Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Selamat pagi, Mr. Trump!

Selamat pagi, Mr. Trump!
Pengamat Pasar Modal

Donald Trump secara resmi telah dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45. Dari sekian banyak komentar, saya tertarik dengan pernyataan dari George Soros. Dia bilang, satu hal yang pasti mengenai Donald Trump adalah munculnya banyak ketidakpastian. Ketidakpastian yang membuat takut para investor jangka panjang. Soros melihat, ke depan, kinerja pasar modal tidak akan terlalu bagus.

Kalau benar Soros bilang begitu, saya akan bilang, "Wah, baguslah kalau begitu!"

Lo, kenapa kok bagus?

Begini, penggerak utama harga di pasar modal adalah investor jangka panjang. Investor yang memasukkan dana ke pasar modal melakukan posisi beli yang akan mereka simpan untuk jangka panjang.

Ketika kondisi aman, situasi kondusif, investor akan melakukan posisi beli. Posisi beli yang dilakukan terus menerus menimbulkan tren bullish yang berkepanjangan.

Ketika kondisi tidak kondusif, ada dua hal yang dilakukan investor jangka panjang. Pertama, diam saja. Ketika investor diam saja, harga saham sebenarnya bergerak turun, tapi turunnya perlahan. Perdagangan akan membosankan. Investor wait and see, lalu wait and sleep.

Kedua, investor melakukan posisi jual. Ketika investor melakukan posisi jual, harga akan bergerak turun secara tajam. Ini yang dibenci para investor. Maklum, investor, kan, strategi utamanya adalah buy and hold. Menyimpan posisi ketika harga bergerak turun berarti harus rela posisi yang tadinya hijau karena untung, lalu menjadi pink karena mulai rugi, dan akhirnya menjadi merah.

Jadi, bagi investor, ketidakpastian adalah kabar buruk. Akan tetapi, bagi seorang trader, ketidakpastian adalah berkah. Ketidakpastian adalah hal yang dinanti-nanti.

Mengapa? Karena ketikdakpastian biasanya datang bersama-sama dengan volatilitas harga. Semakin tinggi volatilitas, berarti harga akan bergerak semakin liar. Volatilitas yang tinggi inilah yang dinanti-nanti oleh seorang trader.

Harap maklum, trader, kan, mencari duit dari volatiltas. Semakin volatil pasar, semakin banyak kesempatan seorang trader mencari uang. Trading jadi semakin nikmat. Apalagi, batas autoreject bawah sudah kembali normal, tidak lagi terbatas 10% tiap koreksi.

Problemnya, mayoritas isi pasar modal adalah investor. Investor dalam tanda kutip ini adalah mereka yang melakukan posisi beli dengan keinginan melakukan trading. Tapi karena nyangkut, posisinya menjadi investasi. Jadi jangan heran kalau ketika market naik turun seperti rollercoaster mereka bakal berteriak-teriak.

Tapi, apa iya dengan naiknya Donald Trump sebagai Presiden kita harus khawatir akan muncul koreksi berkepanjangan? Tidak lama setelah diangkat jadi Presiden, Donald Trump kabarnya memang langsung menandatangani pakta Amerika menarik diri dari kesepakatan Trans Pacific Partnership (TPP).

Apakah ada pengaruhnya ke Indonesia? Sepertinya tidak. Indonesia, toh, tidak ikut TPP. Tetapi, apakah sentimen negatifnya tidak akan merembet? Itu yang tidak bisa dipastikan.

Tapi, kalaUpun ada sentimen negatif dari TPP atau dari inagurasi Donald Trump, setidaknya ada dua hal yang membuat saya tetap optimistis. Pertama, posisi jangka menengah dari pemodal asing saat ini cenderung tidak besar. Setelah rentetan aksi jual pemodal asing dari bulan Juli hingga Desember tahun lalu, posisi jangka menengah pemodal asing di pasar reguler, saat ini hanya tinggal sekitar Rp 6 triliun.

Dengan posisi net buy sebesar itu, jika pemodal asing melakukan tekanan jual yang sangat besar, aksi jual yang terjadi tidak akan berlangsung lebih dari dua minggu. Artinya, koreksi yang terjadi hanya akan berlangsung sesaat dan daya hancurnya tidak akan menyeramkan.

Kedua, memangnya Donald Trump bad news untuk pasar modal? Apa Donald Trump membuat indeks dan harga saham bergerak turun? Enggak juga.

Semenjak Donald Trump memenangkan pemilihan Presiden November tahun lalu hingga pelantikan kemarin, indeks Dow Jones Industrial tercatat masih naik sekitar 6%. Sejak awal Januari Dow Jones Industrial memang cenderung turun. Tapi tetap saja, Dow masih naik.

Apalagi, Jumat kemarin (20/1), indeks Dow Jones Industrial, meski hanya naik tipis 0,48%, indeks Dow Jones Industrial berhasil ditutUp menembus resisten pertama, mengakhiri tren turun jangka pendek. Kekhawatiran yang sebelumnya ditunjukkan berbagai pasar modal di bursa Asia, ternyata tidak terbukti. Bursa Amerika tetap ditutUp dengan sinyal positif.

Cuma, ke depan sepertinya masih akan tetap sulit untuk mencari sentimen positif. Sebentar lagi, di awal Februari, The Fed akan kembali bersidang. Dengan adanya sinyal kenaikan yang lebih agresif, sepertinya kita harus tetap mencari sentimen positif dari pasar Asia.

Dari dalam negeri, kita menantikan data pertumbuhan ekonomi 2016. Meski sepertinya datanya bakal bagus (konsensus masih cukUp yakin pertumbuhan ekonomi 2016 bakal berada di 5,09%), tapi greget sentimen positifnya sampai Jumat kemarin belum terlihat. Pasar masih tegang menunggu hari-hari pertama Donald Trump dan menunggu kebijakan The Fed.

Jadi, kalau saya sih, kita nikmati saja. Buat saya yang mulai bulan depan akan memulai profesi baru sebagai professional trader, saya harus siap dengan kondisi pasar modal seperti apapun. Pasar naik atau turun, harus tetap semangat.

Saya malah berharap ke depan volatilitas semakin tinggi, biar semakin enak mencari cuan. Situasi semakin kondusif sehingga semakin enak untuk kembali menulis buku.

Saya berharap Dow Jones Industrial mencetak 20.000 dulu sebelum koreksi. IHSG juga cetak rekor dulu di atas 5.525 sebelum koreksi. Itu kalau ada koreksi.

Jadi, Mr Trump, Anda mau apa saja, bring it on! Happy trading, semoga barokah!