Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Ketika Jokowi Bebas dari Status

Ketika Jokowi Bebas dari Status
Pengamat Pasar Modal

Anda nyangkut di saham konstruksi? Saya belum. Setelah beberapa kali mencoba posisi beli (entry position) sejak Desember 2016 lalu dan sebagian besar berujung cut loss, hingga awal minggu ini saya belum ada posisi.

Posisi beberapa kali cut loss ini yang membuat saya belum ambil posisi di saham konstruksi pada pertengahan minggu lalu, ketika saham sektor itu mengakhiri tren turunnya. IHSG yang dalam tren turun, bursa regional yang tak menentu akibat krisis Korea, pasar yang cenderung sepi menjelang long weekend, ditambah harga saham konstruksi sudah naik tinggi dari posisi bottom-nya, membuat saya berkata: enggak dulu, deh, kita lihat awal minggu depan saja. Saya hanya berharap, investor yang sudah banyak nyangkut di saham konstruksi sejak Januari lalu bisa bernafas sedikit lega. Setidaknya, saham sektor ini sudah bangkit, dalam tren naik jangka pendek.

Aneh sebenarnya sektor ini. Pergerakan harganya sejak awal tahun sedikit aneh. Sektor yang merUpakan penggerak utama dari Jokowi Effect ini sebenarnya menyimpan banyak berita positif. Kinerja tahun 2016 bagus sekali. WSKT, WIKA, dan PTPP mencetak laba bersih per saham (earning per share/EPS) jauh di atas ekspektasi.

Hanya ADHI yang kinerjanya sedikit bermasalah karena masalah pendanaan proyek LRT. Pemerintah juga masih mengucurkan proyek infrastruktur kepada emiten BUMN ini. Pencapaian kontrak baru untuk emiten itu meningkat signifikan. Rasanya, kinerja emiten konstruksi tahun ini bakal lebih baik dibanding tahun lalu. Namun, harga saham konstruksi terus turun. Data dan berita positif selama JanuariFebruari malah membuat harganya bergerak turun sejak pertengahan Maret kemarin. Baru, sejak Rabu (12/4) lalu, harga saham konstruksi rebound.

Tekanan pada saham sektor ini bukannya tanpa sebab. Jika dilihat dari alasan klasiknya, saham konstruksi sebenarnya lebih merUpakan saham dengan kapitalisasi menengah. Tak ada satUpun saham konstruksi berada pada 10 Saham Big Caps, dan membuat saham sektor ini dipandang sebelah mata oleh pemodal asing. Dana asing yang mulai mengalir deras sejak Maret kemarin cenderung berkonsentrasi pada saham big caps, belum mulai menyentuh saham berkapitalisasi menengah.

Kondisi tersebut diperparah pernyataan pemerintah yang dilontarkan sekitar Februari yang menyatakan, perusahaan konstruksi harus bersiap melakukan pendanaan sendiri atas proyek miliknya. Ini benar-benar membuat galau dan bingung pelaku pasar. Pasar modal kita yang selalu memandang rights issue sebagai sesuatu yang cenderung negatif, terlihat meninggalkan minatnya pada saham sektor ini. Hasil Tax Amnesty yang biasa-biasa saja membuat pasar makin khawatir pemerintah meninggalkan sektor ini. Mana setelah itu, saham sektor batubara kian bersinar. Harga saham konstruksi kemudian turun tajam.

Cerita mengenai bagaimana sektor yang jadi anak emas dalam Jokowi Effect kemudian menjadi sektor yang ditinggalkan di tahun ini, memang menunjukkan kepercayaan pasar kepada pemerintah cenderung berkurang. Posisi pemerintah, dalam hal ini Jokowi, yang terlihat tak berdaya menghadapi sepak terjang partai pendukung, memanjakan dan menganakemaskan, membuat pasar kecewa. Setelah beberapa kali reshuffle dan ternyata pertumbuhan ekonomi belum bisa beranjak dari 5%, ditambah kasus e-KTP yang menyinggung orang-orang di sekitar Jokowi, Presiden cenderung menggunakan pendekatan azas praduga tak bersalah dibanding pendekatan mundur dulu, klarifikasinya belakangan, membuat reaksi pasar kurang positif. PDIP sebagai partai asal Jokowi, seperti partai kekurangan kader. Orang di sekitar Presiden terlihat "kebal" KPK.

