Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Thailand Company

Thailand Company
Pengamat Asia Tenggara

SALAH satu pemandangan yang menyita perhatian saya selama perjalanan saya dari bandara Soekarno Hatta adalah iklan besar-besaran Siam Cement Group (SCG). Ini adalah perusahaan semen terbesar di Thailand yang dimiliki Crown Property Bureau, perusahaan yang punya hubungan langsung dengan keluarga kerajaan. Hewan gajah yang merupakan simbol perusahaan tersebut, yang juga simbol dari bangsa Thailand, benar-benar digambarkan menonjol keluar dalam papan iklan SCG.
 
Siam Cement Group memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 13,97 miliar. Perusahaan ini meraih keuntungan hingga US$ 864 juta pada tahun 2011 lalu dan cukup aktif di Indonesia belakangan ini.

Pada bulan September tahun 2011, SCG membeli 30% saham Chandra Asri Petrochemical (CAP) senilai US$ 422 juta. Dan, pada tahun yang sama, SCG juga telah mengakuisisi 93,5% saham PT Keramika Indonesia Tbk  serta 99% PT Kokoh Inti Arebama Tbk, dengan angka yang tidak diumumkan.

Pada bulan Februari 2012, SCG juga mengakuisisi perusahaan konstruksi bahan material yang merupakan anak perusahaan dari Australia's Boral Group senilai US$ 135 juta. Ini menggambarkan besarnya keyakinan akan boomingnya sektor konstruksi di Indonesia.
 
Bagi saya, aktivitas SCG di Indonesia ini merepresentasikan sesuatu yang lebih luas, sebuah tren penting. Yakni kecenderungan perusahaan-perusahaan Thailand untuk menjelajah ke luar negeri.
Setelah mencapai puncak di dalam negeri, perusahaan-perusahaan ini saat ini mulai melebarkan sayapnya ke Asia Tenggara. Mereka mencari bisnis baru, dengan hasil yang lebih baik.
 
Seperti yang disampaikan Kan Trakulhoon, President and Chief Executive Officer (CEO) SCG ke pers Maret 2012 lalu, SCG berencana melakukan investasi sebesar US$ 5 miliar di ASEAN dalam lima tahun ke depan. Ini termasuk US$ 1,3 miliar - US$ 1,5 miliar di tahun ini.
 
Contoh lain adalah pertempuran yang masih berlangsung untuk mengontrol produsen minuman, Fraser & Neave (F&N). Juara Thailand ini merupakan produsen dan distributor terbesar Thai Beverage Plc (ThaiBev) yang dimiliki oleh konglomerat Charoen Sirivadhanabhakdi. Charoen yang sudah memiliki saham 34 % di F&N sedang mencari konglomerat pengendali dengan tawaran harga US$ 7,2  miliar,  melawan tawaran saingannya senilai US$ 10,6 miliar dari perusahaan Singapura, Overseas Union Enterprises (OUE).
 
Persaingan antara konglomerat ini menjadi salah satu hal yang paling menarik akhir-akhir ini. ThaiBev memiliki kapitalisasi pasar senilai US$ 8,1 miliar dan mendistribusikan produknya ke Amerika Serikat, Inggris, dan Australia melalui anak perusahaan International Beverage Holdings Limited (IBHL). Salah satu produknya yang paling terkenal adalah Chang Beer. Taipan Thailand yang lain, Dhanin Chearavanont, pemilik Charoen Pokphand Group, pada Desember 2012 membeli 15,5% saham Ping An Insurance China sebesar US$ 9,39 miliar dari HSBC. Ping An merupakan perusahaan asuransi kedua terbesar di China di kelas premium.
 
Perusahaan tambang batubara Thailand,  Banpu Plc memiliki enam tambang batubara di Kalimantan Timur--Indominco, Jorong, Kitadin-Embalut, Kitadin-Tandung Mayang, Trubaindo dan Bharinto melalui lokal unitnya PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Banpu juga memiliki ketertarikan  di Gaohe dan Hebi, perusahaan tambang batu bara di China serta tiga pembangkit listrik tenaga batu bara di sana.

BUMN Thailand, PTT Exploration & Production Plc (PTTEP) juga telah ekspansi ke luar negeri secara agresif. Pada November 2010, PTTEP membeli 40% saham Statoil ASA, oil sands project di Kanada senilai US$ 2,28 miliar.
 
Pada bulan Agustus 2012 lalu, PTTEP membuat tawaran sebesar US$ 959 juta untuk membeli sisa 55% perusahaan tambang Singapura,  Sakari Resources, yang sudah mereka memiliki 45%.

Secara signifikan, pada Juli 2012 PTT mengalahkan raksasa minyak Shell untuk membeli perusahaan yang listing di Inggris, Cove Energy sebesar US$ 1,9 miliar. Aset utama Cove adalah saham 8,5% di lapangan gas besar di Rovuma 1 yang terletak di Mozambik. Ini merupakan kemenangan terbesar bagi PTT, di mana Presiden dan CEO-nya Pailin Chuchottaworn sudah saya tulis di Kontan tahun ini (KONTAN, 7 Juni 2012).

Sebelumnnya lagi, pada 2010, produsen produk-produk ikan Thailand, Union Group mengakuisisi perusahaan Prancis MWBrands sebesar US$ 833 juta. Hal ini tidak hanya memberikan Thai Union kontrol terhadap MWBrands yang memiliki produk terkenal seperti tuna John West, tetapi juga memberikan jaringan distribusi di 38 negara secara global.
 
Perusahaan-perusahaan Indonesia dapat belajar dari satu atau dua rekan-rekan di Thailand. Korporasi Thailand yang melakukan akuisisi di luar negeri sering melawan rival utamanya dengan sedikit dukungan dari pemerintah mereka.
 
Memang, yang menguatkan mereka adalah visi dan kepemimpinan yang kuat. Sudah barang tentu, ini juga dibarengi dengan kondisi keuangan mereka yang kuat.
 
Tidak ada alasan mengapa perusahaan-perusahaan Indonesia tidak bisa melakukan hal yang sama. Saat ini, mereka harus bertanya pada diri mereka sendiri: Apa yang menghambat rencana bisnis mereka sendiri?