: WIB    —   
indikator  I  

Obligasi dan Sukuk Ritel

Obligasi dan Sukuk Ritel
Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners

Instrumen Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Sukuk Ritel Indonesia (Sukri), dalam beberapa tahun terakhir meningkat popularitasnya. Banyak pemilik deposito mengalihkan sebagian deposito ke ORI dan/atau Sukri, sehingga hampir selalu penerbitan perdana ORI dan Sukri habis dibeli oleh masyarakat.

Obligasi yang merupakan instrumen investasi yang dikategorikan sebagai surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan, sebelumnya hanya bisa dibeli oleh investor yang memiliki dana besar (Rp 1 miliar atau lebih). Penerbitan ORI dan Sukri oleh pemerintah merupakan langkah cerdas, yang bukan hanya memperbesar peluang pemerintah mendapatkan sumber dana dari masyarakat untuk pembangunan ekonomi nasional, namun juga membuka peluang berinvestasi bagi masyakarat secara luas.

ORI dan Sukri selain menarik dari sisi investasi juga menarik dari sisi edukasi investasi. Dari sisi investasi ada dua kelebihan utama ORI dan Sukri. Pertama, imbal hasil yang ditawarkan selalu lebih tinggi dari rata-rata deposito bank papan atas (pada saat penawaran perdana). Kedua, adanya jaminan pemerintah atas pengembalian nilai pokok pada saat jatuh tempo, yang jumlah nilai pokoknya lebih besar dari Rp 2 miliar yang diberikan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) untuk deposito.

Dari sisi edukasi investasi, ORI dan Sukri yang dikategorikan juga sebagai instrumen pasar modal, "mengharuskan" penjualnya (umumnya pihak perbankan) untuk memperkenalkan beberapa hal baru kepada investornya, seperti ORI dan Sukri bukan produk bank; perlunya pengisian kuesioner profil risiko nasabah; jangka waktu yang lebih panjang (di atas satu tahun); bahwa ORI dan Sukri bisa diperdagangkan (tidak harus menunggu jatuh tempo jika membutuhkan dana); ada kemungkinan untung dan rugi jika dijual sebelum jatuh tempo.

Adanya Instrumen investasi yang bisa langsung digunakan masyarakat secara luas akan memudahkan dalam melakukan edukasi, karena masyarakat bisa terjun langsung berinvestasi. Hal-hal baru, seperti pengisian dan penjelasan kuesioner profil risiko, serta penjelasan produk, seharusnya dijelaskan para penjual kepada calon investor dengan benar dan tertib, sebelum transaksi dilakukan, sebagai bagian dari edukasi.

Masih sering terjadi proses edukasi antara penjual dan investor ORI maupun Sukri tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ini mungkin karena rendahnya keingintahuan dan keengganan investor yang menganggap proses administrasi menyusahkan, sehingga proses edukasi kurang berjalan baik.


Close [X]