Pilkada DKI

Semua itu masih ditambah Pilkada DKI yang berlangsung panas. Dampak Pilkada DKI terhadap pasar modal kita secara langsung memang tak terlalu besar. Kita tidak dapat pungkiri sebagian besar aktivitas perekonomian Indonesia masih berlangsung di Jakarta. Tapi, pengaruh langsung pergerakan harga saham terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan sebenarnya tidak terlalu besar. Sebab, fokus pertarungan Pilkada DKI yang terhubung dengan pasar modal, tentu saja terlihat hanya berfokus pada sektor properti.

Kedua calon juga memiliki sudut pandang yang berseberangan, terutama pada sektor properti. Pasangan Basuki Tjahaja PurnamaDjarot Saiful Hidayat adalah pasangan yang mendukung reklamasi, sedangkan Anies BaswedanSandiaga Uno berkomitmen menghentikan reklamasi. Isu reklamasi menarik, karena landbank yang dimiliki perusahaan properti go public, saat ini cuma 30.000-35.000 hektare (ha). ItUpun saya tak yakin seluruhnya ada di Jabodetabek. Reklamasi Teluk Jakarta luasnya 5.173 ha. Tambahan sUplai lahan yang siap dikembangkan lebih dari 15%, tentu akan berpengaruh terhadap prospek jangka panjang perusahaan properti. Terutama, karena perusahaan properti go public yang terkait reklamasi Teluk Jakarta hanya ada dua: PJAA milik Pemerintah DKI dan Agung Podomoro Land (APLN), sedangkan sisanya yang 59 emiten adalah perusahaan properti yang memiliki landbank di darat. Bagaimana tidak berpengaruh, terutama saat bisnis properti sedang sepi.

Posisi Presiden Jokowi dalam Pilkada DKI sebenarnya netral. Kalau partai pendukung Jokowi, tentu mendukung salah satu calon. Tapi, Jokowi terlihat sedikit "memaksakan diri" untuk tidak mendukung pasangan tertentu, ketika memajukan prosesi peresmian Masjid Raya Daan Mogot (Masjid Raya Hasyim Asyari). Jokowi tak ingin peresmian masjid itu menjadi "perayaan kemenangan dukungan pemerintah" dari salah satu pasangan calon, terlihat memajukan jadwal peresmian Masjid Raya ketika pucuk pimpinan Jakarta masih di tangan Pelaksana Tugas (Plt). Sikap Jokowi sebagai negarawan ini patut dipuji karena menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah dalam Pilkada DKI.

Pasar sebenarnya sudah bersikap. Rebound pada saham konstruksi sejak pertengahan minggu lalu menunjukkan pasar modal akan beraksi positif, siapapun pemenang Pilkada DKI. Rebound ini sebenarnya memperlihatkan "proses penyanderaan pasar modal terhadap kebijakan Jokowi", sudah mendekati fase akhir.

Setidaknya, kita bisa berharap pasca Pilkada DKI, semua berlangsung normal terutama pada saham sektor konstruksi.

Reaksi pasar tidak bisa disimpulkan dari kenaikan harga saham APLN dan PJAA, karena kecilnya likuiditas saham itu membuat kedua saham tersebut mudah untuk "digoreng". Jika dalam beberapa hari mendatang harga APLN dan PJAA melonjak, itu bukan berarti pasar memilih pendukung reklamasi sebagai pemenang. Pasar hanya menyambut positif, prosesi Pilkada DKI akhirnya sudah berakhir.

Hingar bingar Pilkada DKI 2017 sebentar lagi berakhir. Siapapun pemenangnya, pasar modal sebenarnya tidak peduli. Pengaruh memang ada karena banyaknya saham properti yang melantai di BEI. Namun, pengaruhnya akan kecil lantaran kapitalisasi pasar saham properti relatif kecil dibanding saham-saham penggerak IHSG. Jika IHSG dan harga saham kemudian turun karena kondisi bursa global jelek, ya, jangan disalahkan Pilkada DKI-nya.

Pemodal juga tak perlu bereaksi berlebihan. Kalau ternyata harga saham turun terlalu banyak (harga mengalami dip) karena salah satu pasangan calon sebenarnya sedang "menjual rasa takut agar dirinya terpilih", saya, sih, cenderung melakukan posisi beli. Saya yakin Pilkada DKI akan berlangsung aman. Dan, siapapun juga yang terpilih ialah putra terbaik Indonesia.

Happy trading dan semoga barokah.