Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Socrates dan Hoax

Socrates dan Hoax
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Akhir-akhir ini, kita dipusingkan dengan urusan hoax atau berita palsu yang membanjiri media sosial. Dampak dari berita palsu sangat mengganggu dan semakin hari semakin merusak kewarasan akal budi manusia, sekaligus juga ikut merapuhkan ketahanan kolektif kita sebagai bangsa.

Namanya saja hoax, maka tak heran jika isinya lebih banyak yang bersifat negatif dan provokatif; layaknya propaganda murahan dari pihak-pihak yang tak bertanggung-jawab dan dengan mudah lempar batu sembunyi tangan.

Publik pun ramai-ramai memikirkan siasat untuk mengatasi hoax. Mulai dari deklarasi anti-hoax, pengembangan aplikasi anti-hoax, hingga gerakan menahan jempol (untuk tidak menyebarluaskan hoax)

Sesungguhnya, hoax adalah anak (kandung) yang tak diinginkan (unwanted child) dari perkembangan teknologi, yang telah membawa manusia masuk ke dalam lanskap peradaban baru, yang serba-terbuka, setara dan saling berbagi (sharing). Bahkan, saat ini kita begitu familiar dengan istilah sharing-economy, yang dimaknai sebagai segenap aktivitas ekonomi dan kemasyarakatan yang mengandung agenda transaksi komersial secara daring (online).

Sharing-economy bisa diwujudkan karena teknologi virtual telah membuat akses pasar menjadi terbagi (shared) secara terbuka dan demokratis. Jika aktivitas ekonomi saja bisa terbagi luas, apalagi yang namanya lalu lintas informasi?

Lagi-lagi, perkembangan teknologi telah membuat orang dengan mudah melupakan surat cetak dan kantor pos karena informasi bisa dialirkan lewat gawai. Bahkan, melalui aplikasi media sosial, informasi tak hanya dialirkan kepada satu orang, namun serentak bisa dibagikan kepada ratusan, ribuan bahkan jutaan orang.

Dalam konteks penyebaran informasi, media sosial mendatangkan dua manfaat langsung, yakni kemudahan dan kecepatan. Dengan hanya satu kali sentuhan jari, sebuah informasi bisa sampai ke seluruh penjuru dunia dengan serentak dan segera.

Manfaat ganda ini semakin menggoda, bilamana dikaitkan dengan kenyataan bahwa risiko lewat pemanfaatan media sosial sangat bisa diminimalisasi, yakni lewat akun bodong yang tak jelas (anonimous). Kata Graham Jones, seorang psikolog Inggris yang mendalami psikologi digital, anonimitas dalam dunia maya membuat orang begitu gampang untuk bersuara keras dan provokatif, tanpa merasa khawatir munculnya risiko.

Ini sangat berbeda dengan fakta dunia nyata, yakni saat seseorang berbicara sembrono dan tak benar, ia akan langsung dikeroyok dan dihajar oleh orang-orang di sekelilingnya.

Jadi benarlah adagium yang mengatakan, bahwa pada akhirnya yang menentukan segala kemaslahatan dan sekaligus persoalan teknologi ini adalah the man behind the gun. Manusialah yang akan menentukan, apakah pesan yang mereka sampaikan itu merupakan informasi benar yang mencerahkan, atau sebaliknya menjadi berita palsu atawa hoax yang menyesatkan.

Triple-filter test

Alkisah, suatu hari di zaman dahulu kala, seorang teman menyambangi filsuf kesohor Socrates dan berkata, Saya hendak bercerita sesuatu tentang teman Anda. Sang filsuf menyergah dengan takzim, Tunggu dulu! Socrates lalu berkata, Sebelum Anda menceritakannya, saya akan mengajukan tiga pertanyaan sederhana. Pertanyaan pertama, Apakah Anda yakin bahwa yang akan diceritakan kepada saya adalah benar adanya? Orang itu pun menjawab, Tidak tahu. Saya hanya mendengarnya dari orang lain, tanpa mengerti apakah itu benar atau tidak.

Socrates melanjutkan, Baiklah, jadi Anda sendiri tak yakin apakah itu benar atau tidak. Sekarang, pertanyaan yang kedua, Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik? Dan, sang teman menjawab, Tidak, justru hal sebaliknya.

Socrates kembali menambahkan, Jadi, Anda hendak berbicara sesuatu yang buruk tentang dia, sementara Anda tidak yakin bahwa itu benar adanya. Terakhir, Socrates pun mengajukan pertanyaan pamungkas, Apakah yang akan Anda ceritakan tentang sang teman tersebut sekiranya berguna bagi saya? Lagi-lagi sang teman menjawab, Samasekali tak ada gunanya.

Akhirnya, sang filsuf pun berujar penuh hikmat, Bila Anda hendak berkata tentang sesuatu yang belum tentu benar dan isinya tentang hal buruk, serta tak berguna sama sekali untuk saya, mengapa pula Anda merasa harus menceritakannya kepada saya?

Ketiga pertanyaan di atas seringkali disebut juga triple-filter test alias tiga ujian saringan. Sang filsuf hendak mengingatkan agar kita tak gampang mengobral pesan dan cerita yang belum tentu atau tidak benar, tak berisi kebaikan, sekaligus juga tak mendatangkan kemanfaatan. Ternyata, Socrates jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita untuk tak menyebarkan hoax. Tahan diri sejenak dan ajukan tiga pertanyaan di atas, sebelum menekan tombol send di gawai kita.