Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Model Valuasi Ekuitas dan Akurasinya

Model Valuasi Ekuitas dan Akurasinya
Pengamat Pasar Modal dan Staf Pengajar FEB-UI

Analis adalah profesi penting di pasar modal lantaran menyediakan prediksi target harga dan rekomendasi saham melalui laporan riset. Tersedia berbagai model valuasi yang bisa digunakan dan dapat dikelompokkan berdasarkan variabel akuntansi yang dipakai, nilai yang dihasilkan (absolut versus relatif), periode valuasi (tunggal versus multipel), dan perspektif pemegang saham (mayoritas atau minoritas).

Untuk klasifikasi perspektif akuntansi, ada tiga variabel akuntansi yang paling sering digunakan dalam valuasi. Yakni, laba bersih seperti dalam price earnings ratio (PER), arus kas semisal dalam metode arus kas didiskontokan (DCF), serta nilai buku seperti dalam price to book value (PBV).

Ada juga model yang menggabungkan laba bersih dan nilai buku yaitu model valuasi residual income (RIVM). Berdasarkan perspektif tersebut, model valuasi yang menggunakan laba bersih atau nilai buku diklasifikasikan sebagai model berbasis akrual. Sedang yang menggunakan arus kas sebagai model berbasis arus kas.

Untuk klasifikasi berdasarkan nilai, kita mengenal model nilai absolut seperti metode DCF dan discounted dividend model (DDM). Lalu, yang menghasilkan nilai relatif, seperti PER, PBV, model the Fed, model Yardeni, dan Tobins.

Dilihat dari periodenya, kita mengenal model valuasi memakai periode tunggal seperti PER dan multipel periode semisal DCF dan DDM. Terakhir, ada model yang pas untuk pemegang saham mayoritas seperti DCF, dan DDM cocok untuk pemegang saham minoritas.

Model berbasis akrual mempunyai keunggulan lebih relevan dibanding model berbasis arus kas. Namun, model berbasis arus kas lebih bisa diandalkan karena model berbasis akrual sarat dengan estimasi, asumsi, dan judgment. Termasuk dalam model berbasis akrual adalah PER, PBV, PEG (PER to growth), enterprise value model (EVM), RIVM, dan price to pre-provision operating profit (P/PPOP).

Sementara model berbasis arus kas meliputi DCF, DDM, dan price to cash flow (PCF). Arus kas sendiri bisa berUpa arus kas operasi, arus kas bebas untuk perusahaan, serta arus kas bebas untuk ekuitas.

Mengetahui banyaknya model valuasi ekuitas yang bisa digunakan dan klasifikasi berdasarkan perspektif akuntansi di atas, seorang mahasiswa S1 saya di FEB UI melakukan penelitian untuk skripsinya dengan judul: Analisis Model Valuasi Ekuitas dan Ketepatan Target Harganya. Intinya, dia ingin mengetahui model valuasi yang paling sering disebutkan di laporan riset para analis. Mana pula yang paling utama digunakan untuk memperoleh target harga, paling tinggi akurasinya, dan apakah penggabungan model berbasis akrual dengan model berbasis arus kas mampu meningkatkan ketepatan prediksi harga.

Untuk tujuan di atas, dia mengambil sampel 99 laporan riset analis dari 13 perusahaan sekuritas terkemuka selama Januari-September 2014, meliputi 44 dari 45 saham dalam LQ-45 dari semua industri.

Kriteria akurasi target harga dilihat dari isi rekomendasi. Untuk rekomendasi Beli (61 dari 99 laporan atau 61,6%), target harga dikatakan tercapai jika harga tertinggi saham 12 bulan berada di atas atau sama dengan target harganya.

Rekomendasi Jual (lima laporan atau 5,1%), target harga dipenuhi jika harga terendah di pasar selama 12 bulan di bawah atau sama dengan target yang diberikan. Terakhir, untuk rekomendasi Tahan (33 laporan atau 33,3%), target harga analis dikatakan akurat jika harga tertinggi 12 bulan berada dalam kisaran +5%.

Ketepatan dengan toleransi kesalahan 0% di atas kemudian dilonggarkan dengan toleransi kesalahan 1%, 5%, dan 10%. Maksudnya, untuk rekomendasi Beli (Jual) dengan tingkat kesalahan 5%, misalnya, harga tertinggi (terendah) di pasar boleh kurang (di atas) 5% dari target harga yang dituliskan.

Ternyata, model valuasi yang paling banyak disebutkan laporan riset analis adalah model berbasis akrual dengan tiga model utamanya yaitu PER (97 kali), PBV (87 kali), dan EVM (73 kali). Tiga model berbasis akrual lain yang juga disebutkan digunakan adalah P/PPOP sebanyak 5 kali tapi hanya dalam industri keuangan, PEG (2 kali) untuk sektor ritel, dan barang konsumsi, dan RIVM (2 kali) di sektor konstruksi.

Model valuasi berbasis arus kas disebutkan sebanyak 55 kali yaitu DCF (46 kali), DDM (8 kali), dan PCF satu kali. Di luar dua kelompok utama di atas, masih disebutkan model lain yakni net asset value (NAV) sebanyak 15 kali: 14 kali di industri properti dan satu kali di sektor konstruksi, dan model ROEg/COEg (return on equity per cost of equity adjusted by growth) lima kali, semuanya di industri keuangan.

Ditinjau dari model valuasi untuk menghasilkan target harga, secara keseluruhan model berbasis akrual juga masih mengungguli model berbasis arus kas yaitu 62 kali berbanding 52 kali. Jika dilihat model valuasi secara individu, model DCF muncul sebagai model yang paling dominan untuk memperoleh target harga yakni sebanyak 46 kali dari 99 laporan. Setiap kali model DCF disebutkan dalam laporan, dia pun akan menjadi model dominan untuk menghasilkan target harga.

Untuk akurasi, model berbasis akrual tepat dalam 46,8% dan model berbasis arus kas sedikit lebih baik yaitu 50%. Akurasi target harga yang sekitar separuh ini sangat mungkin karena kondisi bearish pasar saham kita yang turun 12,1% sepanjang tahun 2015.

Jika toleransi kesalahan dilonggarkan menjadi 5%, model berbasis arus kas masih tetap lebih baik yaitu 59,6% tepat berbanding 50% dari model berbasis akrual. Namun, tingkat ketepatan menjadi relatif sama untuk toleransi kesalahan 10% yaitu 75% untuk model berbasis arus kas dan 75,8% untuk yang berbasis akrual.

Hasil terakhir dari penelitian ini, penggabungan dua model utama tidak meningkatkan ketepatan target harga pada tingkat toleransi kesalahan 0%-5%. Penggabungan dua model utama hanya meningkatkan akurasi secara signifikan jika toleransi kesalahannya dilonggarkan hingga 10%.