: WIB    —   
indikator  I  

Organizational agility

Organizational agility
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Kita semua tentunya bersepakat bahwa dinamika bisnis dan sosial kemasyarakatan yang terjadi pada abad 21, praktis telah menghapus kosakata normal dalam kehidupan keseharian. Persoalan yang begitu kompleks, peristiwa yang muncul tak terduga, serta kondisi yang berubah dengan cepatnya, adalah keseharian yang kita alami.

Apalagi dalam konteks dunia usaha. Hari ini produk dan layanan kita disambut oleh pelanggan dengan antusias, namun tak lama kemudian, mereka bisa mengeluh hingga mengumpat. Tahun ini, angka keuntungan perusahaan tampak begitu kinclong, namun tak lama berselang, bisa saja kinerja keuangan terseret ke lembah kerugian.

Jauh hari sebelumnya, guru manajemen Ram Charan, dalam artikelnya berjudul My (Recovery) Playbook (Fortune, Agustus 2009), telah mengingatkan kita akan perkara ini. Katanya, adalah keliru besar jika ada pelaku bisnis yang bertanya, when wil the business climate improve?. Forget about waiting for normal to return. This is the new normal. Ringkas cerita, kondisi yang berubah-ubah ataupun situasi tak normal adalah sebuah normalitas baru.

Tak dapat disangkal, kondisi yang berubah-ubah seperti ini akan menyulitkan operasi bisnis secara jangka panjang. Kita tak dapat membuat rencana kerja yang benar-benar terukur, karena banyak variabel perencanaan yang di luar rentang kendali. Demikian pula, kita tak pernah sepenuhnya sanggup melakukan proses eksekusi secara tajam dan efisien, karena seringkali muncul hal-hal tak terduga di tengah jalan. Semuanya menjadi serba tak jelas, tak yakin dan tak menentu.

Walaupun berada dalam situasi ketidakpastian, sikap menunggu tetaplah sebuah pilihan yang buruk.

Mengapa? Karena, menurut Charan, normalitas yang mengandung kepastian, keyakinan dan kejelasan, memang tak pernah akan datang lagi. Lagi pula, sikap menunggu juga akan membuat kepercayaan diri organisasi semakin lemah, karena merasa tak mampu melakukan apa-apa di tengah dinamika kompetisi yang lalu-lalang di hadapan mata.

Terinspirasi dari konsep evolusi Darwin, Leon Megginson, guru-besar manajemen dari Lousiana State University, pernah berkata its not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most adaptable to change. Kemampuan adaptasi lah (bukannya faktor kekuatan fisik ataupun kecerdasan intelektual) yang membuat sebuah entitas akan bertahan hidup. Entitas itu bisa berupa individu, organisasi, komunitas, masyarakat dan bahkan juga bangsa.

Perlu bergerak dinamis

Semakin cepat dan baik daya adaptasinya, semakin besar dan terbuka pula peluang bertahan hidupnya. Bahkan, bukan hanya bertahan hidup, namun juga bertumbuh secara mantap.

Kemampuan organisasi untuk bergerak dinamis mengikuti irama perubahan sekaligus juga menyiasatinya, dengan tetap menunjukkan pertumbuhan organisasi yang mantap, saat ini disebut pula sebagai organizational agility.

Kajian-kajian mutakhir menunjukkan organizational agility sebagai salah satu syarat bagi organisasi modern yang ingin bergerak maju dan berkesinambungan. Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi saat ini, memang masih banyak perusahaan yang mampu mendongkrak pertumbuhan usaha secara jangka pendek, akan tetapi sanggup untuk menjaga pertumbuhan tersebut secara jangka panjang.

Ketiadaan agility membuat perusahaan gagap menghadapi dinamika perubahan yang muncul secara tiba-tiba, dan akibatnya gagal untuk mengayunkan langkah bisnis yang jelas dan terarah ke masa depan. Tidaklah mengherankan, bila rata-rata usia perusahaan pada masa kini menjadi relatif lebih pendek dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Sebuah studi menunjukkan bahwa 80% dari perusahaan Fortune-500 dan S&P-500 yang eksis sebelum tahun 1980, ternyata saat ini sudah tidak ada lagi. Lebih jauh, diperkirakan pula bahwa 17% lainnya juga sudah akan meninggalkan panggung bisnis dalam lima tahun ke depan.

Banyak perusahaan yang bisa start-up (memulai), namun gagal untuk scale-up (membesar) secara mantap. Seperti halnya lomba lari, banyak yang terlatih untuk berkompetisi dalam kategori sprint, namun tak mampu bertahan dan memenangkan kategori maraton.

Beberapa studi menunjukkan bahwa menjadi organisasi yang agile bukanlah perkara gampang. Banyak rancangan organisasi (meliputi rancangan struktur organisasi, budaya perusahaan dan sistem kerja) yang tak dipersiapkan untuk menangani dinamika ketidakpastian lingkungan dan ekosistem bisnis.

Banyak rancangan organisasi yang dipersiapkan dengan pola pikir linier, yakni seolah-olah semuanya serba matematis dan dapat dikalkulasikan secara eksak. Padahal, kondisi saat ini bergerak begitu dinamis, terkadang bahkan liar dan tak jelas arah. Ibarat bermain silat, kini tak cukup lagi sekadar menguasai berbagai jurus untuk memenangkan pertarungan.

Kelincahan kita dalam bergerak, entah memukul maju, menangkis mundur dan mengelak ke samping, juga sama pentingnya. Kata guru saya, kalau kita lincah bergerak, kita tak akan mati gaya menghadapi jurus lawan yang tak terduga. Kelincahan bergerak itulah inti dari konsepsi bertajuk agility.


Close [X]