Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

China di Afrika

China di Afrika
Pengamat Asia Tenggara

SAYA baru saja berkunjung ke Benua Afrika. Selama seminggu perjalanan ke Nairobi (Kenya) dan Dakar (Senegal) yang terletak di ujung barat benua Afrika, saya selalu berjumpa orang-orang Asia.

Perjalanan saya berawal dari bandar udara Suvarnabhumi Bangkok, di mana saya akan terbang menuju Nairobi dengan penerbangan tengah malam dari Kenya Airways menggunakan pesawat Boeing 777. Penerbangan tersebut adalah penerbangan harian yang berasal dari Guangzhou sehingga kabin pesawat pun penuh wisatawan China yang sedang mengantuk. Saya masih ingat, pengumuman berbahasa Mandarin di pesawat terus terdengar saat saya sedang terkantuk hampir tertidur.

Ketika sampai di Nairobi, saya terkejut melihat sebagian besar pelancong, wisatawan, dan pengusaha Asia dalam pesawat tadi berganti pesawat untuk melanjutkan penerbangan ke tempat-tempat yang lebih eksotis seperti Juba, Lilongwe, Maputo, Addis Abeba, Kinshasa and Douala. Nairobi, yang masih terasa asing bagi saya, ternyata sudah menjadi kota yang biasa bagi para pelancong dari China.

Saya menuju pusat kota melalui Mombasa Highway dimana saya mengalami kemacetan pada jam sibuk di pagi hari.Benar-benar seperti kemacetan di Asia di mana jalan dipenuhi dengan penjaja koran, majalah, alat-alat rumah tangga, hingga mainan. Perjalanan kami tersendat berkilo-kilo meter, berjibaku melewati beberapa bundaran yang sudah tak layak lagi dan didahului di beberapa belokan oleh para pejalan kaki di sepanjang sisi jalan raya yang ramai. Setelah lebih dari satu jam terjebak di kemacetan, akhirnya bangunan berbentuk silinder di tengah kota, Kenyatta International Convention Centre,  tampak dari kejauhan.

Keluar dari jalan raya dan lalu menuju hotel, saya melihat sebuah persimpangan baru yang penuh dengan jalan layang. Dengan sedikit menyipitkan mata, saya dapat membaca sebuah spanduk bertuliskan peresmian yang akan segera dilakukan.

Karena keingintahuan tentang pembangunan infrastruktur di negara miskin seperti Nairobi ini, saya bertanya pada pengemudi tentang pembangunan infrastruktur baru disana. Orang-orang China yang membangunnya.  Itu jalan bebas hambatan baru, Thika Expressway, Presiden akan meresmikannya besok," kata pengemudi itu.

Ternyata, perdagangan dan investasi China di Afrika tumbuh sangat pesat. Seperti yang dikatakan Greg Levesque, dari the US-China Business Council, di Business Insider 27 Juni 2012, Afrika merupakan negara ketiga penerima investasi asing langsung (FDI) terbesar dari China. Nilainya mendekati US$ 90 miliar.

Tujuan utama investasi termasuk ke Afrika Selatan, Nigeria, dan Algeria dan membidik sektor energi. Contohnya BUMN China National Offshore Oil Company (CNOOC), yang terus mencari minyak dan gas untuk memenuhi kebutuhan energi di China.

China juga mengembangkan investasi di sektor lain seperti infrastruktur. Salah satunya adalah pembangunan Thika Expressway yang menciptakan 3.500 lowongan pekerjaan untuk penduduk lokal Kenya. Pada Juli 2012, Presiden China Hu Jintao juga menawarkan pinjaman senilai US$ 20 miliar untuk negara-negara Afrika selama tiga tahun mendatang.

Namun demikian, hal tersebut mendatangkan banyak kritik dan pada dialog Mo Ibrahim Foundation yang saya hadiri di Dakar, beberapa pembicara menyentuh isu tentang ketidak-seimbangan hubungan antara China dan Afrika.

Sebagian besar merasa gelisah melihat sumber daya alam Afrika dieskspor ke China dan sebaliknya, Afrika hanya mengimpor berbagai barang konsumsi dari China. Salah satu pembicara mengatakan, China perlu membangun pabrik-pabrik di Afrika, untuk memenuhi kebutuhan pasar di sana. Soalnya, dalam beberapa ke depan, Afrika akan memiliki jumlah pekerja muda terbesar.

Mamadou Toure, seorang bankir investasi dan pendiri pan-Afrika, sebuah LSM kepemimpinan dan jaringan Afrika 2.0, secara umum, tidak keberatan  dengan langkah China tersebut. Namun ia bilang, investasi China sekarang ini sudah melebihi investasi Bank Dunia. "Kami membutuhkan diversifikasi mitra investasi" katanya.

Juga ada kekhawatiran mengenai pengaruh China yang bisa mengubah tatanan sosial di Afrika. Afia Asantewaa Asare-Kyei, seorang program manajer Open Society Foundation di Senegal dan Ghana yang baru pulang ke desanya di kawasan Ashanti terkejut melihat para pekerja China mendulang emas bersama penduduk setempat.

Kekhawatiran itu beralasan. Soalnya, kehadiran masyarakat China di sana sungguh beragam dan mengakar. Bahkan teater nasional yang baru didirikan di Dakar (tempat acara dialog yang diadakan oleh Mo Ibrahim Foundation diadakan), dibangun dengan pembiayaan  dari China. China membiayai  US$ 28 juta dari total biaya pembangunan sebesar US$ 32 juta. Dan sudah tentu, para pekerja China berkeliaran di sekitarnya. Kita dapat menduga bahwa Afrika akan menjadi salah satu wilayah pertarungan pengaruh antara China dan Amerika.

Apakah persepsi masyarakat Afrika terhadap orang-orang China sangat berbeda dengan persepsi terhadap orang-orang Indonesia?