: WIB    —   
indikator  I  

Angka dan rasio penting di mata investor

Angka dan rasio penting di mata investor
Pengamat Pasar Modal dan Staf Pengajar FEB-UI

Dalam pandangan investor saham, dari puluhan angka yang ada di pos-pos laporan keuangan, manakah yang terpenting untuk diperhatikan dan dipertimbangkan?

Bagi yang percaya pada analisis fundamental, mereka pasti akan menjawab laba bersih per saham atau earnings per share (EPS). Inilah angka pertama yang sebagian besar investor saham lihat saat membaca laporan keuangan emiten yang dipublikasikan.

Tidak ada yang meragukan lagi jika EPS adalah pos paling menarik perhatian investor. Fundamentalis percaya dua pertiga harga saham dapat dijelaskan dari faktor profitabilitasnya terutama komponen EPS-nya.

EPS yang turun tidak disukai investor. Namun, EPS yang naik tidak selalu berarti bagus. Investor beraliran fundamental biasanya mencari tahu sumber utama kenaikan laba emiten.

Investor akan berusaha menilai kualitas laba yang dilaporkan itu. Jika kenaikan berasal dari penjualan barang dan jasa yang dihasilkan korporasi, kualitas laba dikatakan bagus dan investor akan merespons positif.

Sebaliknya, kualitas laba dikatakan jelek dan investor saham tidak akan banyak bereaksi jika peningkatan EPS disumbangkan dari pos luar biasa seperti divestasi anak perusahaan, laba selisih kurs, atau restrukturisasi pajak. Karena kejadian-kejadian ini tidak berulang, investor umumnya akan mengeluarkan komponen EPS dari pos ini untuk proyeksi ke depan. Intinya, investor lihai tidak akan menerima begitu saja jika EPS melonjak tetapi akan berusaha mencari tahu penyebabnya.

Jika EPS adalah angka terpenting dalam laporan keuangan, bagaimana dengan rasio?

 

Price earnings ratio

Di urutan pertama adalah rasio harga terhadap EPS atau price earnings ratio (PER). Mengingat pentingnya rasio ini, KONTAN menampilkan 10 saham LQ-45 termurah dan termahal berdasarkan rasio ini setiap hari.

Mengabaikan faktor-faktor lain seperti governance, rasio pembayaran dividen, risiko usaha, risiko utang dan tingkat pertumbuhan ke depan, PER yang rendah berarti murah dan PER yang tinggi mahal. Secara matematika, dengan asumsi laba dibagikan semua sebagai dividen alias payout adalah 100%, PER tidak lain adalah periode modal kembali (payback). Logikanya adalah sebagai berikut.

Jika sebuah emiten mempunyai EPS Rp 100 dan PER sebesar 5, maka investor harus membayar Rp 500 (5xRp 100) untuk membeli saham itu.

Jika EPS sebesar Rp 100 ini dibagikan semua, perusahaan tidak akan mempunyai sisa dana hasil usaha untuk melakukan ekspansi. Akibatnya, laba perusahaan di masa mendatang tak akan bertumbuh (g = 0). Karenanya, EPS akan tetap Rp 100 di tahun-tahun berikutnya dan sebesar ini pula dividen yang diterima investor. Investor pun akan meraih lagi modalnya dalam 5 tahun karena membayar Rp 500 dan menerima dividen Rp 100 setiap tahun.

Dalam praktiknya, EPS sering tidak dibagikan semua karena emiten perlu ekspansi dan reinvestasi agar dapat tumbuh positif. Karena faktor g positif ini, investor pun bersedia membeli saham dengan PER tinggi.

Dengan kata lain, investor yang membeli saham dengan PER tinggi sejatinya untuk membayar faktor g itu. Mereka optimistis jika EPS perusahaan akan meningkat belasan hingga puluhan persen ke depannya.

Teori valuasi mengatakan harga wajar sebuah saham adalah PVGO + PV dari EPS. Harga saham menjadi tinggi karena present value of growth opportunity (PVGO) besar meskipun present value dari EPS rendah.

 

Price to book value

Di urutan kedua, kita mengenal rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV). Rasio PBV berguna khususnya untuk valuasi saham dalam industri keuangan seperti bank, lembaga pembiayaan, perusahaan efek dan asuransi mengingat sekitar 90% aset perusahaan ini dalam bentuk kas, surat berharga dan tagihan.

Wajarnya, karena metode akuntansi, sebuah perusahaan yang sehat mempunyai PBV di atas satu. Kian bagus prospek emiten dan disukai investor, makin tinggi PBV sahamnya.

Khusus untuk emiten bank di BEI, semakin besar kapitalisasi pasarnya, semakin tinggi PBV yang bersedia dibayar investor. Contohnya, Bank BCA, BRI, dan Mandiri mempunyai PBV masing-masing 3,8x, 2,1x dan 1,7x. Bandingkan dengan bank beraset sedikit di bawahnya seperti BNI dan BTN yang hanya dihargai 1,2x dari nilai bukunya.

Pelajaran paling menarik dari ketimpangan PBV di industri keuangan adalah cukUp banyak bank yang PBV-nya masih di bawah 1, dua di antaranya adalah bank besar. Sementara tujuh dari 15 emiten industri pembiayaan dan persis separuh emiten asuransi juga bernasib sama yaitu dihargai pasar di bawah nilai bukunya.

Satu dari enam perusahaan asuransi dengan PBV tidak wajar itu bahkan hanya mempunyai PBV 0,15 dengan PER yang juga terlalu rendah yaitu 2,23. Inilah mispricing paling parah yang pernah saya temui. Contoh bagus untuk saham dengan diskon besar yang tetap tidak diminati.

 

Return on equity

Terakhir, untuk rasio terpenting ketiga, banyak analis mengatakan RoE atau return on equity yaitu laba bersih dibagi total ekuitas atau EPS/BV. Rasio ini mencerminkan kemampuan perusahaan mengelola ekuitasnya. Semakin tinggi RoE, semakin baik tentunya. Namun, di mata saya, RoE mengandung dua kelemahan utama.

Pertama, RoE relatif akan tinggi untuk perusahaan berisiko tinggi yaitu yang mempunyai rasio utang besar, contohnya beberapa perusahaan pembiayaan. Kedua, rasio ini sangat tergantung PBV dan PER.

Contohnya, bank dengan PBV tinggi cenderung punya RoE yang tinggi juga. Untuk emiten dengan PBV tertinggi (73,8x) yaitu Unilever, RoE-nya bahkan 136% dengan PER 54,1x.

Dengan manipulasi matematika sederhana, RoE itu sejatinya adalah PBV dibagi PER. Buktinya, (P/BV): (P/EPS) = (P/BV)*(EPS/P) = EPS / BV. Untuk RoE Unilever, 73,8 / 54,1 = 1,36. Inilah contoh bagus saham mahal yang masih begitu disukai oleh pasar.


Close [X]