Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Belilah pengalaman, bukan branded goods

Belilah pengalaman, bukan branded goods
Pengamat Pasar Modal dan Staf Pengajar FEB-UI

Dulu saya suka sekali pepatah lama yang mengatakan, Pengalaman adalah guru terbaik. Dengan berjalannya waktu dan banyak membaca, saya melihat pepatah ini punya kelemahan. Kita sering harus membayar sangat mahal untuk beberapa pengalaman. Ini persis seperti dikatakan penulis Minna Antrim, Experience is the best teacher, but she sends us terrific bills.

Ada beberapa kesalahan yang berbiaya besar sehingga kita harus berusaha agar tidak mengalaminya meski hanya sekali. Pengalaman berharga mahal itu di antaranya adalah tidak naik kelas, putus kuliah, tersangkut tindak pidana dan kecanduan narkotika. Dalam dunia investasi, kesalahan fatal itu adalah menaruh dana yang kita miliki di produk investasi gadungan atau terjebak dalam skema Ponzi.

Seseorang yang tidak naik kelas harus rugi satu tahun dibandingkan teman-teman seusianya. Hitunglah berapa banyak biaya sekolah, waktu, dan tenaga yang terbuang percuma. Mahasiswa yang putus kuliah dan tidak mau meneruskan studinya juga membuang beberapa tahun dari hidUpnya sia-sia tanpa hasil yang tadinya dicita-citakan.

Saya punya beberapa kawan kuliah yang di-DO dari kampus dan patah semangat. Mereka pun hanya bisa bekerja sebagai karyawan biasa atau staf nonmanajerial, sementara kawan-kawan kuliah saya yang sukses banyak yang menjadi Direktur Keuangan, Direktur Utama, hingga Menteri Keuangan, di saat usianya masih muda.

Yang menimbulkan paling banyak kerugian dan penyesalan tentunya orang-orang yang kecanduan narkoba atau yang melakukan tindakan pidana. Sebagian kehidUpan orang-orang ini akan hilang percuma. Masa depan pun langsung menjadi suram. Bukan saja sulit mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang layak, uang dan aset yang ada bisa habis.

Untuk soal keuangan, jika Anda kurang cerdas dan sekaligus serakah, Anda dapat saja kehilangan dana hasil jerih-payah bekerja seumur hidUp, karena tergoda investasi bodong yang tidak masuk akal.

Karena itu, saya kemudian mengganti pepatah di atas dengan pepatah baru, Pengalaman orang lain adalah guru terbaik. Dalam pandangan saya, orang pintar akan belajar dari pengalaman sendiri, tetapi yang lebih pintar akan berusaha untuk belajar dari pengalaman orang lain terlebih dahulu. Caranya: banyak membaca, bergaul dan menonton.

Meski demikian, saya juga memperhatikan banyak pengalaman dalam hidUp ini tidak bisa diperoleh hanya dari membaca, menonton, atau mendengar dari orang lain. Membaca puluhan buku dan majalah tentang eksotisnya pulau Bali tidak akan sama dengan berada di pulau dewata ini selama 3-4 hari. Menonton ratusan film Amerika tidak pernah dapat menyamai pengalaman tinggal selama 1-2 minggu di negara adidaya ini. Belasan tahun belajar bahasa Inggris di Indonesia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hidUp dan bersekolah atau bekerja selama setahun di negara berbahasa Inggris.

Karena bukan berasal dari keluarga berada, saya baru bisa pergi ke Bali saat berusia 15 tahun. Itu pun dengan naik bus dan dibayari seorang kawan dekat saya untuk menemaninya. Terbang naik pesawat baru saya rasakan saat saya dikirim UI ke Temple University, Amerika, untuk studi lanjut sebagai asisten dosen hanya beberapa bulan setelah lulus kuliah. Saya yang belum pernah ke luar negeri atau naik pesawat, saat itu harus terbang selama 23-24 jam, di luar waktu transit. Saya mabuk sepanjang perjalanan. Namun, sejak saat itu saya menyimpan mimpi untuk melihat dunia, dengan mengunjungi negara lain sebanyak mungkin.

Saya berkesempatan kembali ke negeri impian banyak orang ini di 2009, 2013 dan 2016 untuk menghadiri konferensi ilmiah dan undangan pertemuan tahunan analis keuangan di sana. Tidak hanya Amerika, saya juga beruntung mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia pada 1997-1998, untuk studi master dalam ilmu keuangan di salah satu universitas terbaik mereka, yaitu UNSW di Sydney.

Selain urusan studi lanjut, presentasi, dan memenuhi undangan di atas, saya tentunya harus merogoh kocek sendiri untuk membeli pengalaman pergi ke puluhan negara di lima benua. Sangat sering istri dan anak saya juga ikut untuk menambah pengalaman mereka, jika tujuan bepergian memang untuk berlibur.

Berbeda dengan banyak orang yang suka mengoleksi mobil bagus, barang-barang impor branded, perhiasan mewah, dan bersantap di restoran mahal, saya tidak tertarik karena itu bukan obsesi saya. Di mata saya, harga barang-barang itu sering tidak sesuai dengan nilainya.

Tidak seperti sebagian orang yang mementingkan gengsi, saya jauh lebih puas dan rela membelanjakan uang saya untuk melihat hampir seluruh provinsi di Indonesia dan indahnya dunia dengan menginap di hotel minimal bintang tiga.

Saat menuliskan artikel ini, saya sekeluarga masih menjelajahi pulau selatan dan pulau utara di Selandia Baru selama 10 hari, dengan menyetir sendiri sepanjang 3.000 km dan mengunjungi Christchurch, Franz Josef, Queenstown, Milford Sound, Te Anau, Dunedin, Matamata, Waimoto, Rotorua, dan Auckland.

Untuk mengenalkan dunia kampus di luar negeri ke putri saya, tidak lUpa kami juga mendatangi beberapa universitas di sana. Di antaranya adalah University of Otago di Dunedin, University of Canterbury di Christchurch, Auckland University serta Auckland University of Technology (AUT).

Buat kami, bepergian dan mendapatkan pengalaman unik dari tempat-tempat baru memberi nilai yang lebih tinggi daripada harga yang kita bayarkan, atau bahasa kerennya value for money. Kita akan terus ingat kenangan itu seumur hidUp.