: WIB    —   
indikator  I  

Mental kasino di bursa saham

Mental kasino di bursa saham
Financial Expert Prasetiya Mulya Business School

Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian asal Bangladesh, menilai bahwa krisis keuangan global 2008 meledak akibat para investor atau trader di pasar modal mengubah bursa saham menjadi kasino, tempat judi. Mungkin pernyataan Yunus juga lebih tepat untuk menggambarkan kondisi bursa saham di China saat ini.

Perkembangan bursa saham China, baik di Shanghai maupun Shenzhen, memang fantastis. Kini ada 200 juta akun trading di China. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya punya sekitar 530.000 akun.

Sekitar 90% akun trading di China dimiliki investor ritel. Celakanya, mayoritas trader (investor saham) China memandang bursa saham seperti kasino, tempat mengadu peruntungan untuk bisa cepat kaya.

Mereka tidak punya pengetahuan dan keterampilan trading atau investasi saham. Sama seperti seorang penjudi di kasino yang hanya mengandalkan keberuntungan dan kenekadan semata. Maka tak heran jika volatilitas saham di bursa saham China adalah salah satu yang tertinggi di dunia.

Pada periode 2015-2016, harga saham di bursa saham China sempat melonjak 150% akibat dorongan beli yang masif. Stock market bubble ini kemudian meletus, merugikan banyak investor serta trader. Tapi kerugian itu tidak membuat para trader dan investor kapok. Bahkan jumlah trader dan investor di bursa saham China makin bertambah.

Casino mentality para trader saham, terutama para trader pemula, ditemukan di semua bursa saham, termasuk juga di bursa saham Indonesia. Siapakah yang termasuk trader dengan casino mentality?

Jawabnya adalah mereka yang punya kemiripan atribut dengan para penjudi yang datang ke kasino. Penjudi di kasino biasanya, pertama, bermimpi meraUp untung dalam waktu sekejap. Kedua, tidak punya rencana dan tidak memahami probabilitas.

Ketiga, mereka tidak tahu kapan harus berhenti berjudi. Keempat, mereka berjudi berdasarkan rasa nekad (gut feel) atau emosi.

Akibat dari casino mentality di antara trader saham, harga saham naik turun secara dramatis tanpa alasan yang jelas. Ambil contoh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham emiten produsen batubara "sejuta umat" ini benar-benar "tidak ada matinya".

Setelah sempat tidur panjang di harga Rp 50 sejak 2015, saham ini mendadak mendusin pada pertengahan 2016. Harganya mulai melonjak pada Oktober 2016, dan sebulan kemudian sudah mencapai Rp 300. Hingga titik ini, masih ada penjelasan yang cukUp rasional. Saham BUMI naik tinggi karena harga batubara melonjak dan keberhasilan restrukturisasi utangnya.

Namun ketika harga batubara mulai turun, harga saham BUMI justru makin melesat. Akhir Januari, harga saham BUMI menyentuh Rp 505 per saham. Padahal sedang tidak ada sentimen fundamental yang kuat, sehingga kenaikan tersebut lebih karena tindakan spekulasi yang masif.

Tanggal 21 Februari 2017, harga saham BUMI longsor tinggal Rp 294. Keesokan harinya naik lagi menjadi Rp 368.

Jika kita analisis pergerakan harga saham BUMI secara intraday (transaksi dalam satu hari), terlihat jelas betapa dramatisnya ayunan gerak harga BUMI dalam hitungan jam. Ini mengindikasikan betapa spekulatifnya para trader harian.

Ambil contoh, pada 21 Februari, saham BUMI dibuka pada harga Rp 370, sempat melonjak harga tertinggi Rp 396, sebelum akhirnya ditutUp pada harga Rp 294. Range harga tertinggi dan terendah Rp 102 atau 28% dari harga pembukaan. Selang sehari, saham BUMI ditutUp pada harga Rp 368 atau naik 25%.

Yang perlu dicatat, aksi spekulatif trader saham harian cukup masif. Hal ini terbaca dari jumlah dan nilai transaksi harian. Ambil contoh, perdagangan saham BUMI di hari tersebut mencatat rekor 2,7 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 900 miliar! Jika rata-rata transaksi harian saham di Bursa Efek Indonesia adalah Rp 7 triliun, transaksi saham BUMI tersebut adalah 13% dari total nilai transaksi harian.

Padahal BUMI hanya salah satu saham yang sedang dijadikan objek spekulasi masif. Masih ada misalnya saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Pada 21 Februari, range pergerakan harga saham DEWA adalah 34%! Keesokan harinya, range harga kembali mencapai 35%. Transaksi saham DEWA pada hari tersebut tercatat 3 miliar saham dengan nilai sekitar Rp 180 miliar.

Sikap para trader saham yang cenderung menganggap bursa saham seperti kasino seharusnya menjadi perhatian otoritas bursa. Jika dibiarkan dan jumlahnya makin bertambah, risiko (ketidakpastian) investasi saham semakin tinggi karena volatilitas harga saham semakin meningkat.

Padahal dari survei diketahui bahwa roller coaster harga saham merUpakan penyebab utama masyarakat tidak bersedia membeli saham. Makin sulit bagi pihak Otoritas Jasa Keuangan maUpun BEI untuk mempromosikan saham sebagai alternatif investasi jangka panjang (misalnya lewat program "Yuk Nabung Saham").

Memang tidak mungkin untuk melarang para trader berperilaku seperti penjudi di kasino. Namun perilaku ini bisa dibatasi dengan mempersempit rentang harga yang bisa diperdagangkan. Saat ini peraturan auto rejection BEI mengatur rentang harga saham Rp 50-Rp 200 bisa naik dan turun hingga lebih dari 35% dalam sehari. Saham-saham di rentang harga rendah ini yang justru rentan untuk menjadi objek spekulasi.

Tancep kayon, relakah kita jika ada yang mengatakan bursa saham adalah kasino?


Close [X]