Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Menjadi pembelajar

Menjadi pembelajar
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Lucius Annaeus Senecca (4 SM 65 M) adalah seorang filsuf Romawi yang saya kagumi. Salah-satu petuahnya yang berbunyi as long as you live, keep learning how to live, saya jadikan pegangan dan tuntunan dalam keseharian hidup saya. Karena saya percaya, hakekat pertumbuhan (growing) manusia hanya bisa diraih lewat proses pembelajaran (learning). Lain tidak.

Dalam konteks organisasi, pembelajaran semakin hari semakin menemukan relevansinya. Lagi-lagi, karena perubahan ekosistem bisnis yang berjalan begitu cepat. Banyaknya industri yang dituntut untuk melakukan konsolidasi, model bisnis baru yang bermunculan, teknologi yang terus berkembang, serta perilaku konsumen yang berubah cepat adalah beberapa kondisi yang menuntut perusahaan untuk melakukan penyesuaian diri. Dan, satu-satunya jalan untuk memiliki kemampuan penyesuaian diri, dan juga kapasitas pertumbuhan, adalah lewat pembelajaran.

Wacana pembelajaran di sini bukanlah melulu dalam konteks aktivitas belajar-mengajar di ruang kelas, yang banyak dihiasi oleh slide ataupun video materi yang menawan. Dalam hal ini, pembelajaran terutama dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan penugasan-penugasan baru, menangkap celah bagi potensi pertumbuhan perusahaan, hingga menggugat pola pikir dan cara kerja yang selama ini mengendap di kepala setiap insan organisasi.

Jelas, ini sebuah proses yang mensyaratkan mentalitas pembelajar bagi setiap insan; mentalitas yang menempatkan diri sebagai orang yang tak tahu banyak, dan oleh karenanya siap untuk menjalani eksperimen dan petualangan baru. Sebuah mentalitas yang tak gampang dimiliki oleh orang, termasuk diri kita sendiri.

Dalam tulisannya berjudul Managing Yourself, Learning to Learn (HBR, March 2016), Erika Andersen memaparkan hasil studi terhadap ribuan profesional dari pelbagai jenis industri. Ada empat atribut yang perlu dimiliki oleh seorang profesional agar menjadi pembelajar organisasi yang berhasil.

Pertama, aspirasi untuk mempelajari sesuatu yang baru. Saat berhadapan dengan sesuatu (proses ataupun cara kerja) yang baru, reaksi awal manusia umumnya adalah menolak. Kita cenderung fokus terhadap hal negatif, yang secara tak sadar memadamkan api aspirasi pembelajaran dalam diri kita.

Beberapa riset membuktikan bahwa mengubah fokus dan sudut pandang - yakni melihat hal baru terutama dari sisi kemanfaatan daripada persoalan - adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan aspirasi pembelajaran kita terhadap hal baru.

Selalu bertanya

Kedua, meningkatkan kesadaran diri (self-awareness). Lazimnya, orang mudah merasa menjadi seorang pekerja, sekaligus juga pembelajar yang baik. Jarang ada orang yang mengakui bahwa usaha pembelajarannya masih jauh di bawah harapan. Bahkan di dunia kampus yang kental dengan nuansa pembelajaran sekalipun, ditemukan fakta yang menarik.

Dalam studi yang dilakukan oleh David Dunning, psikolog di Cornell University, 94% dari profesor-profesor kampus menyimpulkan bahwa mereka telah menyelesaikan tuntutan tugasnya secara di atas rata-rata (above average). Hanya 6% yang melihat dirinya masih perlu banyak belajar untuk menjadi seorang pengajar yang efektif.

Dengan meningkatkan self-awareness, kita akan bisa menilai keinginan dan kemampuan pembelajaran kita secara objektif. Tak gampang terbawa bias subjektif yang merasa diri-sendiri serba hebat dan baik.

Ketiga, menjaga rasa tahu atawa curiosity. John Medina, dalam bukunya berjudul Brain Rules, mengungkapkan bahwa rasa penasaran begitu dalam tertanam dalam pengalaman keseharian seorang anak kecil. Bahkan, beberapa ilmuwan menggambarkannya sebagai dorongan yang instingtif, seperti halnya dorongan rasa lapar, haus ataupun seks pada orang dewasa.

Rasa ingin tahulah yang membuat seorang anak memiliki sikap eksplorasi yang begitu besar, dan memampukan mereka untuk belajar lebih cepat dari orang dewasa pada umumnya. Melatih diri untuk selalu bertanya dan bertanya, bukannya menjawab dan menjawab, adalah salah satu pintu masuk untuk membangun sikap curiostiy bagi pembelajaran orang dewasa.

Terakhir adalah vulnerability atawa kesediaan untuk terlihat rentan, naif, bahkan tak cakap. Seiring dengan perjalanan keberhasilan seseorang, kita menganggap kenaifan, ketidaktahuan, ketidakcakapan dan kegagalan sebagai hal yang tercela. Dan, oleh karena itu, pantang hukumnya untuk mengalami situasi seperti itu. Padahal, hukum alam sudah menabalkan bahwa tak ada manusia sempurna yang hebat dalam segala hal dan cakap dalam segala bidang.

Sama halnya, sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa pembelajaran sejati selalu dimulai dengan ketidaktahuan, yang selanjutnya bergulir mengungkit rasa ingin tahu, dan pada gilirannya menghasilkan ikhtiar pembelajaran. Pembelajar-pembelajar yang hebat memperbolehkan dirinya untuk terlihat naif dan tak cakap, layaknya seorang pemula yang tak tahu apa-apa. Karena dengan membawa sikap seperti itu, mereka akan merasa nyaman dengan setiap kesempatan pembelajaran, kata Erika Andersen.