Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Conversational commerce

Conversational commerce
Founder Of Lightora UMN Incubator

Kita tahu bahwa percakapan baik melalui chatting maupun suara adalah hal yang lebih natural dibanding penggunaan aplikasi berbasis menu, termasuk website.

Tidak usah jauh-jauh, seringkah Anda atau orang dekat Anda memutuskan untuk membeli sesuatu bukan melalui website, tapi berdiskusi di aplikasi chatting terlebih dulu?

Nah, dengan kemajuan teknologi saat ini, ada satu revolusi yang banyak mempengaruhi keputusan Anda. Yaitu ketika ada aplikasi cerdas yang menanyakan kebutuhan Anda dan membantu membuat keputusan untuk membeli atau tidak? Dan apa yang perlu dibeli?

Pada April tahun lalu di salah satu satu ajang konferensi di Amerika, Stewart Nickolas dari IBM mendemokan apa yang bisa dilakukan oleh Siri dan Alexa. Masing-masing adalah personal assistant cerdas (bot) dari Apple dan Amazon yang mampu berdiskusi dengan media suara.

Pada demo itu Stewart dibantu Siri dan Alexa dalam membuat keputusan apa yang harus dibeli dan dilakukan untuk upgrade dapur rumahnya. Dengan empat pertanyaan awal yang diajukan, yakni berapa koki di dapur, gaya masak, mudah dibersihkan, dan terakhir anggaran. S

iri dan Alexa kemudian membantu merekomendasikan Steward apa yang harus dibeli dan alasannya sehingga manfaat yang didapatkan akan maksimal. Bahkan membantu mengatur meeting dengan designer consultant.

Bagi yang tertarik untuk melihat sesi tersebut, bisa mengunjungi link video tersebut. Inti dari demo itu adalah menunjukkan kepada peserta bahwa saat ini keputusan yang diambil dapat dibuat cepat dengan minim kesalahan atau penyesalan melalui bantuan teknologi percakapan untuk e-commerce, conversational commerce yang semakin hari semakin cerdas, dengan biaya akuisisi teknologi yang semakin bersahabat, tapi tetap memiliki hasil yang tinggi.

Di belakang conversational commerce ini berjejer teknologi pendukung dari area Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan cloud-dimana software tidak usah dibeli lagi sebagai lisensi tapi kita dapat subscribe dan berlangganan bulanan. Dengan demikian biaya besar untuk hardware, modul-modul cerdas, dan kebutuhan SDM teknologi dapat dikurangi secara signifikan.

Bagi perusahaan dan pebisnis, ketiga teknologi ini bukan hanya menjadi kesempatan untuk segera dimanfaatkan dalam berinteraksi dengan pelanggan dan meningkatkan penjualan, tapi juga dapat dimanfaatkan dalam mengefisiensikan operasional perusahaan seperti merchandising.

Salah satu contoh tren dari teknologi ini berupa chatbot yang sudah pernah dibahas tahun lalu pada kolom sama. Penerapan sukses dari chatbot ini sudah mulai kelihatan, The Sun- salah satu perusahaan media dari Inggris-telah menerapkan chatbot di atas platform Facebook Messenger dan berhasil meningkatkan sebagian traffic pembaca kembali ke website The Sun-yang tentunya merupakan hal penting untuk menarik pengiklan.

Sayangnya, masih banyak korporasi yang skeptis akan tren yang makin penting ini dan bahkan tidak bersedia melakukan kajian sesegera mungkin.

Bagi penulis, digitalisasi bukan hanya capture data demi kepentingan operasional saja. Data yang telah ada dan data mutakhir yang didapat belakangan seyogyanya dapat dianalisa dengan cepat dan cerdas dan dapat menjadi keuntungan kompetitif pada pasar yang semakin bergerak cepat dan sulit diprediksi ini.

Perumusan kebutuhan perusahaan dan pemanfaatan teknologi manajemen data yang baik serta Artificial Intellligence (AI) akan menjadi aset yang berharga dan mewujudkan transformasi digital dengan lebih cepat dan berkualitas tinggi.