Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Antara Retorika dan Fakta

Antara Retorika dan Fakta
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Publik dunia, dan terutama penyelenggara pooling (poolster), dibuat pusing tujuh keliling dengan dua peristiwa besar tahun ini. Pada 23 Juni 2016, di luar dugaan, lewat proses referendum, ternyata publik Inggris Raya memutuskan keluar dari Uni Eropa.

Rakyat Inggris sendiri seolah tak percaya dengan keputusan yang telah mereka tetapkan. Hasilnya, sebagian warga bahkan menyatakan penyesalan. Lebih jauh, ada yang menuntut dilakukan referendum ulang. Namun, yang jelas Perdana Menteri terdahulu, David Cameron, sudah mengundurkan diri dan diganti Theresa May.

Menjelang akhir tahun, 8 November 2016, keajaiban kembali muncul dalam pemilihan presiden Amerika. Calon kontroversial yang diketahui gemar berkata kasar dan emosional, Donald Trump, memenangkan kontestasi kepresidenan di negara mbahnya demokrasi, dengan mengalahkan lawan super-tangguh, Hillary Clinton.

Tak tanggung-tanggung pula, menyertai kemenangan Trump, Partai Republik juga menguasai kursi di Kongres dan Senat. Hingga artikel ini ditulis, demonstrasi atas kemenangan Trump masih berlangsung di beberapa negara bagian. Namun, lagi-lagi faktanya, Trump sudah terpilih secara resmi sebagai presiden Amerika ke-45, Hillary juga sudah mengucapkan pidato kekalahan.

Sebelum kontestasi dimulai, publik begitu yakin bahwa Inggris Raya tetap bertahan dalam Uni Eropa. Sama halnya, menjelang penghitungan suara, kebanyakan jurnalis menumpuk di kantor kampanye tim Hillary untuk meliput kemenangannya. Bahkan, penasehat senior Trump pun sempat berujar it will take a miracle for us to win. Namun, hasil pemilihan sudah menunjukkan fakta yang sama sekali berbeda.

Beberapa orang bahkan menganggapnya tak tepat alias keliru. Sosok sekaliber Oliver Hart dan Bengt Holmstrom, yang mendapatkan penghargaan Nobel Ekonomi 2016 dengan teori kontraknya, mengatakan Brexit sebagai keputusan kontraktual keliru dan lebih banyak mendatangkan kerugian. Namun, sekali lagi, itulah fakta yang hadir, berbeda diametral dengan hasil survei sebelumnya yang dilakukan oleh beberapa poolster.

Beberapa argumentasi sudah disampaikan sehubungan dengan hasil anomali di atas. Tak ada tuduhan sama sekali bahwa para poolster bermain mata dengan pihak tertentu, yang membuat mereka tak objektif dalam mengolah data dan mewartakan berita. Rasanya tak mungkin juga poolster yang begitu banyak, dibeli dan dibajak secara beramai-ramai oleh kalangan tertentu. Jadi, memang ada anasir objektif yang menyebabkan kemunculan hasil anomali di atas.

Salah satu dugaan terkeras adalah besarnya kelompok silent-majority, yakni pemegang hak suara, yang jumlahnya begitu banyak, namun tidak dilibatkan/terlibat dalam proses pooling. Sebagian dari mereka, bahkan tak ikut memberikan suara pada hari H. Namun, apapun analisa yang muncul, perbedaan diametral antara yang dipikirkan dan yang senyatanya, hingga kini tetap misteri.

Mengambil Keputusan

Terkait urusan di atas, seorang rekan pengamat politik berujar, bahwa saat ini retorika lebih penting dari fakta. Mereka yang pintar berbicara dan mengolah kata, akan lebih didengarkan dibandingkan dengan mereka yang berusaha keras menghadirkan kerja nyata. Sekalipun isi pidatonya tak masuk akal dan berisikan janji surga, sepanjang disampaikan dengan gaya penuh retorika, publik akan mengamininya. Sebaliknya, selengkap apapun fakta dan data yang disajikan, jika publik tak punya minat untuk menyimak, mereka bisa mengabaikannya begitu saja.

Bagi saya pribadi, ini suatu proses pengambilan keputusan yang penuh tandatanya.

Di dalam ilmu pemecahan-masalah dan pengambilan-keputusan (problem-solving & decision-making), kita diajari mengumpulkan fakta dan mengolah data secermatya sebelum mengambil keputusan.

Dengan analisa fakta dan data yang komprehensif, kita bisa memetakan persoalan secara lengkap pula. Lebih jauh, kita juga dapat mengidentifikasi akar persoalan (root-cause) secara benar, sehingga dapat menemukan resep penyelesaian persoalan yang tepat. Tak lucu, jika orang yang sakit gigi diberi obat sakit kepala, karena penderita merasa pusing.

Guru saya pernah berpesan, jangan mengambil keputusan ketika hati galau, dan jangan bikin janji ketika rasa senang.

Mengambil keputusan, apalagi yang berdampak luas dan berjangka panjang, bukan kegiatan yang bisa dilakukan dengan menuruti emosi dan spontanitas perasaan belaka. Mengambil keputusan adalah proses yang punya kaidah ilmiah dengan pertimbangan akal sehat yang nyata. Kata teman saya, ada ilmunya, friend!!!