: WIB    —   
indikator  I  

Secangkir kopi 2017

Secangkir kopi 2017
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Menutup tahun 2016, seorang rekan menumpahkan kegelisahannya terhadap persoalan yang terjadi di negeri ini. Persisnya, persoalan yang terkait dengan semangat kebersamaan, kebhinekaan dan juga toleransi antarkelompok.

Begitu sering kita melihat, hanya karena berbeda suku, orang tiba-tiba memasang kuda-kuda dalam pergaulan dengan sesama. Hanya karena berbeda agama, orang menjadi gampang curiga dan penuh syakwasangka. Hanya karena berbeda warna kulit, orang bisa dengan mudah mengumbar kebencian dan mengumpat kata.

Singkat cerita, tahun 2016 cukup banyak dihiasi cerita tentang kurangnya sikap tenggang rasa. Pikiran primordialisme dengan mudah menjadi keras, sebaliknya rasa kemanusiaan seolah-olah begitu rapuh dan lembek.

Akibatnya, pikiran-pikiran ideologis menjadi semakin ekstrem, sikap intoleransi menjadi keras, dan kita menjadi masyarakat yang bersumbu- pendek alias gampang tersulut dan terbakar.

Dengan sedih, sang teman bertanya, Apa yang bisa kita lakukan secara individu, untuk persoalan yang begitu besar; persoalan yang menjangkau masyarakat, bahkan juga seluruh elemen bangsa? Jujur saja, mendengar pertanyaan itu, saya pun hanya bisa diam termangu. Tak tahu mesti berpikir dan bertindak seperti apa.

Wortel, telur, dan kopi

Beberapa saat merenungkan pertanyaan sang teman, saya teringat dengan sebuah cerita kebajikan tua. Alkisah, ada seorang anak yang mengeluh pada ibunya tentang persoalan hidup yang menimpa dirinya.

Katanya, Mengapa hidup ini terasa begitu berat dan seolah tak ada jalan keluar? Semua seperti buntu. Satu masalah belum selesai, bermunculan masalah baru. Seringkali lebih sulit, berat dan tak terbayangkan.

Ibunya tak menjawab apa-apa, hanya diam sambil membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya di atas kompor dengan api yang sudah menyala. Setelah air di panci-panci tersebut memanas, ia menaruh wortel di panci pertama, telur di panci kedua, dan biji kopi tumbuk di panci terakhir.

Ia membiarkan air dalam semua panci mendidih, masih tanpa berkata-kata. Si anak juga membungkam dan menunggu dengan tak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ibu. Lima belas menit berselang, sang ibu mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di cangkir.

Lalu, ia bertanya kepada anaknya, Apa yang kau lihat, Nak? Wortel, telur, dan kopi, jawab si anak. Sang ibu mengajaknya mendekat dan memintanya memakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak.

Sang ibu lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati telur rebus yang mengeras. Terakhir, ibunya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia pun tersenyum ketika menikmati kopi dengan aromanya yang khas. Setelahnya, si anak bertanya, Apa arti semua ini, Ibu?

Ibunya menerangkan bahwa wortel, telur dan biji kopi telah menghadapi kesulitan yang sama, yakni direbus hingga airnya mendidih. Tetapi, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Sebelum direbus, wortel begitu keras dan sukar dipatahkan. Namun setelah direbus, menjadi lunak dan rapuh untuk dikunyah.

Telur, sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isi yang berupa cairan. Tetapi, setelah direbus, isinya menjadi keras. Dan terakhir, bubuk kopi mengalami perubahan yang paling unik. Setelah direbus, bubuk kopi mengubah warna dan aroma air di dalamnya .

Kamu termasuk yang mana? tanya sang ibu. Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kamu menghadapinya? Apakah kamu adalah wortel yang semula begitu keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah menjadi lunak, lembek dan kehilangan kekuatan?

Atau, apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki sikap lembut dan dinamis, namun setelah menghadapi tantangan dan pencobaan, hatimu menjadi keras dan kaku? Atau, kamu adalah bubuk kopi, yang mengubah air panas menjadi suguhan yang harum dan nikmat. Ketika suhu air semakin panas, harum kopi pun semakin semerbak.

Di dalam teori problem solving (pemecahan masalah), kita diajarkan untuk tidak mengambil jarak dengan persoalan yang ada. Entah dengan cara menghindari dan mengalah terhadap persoalan tersebut laksana wortel yang menjadi lembek dan tidak punya kekuatan atau dengan cara membenturkan diri terhadap persoalan tersebut seperti halnya telur yang menjadi keras dan kaku.

Sebaliknya, kita perlu masuk dan terlibat di dalam persoalan yang ada dan menyiasatinya sedemikian rupa demi kepentingan dan kemaslahatan bersama. Selayaknya kopi, yang melarut dalam air panas yang mendidih untuk menghasilkan suguhan bersama yang nikmat dan mengharumkan.

Memasuki 2017, tak ada salahnya menikmati secangkir kopi sambil memetik hikmah dari falsafah di dalamnya. Tak gampang menyerah, juga tak mudah menjadi keras kepala. Masuk dan bahkan larut dalam persoalan, untuk menghadirkan kehidupan yang lebih nikmat dan mengharumkan bagi sesama.


Close [X]