: WIB    —   
indikator  I  

Strategi buy and hold di saat krisis

Strategi buy and hold di saat krisis
Financial Expert Prasetiya Mulya Business School

Di pengujung tahun 2016 ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik turun seperti mainan yoyo. Desember yang biasanya ceria ternyata tidak seindah warna aslinya. Bagi para trader, panas dingin di bursa sudah biasa. Namun tidak demikian bagi Telo, seorang investor pemula di pasar saham yang nasibnya kurang beruntung.

Telo mulai berinvestasi di pasar saham dengan tekad menjadi investor jangka panjang. Ia membeli beberapa saham bluechip, sehari sebelum indeks rontok. Ketika harga mulai berjatuhan, dia mencoba tenang dan berharap harga akan rebound di hari berikutnya. Namun yang terjadi, justru harga semakin jatuh. Dia pun mulai panik dan menjual sahamnya, dengan harapan bisa masuk kembali pada harga lebih rendah.

Ternyata, harga saham justru rebound setelah Telo menjual saham-sahamnya tersebut. Dia pun kena panic buying dan segera membeli kembali saham-saham tadi pada harga yang lebih tinggi. Satu jam kemudian, harga kembali jatuh.

Merasa dirinya menjadi orang paling bodoh sedunia, Telo segera menambah dana investasi dan mengubah mindset berinvestasi ke trading saham. Ia lantas meninggalkan strategi buy and hold dan mulai percaya bahwa strategi market timing via trading harian lebih cocok untuk dimainkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Telo tidak sendirian. Tiap hari jumlah trader bertambah seiring dengan maraknya online trading. Ini terlihat dari rata-rata nilai transaksi harian di BEI yang meningkat 18% di 2010.

Tapi, benarkah buy and hold lebih inferior daripada market timing? Jawabnya tergantung keahlian dan keberuntungan dalam melakukan market timing.

Di artikel Paulnomics (KONTAN, 19/7/2010), saya memaparkan bahwa dari 256 gurita, hanya ada satu gurita bernama Paul yang berhasil menebak dengan benar hasil dari delapan pertandingan sepakbola. Lalu ada 70 gurita normal yang menebak empat pertandingan secara benar. Masalahnya hampir semua trader ingin dan merasa bisa menjadi Paul the Octopus.

Menggunakan strategi market timing jelas tidak mudah, karena terlalu banyak variabel makro dan mikro yang berubah secara acak. Misalnya, siapa yang bisa menduga bahwa investor asing akan beramai-ramai keluar dari bursa? Atau siapa yang menduga bakal ada breaking news bahwa harga minyak naik? Bisa memprediksi naik turunnya harga saham harian secara konsisten hanyalah mimpi di siang bolong.

Para akademisi umumnya sepakat bahwa trading tidak baik untuk kantong investor. Misalnya, di bursa Amerika, Barber dan Odean (Journal of Finance, 2000) menemukan bahwa imbal hasil trading adalah 6,5% di bawah imbal hasil indeks pasar. Salah satu penyebabnya, selain faktor investor yang overconfident, adalah biaya transaksi saham. Saat melakukan online trading, kita sering tidak sadar harus membayar sekitar 0,5% fee untuk beli dan jual.

Untuk memberikan gambaran hasil buy and hold dibandingkan market timing, mari lihat ilustrasi berikut. Ambil contoh kita menginvestasikan dana kita di 10 saham bluechip di awal 2006 secara rata. Kemudian kita simpan selama lima tahun.

Saya sengaja mengambil periode lima tahun dimulai dari tahun 2006. Periode ini menarik karena melewati masa bullish dan crash sepanjang 2007-2008. Bagaimana kinerja saham tersebut? Silahkan lihat tabel yang ada di bawah ini.

Ternyata, dengan strategi buy and hold, tak ada satupun saham yang mencatatkan kerugian. Semua saham yang dipilih berhasil melewati periode krisis 2008 dengan baik. Termasuk saham BUMI yang masih memberikan imbal hasil 32% per tahun!

Beberapa saham, seperti saham ASII, SMGR, INDF dan AALI, bahkan bisa memberikan hasil di atas 35% per tahun. Namun imbal hasil yang diberikan saham TLKM ternyata masih di bawah imbal hasil deposito.

Secara rata-rata, portofolio tersebut menghasilkan imbal hasil 30% per tahun. Jika ditambahkan dividend yield sekitar 3%, maka imbal hasil yang diperoleh investor menjadi 33% per tahun. KalaUpun kita salah waktu beli, yakni di harga tertinggi pra-krisis, hanya tiga saham dari 10 saham tersebut yang tetap rugi hingga hari ini, yakni saham BUMI, TLKM, AALI.

Dengan imbal hasil tersebut, maka uang Rp 100 juta akan menjadi Rp 416 juta dalam periode lima tahun. Untuk mendapatkan hasil yang sama melalui market timing, setiap hari bursa kita harus memperoleh keuntungan sekitar Rp 0,25 juta, di luar biaya transaksi. Jika kita melakukan transaksi harian senilai Rp 200 juta dan kena biaya Rp 1 juta, yakni setara 0,5% dari nilai transaksi, maka target keuntungan menjadi Rp 1,25 juta per hari bursa selama periode lima tahun.

Mampukah kita memperoleh imbal hasil sebesar itu? Belum lagi kalau kita menghitung opportunity cost dari waktu dan konsentrasi yang tertuang untuk kegiatan trading. Atau menimbang social cost dan psychological cost yang bisa mengurangi kualitas hidUp kita.

Tip dari saya, jika tidak yakin bahwa kemampuan market timing kita bisa memberikan hasil lebih baik dari buy and hold, mengapa tidak mencoba strategi investasi yang lebih bikin tenteram? Silahkan baca artikel saya berjudul Investasi Damai ala Rip Van Winkle yang dimuat di KONTAN edisi 15/3/2010 dan Waktu adalah Teman atau Musuh Investor?, yang dimuat di KONTAN edisi 18/1/2010.

Jadi, biarkan IHSG bergoyang, long-term investor harus tetap percaya diri.


Close [X]