: WIB    —   
indikator  I  

Sulitnya menjadi sabar

Sulitnya menjadi sabar
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Dulu, saya pernah bertemu seorang bos yang gampang mendidih. Orangnya begitu temperamental. Ada hal kecil saja yang berjalan tak sesuai keinginannya, mukanya seketika jadi merah, dan dari mulutnya meluncur sejumlah mantra sakti yang pahit didengar. Terkadang, gawai di tangannya bisa melayang. Bahkan, yang agak menyeramkan, laptop di mejanya bisa tersungkur ke lantai akibat dilempar. Orang-orang di sekitarnya hanya bisa diam seribu bahasa, dengan perasaan campur aduk antara takut, tak berdaya, dan sedikit geli menyaksikan tingkah-laku bersumbu pendek itu.

Persis beberapa saat sebelum menulis artikel ini, saya melihat seorang anak (yang saya duga berusia antara 5 tahun6 tahun) jongkok di emperan toko kecil, sambil menundukkan kepala. Belum selesai saya mengamati perilaku si bocah, mendadak ibunya keluar dari dalam toko dan membuang kencang sebuah tas sekolah troli kecil. Wajah sang ibu begitu tegang, dan dari mulutnya keluar bentakan yang super-keras! Orangtua ini tak sanggup menahan amarahnya, karena anaknya merajuk dan enggan berangkat sekolah.

Saya percaya, pembaca juga pasti pernah menyaksikan dan mengalami peristiwa seperti ini. Bahkan, mungkin kita menjadi pelaku alias orang yang menciptakan situasi tersebut. Biasanya kita memberi nama orang-orang seperti ini sebagai sosok yang tak sabar.

Untuk menelusuri lebih seksama, saya mencoba mencari pengertian kata sabar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di kitab tersebut, tertulis dua makna sabar, yakni (1) tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan (2) tenang (tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu).

Apapun makna yang tertera, jelaslah bahwa sifat sabar adalah kualitas diri yang positif. Tak heran semua agama dan ajaran kehidupan begitu mengutamakan sifat sabar. Ada ajaran yang menuturkan bahwa sabar itu sifat ilahi, dan juga ada yang menuliskan kasih itu sabar. Walaupun begitu ditekankan dalam ajaran-ajaran kehidupan, studi juga menunjukkan bahwa kesabaran adalah sebuah kualitas diri yang tak gampang diraih. Begitu sulitnya memiliki sifat itu, saya pernah mendapatkan kiriman gambar meme yang bertuliskan sabar memang susah, karena hadiahnya surga. Coba kalau gampang, paling hadiahnya kipas angin.

Mengapa sabar itu begitu sulit? Seorang rekan psikolog senior dengan lugas menyebutkan alasannya, yakni karena orang punya kecenderungan ingin mengubah dunia, memaksa orang dan situasi sekitarnya untuk mengikuti pikiran dan kehendaknya. Seketika itu juga! Apakah itu mungkin?

Hasrat mengubah

Mari kita simak cerita klasik ini, yang saya kutip dari buku tua, Burung Berkicau (1994), karya Anthony de Mello SJ. Alkisah, Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan selalu berdoa, Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia. Ketika aku telah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi, Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas. Sekarang, ketika aku sudah menjadi tua dan kematian sudah menjelang, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya kini adalah, Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!.

Di akhir cerita, Anthony de Mello menulis selarik pesan, setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri. Pesan ini menyiratkan bahwa alih-alih berpikir untuk memaksa orang lain atau situasi di sekitar (dengan seketika) berubah menyesuaikan diri dengan kehendak kita, lebih baik kita menata diri-sendiri untuk menyiasati keadaan yang ada. Mengapa? Karena, sekali kita terpancing untuk memaksakan kehendak kepada orang lain dan lingkungan di sekitar, seketika itu juga ketidaksabaran akan meledak di kepala.

Di dalam ilmu problem-solving dan negosiasi, kita mengenal istilah pause alias berhenti sejenak. Pause biasanya dilakukan pada saat proses penyelesaian masalah menemui jalan buntu, ataupun pada saat negosiasi belum menemukan kata sepakat. Apa jadinya jika jalan buntu ditabrak begitu saja? Apa jadinya jika ketidaksepakatan dibenturkan terus menerus? Jawabannya sama, yakni ketidaksabaran, yang pada gilirannya akan menurunkan kualitas keputusan yang diambil.

Benarlah kata pepatah bijak: dont try to calm the storm. Just calm yourself, and the storm will pass... Menata diri dengan kesabaran, dan persoalan yang dihadapi kiranya akan berlalu.


Close [X]