: WIB    —   
indikator  I  

The delivery is the message

The delivery is the message
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Hingga 15 Februari 2017, kita akan disibukkan urusan pilkada (pemilihan kepala daerah), yang kali ini dilakukan secara serentak. Ibarat membawa kendaraan, roda kampanye sedang berputar kencang, seperti memacu kuda balap menuju garis finish. Salah satu forum kampanye yang paling dinanti masyarakat tentu adalah debat publik antarpasangan calon. Lagi-lagi, dengan segala dinamikanya, yang paling seru dan banyak dinantikan tentu saja adalah debat antarpasangan calon Gubernur DKI Jakarta. Televisi swasta nasional tampak bersemangat untuk meliput hajatan, yang sesungguhnya bersifat lokal tapi beraroma nasional.

Setelah debat pertama dan kedua (13 dan 27 Januari 2015) berlalu, banyak sekali analisis dan komentar netizen yang berseliweran di media sosial. Walaupun ketiga pasangan calon sudah berikhtiar memberikan penampilannya yang terbaik, tetap saja banyak pisau tajam - berupa masukan, kritik dan bahkan kecaman yang datang menghunjam.

Setiap pasangan punya tantangannya masing-masing, untuk bisa memastikan bahwa publik yakin dan berselera untuk memilih mereka. Ada yang dianggap hanya bisa menjual janji, namun tak tahu cara memberikan bukti. Ada juga yang dikesankan pintar bermimpi ke tempat tinggi, namun prestasi dan reputasinya selama ini tak cukup mumpuni. Sementara, ada juga yang berhasil menyodorkan kerja nyata, toh, tetap saja ada yang tak suka.

Walaupun hanya salah satu forum kampanye di antara sekian banyak kesempatan dan medium kampanye lainnya, debat publik mendapat tempatnya sendiri. Karena ditayangkan secara nasional dan diuji secara kritis oleh berbagai pihak (baik oleh narasumber independen ataupun pasangan calon lain), debat publik menjadi salah satu kesempatan terbaik untuk meyakinkan publik luas bahwa masing-masing peserta debat adalah kecap nomor satu. Kecap dengan kualitas, kompetensi dan kredibilitas yang terpercaya. Tak heran, banyak calon peserta debat publik (baik untuk pemilihan kepala daerah, dan apalagi pemilihan presiden) yang menyiapkan dirinya secara all out untuk menghadapi dan memenangkan forum debat ini. Kepiawaian berkomunikasi menjadi elemen penting yang ikut menentukan persepsi dan kepercayaan publik terhadap para peserta debat.

Gembala yang baik

Ada satu prinsip interaksi dan komunikasi yang diajarkan oleh guru saya, yakni touch their heart before asking for their hand. Sangat sederhana, namun acapkali diabaikan. Prinsip ini mengacu kepada kebiasaan seorang gembala, sosok yang peduli, terlibat dan akrab dengan kawanan yang dipimpinannya. Menjadi gembala pada dasarnya adalah menjadi tempat bagi para pengikutnya untuk bertanya, mengadu sekaligus juga menyelesaikan persoalan yang ada.

Untuk itu, seorang gembala yang baik harus mampu menyentuh hati kawanannya, sebelum menggiring mereka ke tempat yang ingin dituju. Dan, pada dasarnya, manusia pun (sebagaimana makhluk hidup lainnya) akan lebih peka terhadap sentuhan perasaan daripada sekadar ajakan, petunjuk, apalagi perintah dari orang lain. Prinsip ini sekaligus juga mengingatkan kita bahwa komunikasi (atau kampanye) yang efektif tak hanya bicara tentang menaklukkan pikiran, namun juga memenangkan hati publik yang menyaksikan.

Kita mengerti bahwa ada dua elemen penting dalam sebuah proses komunikasi, yakni isi pesan (the message) dan proses penyampaian pesan (the delivery). Banyak orang menganggap bahwa message lebih penting daripada delivery. Seolah-olah, sepanjang isi pesannya jelas dan berbobot, cara dan gaya penyampaian seperti apa pun, tak akan jadi masalah.

Mengacu kepada pemikiran pakar komunikasi Marshall McLuhan yang berbunyi the medium is the message, teman saya (seorang penggiat ilmu komunikasi) juga mengatakan the delivery is also the message. Maksudnya, cara seseorang berkomunikasi dan menyampaikan pesan juga sebuah pesan tersendiri. Persisnya, pesan tentang kualitas diri sang pemberi pesan itu sendiri.

Ketika berkomunikasi secara gusar, seketika itu juga tampak karakter emosional seseorang. Sama halnya pula, saat bertutur dengan tak mengacuhkan orang lain, terlihat juga sifat ketidakpedulian seseorang. Pun, waktu berbicara dengan mengerdilkan orang lain, publik dapat menyaksikan arogansi diri yang bersangkutan.

Jadi, sekalipun pesan yang disampaikan berisi hal-hal yang memukau benak, namun disampaikan dengan cara yang tak berkenan di hati, proses komunikasinya tak berjalan efektif.

Kita tak perlu heran jika ada isi kampanye pasangan calon yang begitu keren, hebat dan mempesona, namun publik justru tak tergerak untuk memilih yang bersangkutan. Boleh jadi, kesenjangan antara isi pesan dan cara penyampaian itulah jawabannya. Karena, sekali lagi, komunikasi (kampanye) bukan sekadar urusan menaklukkan benak, namun juga memenangkan hati. Dan, seperti diingatkan sang teman, the delivery is also the message. Persisnya, the message of the messanger.


Close [X]