkan dengan hajatan bertajuk pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Saat ini, setiap kandidat pun sedang asyik berkampanye, laksana memacu mobil reli untuk melesat menuju tampuk pimpinan puncak di masing-masing daerah. Tentu saja, yang paling seru adalah pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Beberapa kalangan menyebutnya sebagai hajatan lokal dengan gaung nasional, atawa pilkada rasa pilpres (pemilihan presiden).

Di daerah mana pun, pilkada selalu diwarnai dengan perkara kontestasi politik. Partai-partai politik (berikut koalisinya masing-masing) sibuk mengatur siasat untuk menjadikan jagoannya sebagai pemenang. Para kandidat juga rajin menebar pesona lewat slogan dan visi penuh janji, yang seringkali dibungkus dengan pidato yang sarat kata dan retorika. Tujuan mereka hanya satu, yakni meyakinkan segenap rakyat dan memenangkan kesempatan menjadi orang nomor satu di panggung pemerintahan daerah. Menjadi kepala daerah sepertinya menjadi sebuah kesempatan yang harus diburu sekeras-kerasnya. Dan, bila berhasil, akan menjadi sebuah anugerah hidup yang terindah. Sebaliknya, jika gagal, akan menjadi tragika yang bikin nelangsa.

Sebuah pertanyaan menarik mampir di benak saya. Apakah menjadi pemimpin itu adalah sebuah berkah atau amanah? Sama halnya, apakah menjadi pemimpin merupakan kesempatan yang harus dikejar atau mandat yang secara kebetulan dititipkan oleh sejarah? Demikian pula, apakah memimpin adalah sebuah ekspresi kekuasaan atau sekadar ungkapan pengabdian?

Pertanyaan ini muncul di benak saya mengingat sejarah peradaban manusia banyak menorehkan cerita gelap tentang para pemimpin. Mereka tampak begitu sukses pada saat awal, namun menjadi tragis pada akhir masa kepemimpinannya. Ada pemimpin yang begitu kharismatik dan penuh sanjungan semasa berkuasa, namun mengakhiri masa kepemimpinannya sebagai tahanan politik di zaman berikutnya. Begitu digdaya dan penuh kuasa semasa jabatannya, dan mengisi akhir hidup dengan celaan dan hinaan, bahkan dari rakyatnya sendiri.

Pemimpin mulia

Jim Collins, dalam buku klasiknya Good to Great (2004), membedakan antara pemimpin yang efektif (effective leader) dan pemimpin yang mulia (great leader). Pemimpin yang efektif berhasil menciptakan kejayaan dan kesuksesan hanya pada zamannya, namun cenderung mewariskan kemerosotan dan persoalan setelah lewat masanya. Sementara itu, pemimpin yang mulia tak hanya membangun keberhasilan pada masa kepemimpinannya, namun juga mewariskan kesuksesan yang bahkan lebih hebat lagi sepeninggal dirinya.

Bagi Collins, pemimpin mulia adalah sosok yang tidak membangun reputasi dan pesona dirinya sendiri, tetapi justru peduli pada masa depan organisasi dan publik yang dipimpinnya. Ia mempersiapkan suksesi kepemimpinan agar lahir pemimpin-pemimpin yang bahkan lebih baik dari dirinya. Dan, tentu saja mereka adalah sosok cerdas nan profesional, namun sekaligus juga rendah hati dan sadar diri. Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela adalah contoh pemimpin yang mulia. Mereka tak hanya tahu kapan saatnya maju ke depan untuk memimpin, namun juga tahu waktunya undur diri. Bagi mereka, menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan, bukan berkah yang perlu diburu, dirayakan dan dipertahankan.

Dalam wawancaranya dengan Kompas-TV pada 28 November 2016, tokoh politik berpengaruh di Indonesia, Prabowo Subianto, membagikan pandangannya tentang berbagai hal. Beliau berbicara antara lain tentang wacana demokrasi, keutuhan NKRI, demonstrasi masa, legitimasi politik dan tentu saja kepemimpinan. Tentang kepemimpinan, pembelajaran menarik yang disampaikan oleh mantan pesaing Joko Widodo dalam kontestasi pilpres 2014 ini adalah bahwa memimpin pada dasarnya adalah mengabdi.

Intinya, memimpin semestinya tidak didasari oleh niat untuk memupuk kepentingan diri sendiri atau golongan tertentu, namun dilandasi nawaitu untuk mendatangkan manfaat dan kemaslahatan bagi sebanyak-banyaknya rakyat. Lebih dari sekadar urusan memegang kendali, mengabdi adalah memberikan sumbangsih, yakni sumbangsih kepada rakyat, negara dan bangsanya. Ini mirip dengan pandangan seorang pemikir sekaligus juga negarawan Prancis, Andre Malraux, yang pernah berujar, to command is to serve, nothing more and nothing less.

Jika memang niatnya adalah mengabdi, maka yang ada di dalam hati adalah keikhlasan untuk melayani dan memberikan sumbangsih. Kalau yang ada di benak hanyalah keinginan untuk memenangkan persaingan dan merengkuh tampuk kedudukan, sangat mungkin itu adalah pertanda bahwa yang bersangkutan baru siap menjadi penguasa, belum pemimpin.