Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Risiko Perubahan Alokasi Aset

Risiko Perubahan Alokasi Aset
Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, telah dibahas tentang alokasi aset strategis, portfolio rebalancing dan alokasi aset taktis. Ketiganya merupakan bagian dari strategi pengelolaan portofolio jangka panjang dan jangka pendek.

Dengan adanya reksadana, penerapan ketiga hal di atas dalam pengelolaan portofolio investasi akan lebih mudah dilakukan. Penerapan alokasi dan portfolio rebalancing mengakomodasi pendekatan "mekanik dan pasif", di mana perubahan kondisi pasar dan perubahan nilai aset di dalam portofolio investasi yang kemudian merubah komposisi aset dari aset alokasi awalnya, direspons dengan melakukan portfolio rebalancing, alokasi aset akan kembali ke posisi awal.

Penerapan alokasi aset taktis, selain bersifat "mekanik", juga ada unsur "aktif", di mana investor mencoba menganalisa dan memprediksi arah gerakan atau kinerja ke depannya, paska perubahan yang terjadi dari masing-masing aset yang membentuk portofolio.

Perubahan aset dengan cara portfolio rebalancing lebih dimotivasi karena menjaga tingkat risiko investasi dengan membatasi alokasi, khususnya pada instrumen yang berisiko, misalnya saham. Perubahan aset alokasi dengan menerapkan aset alokasi taktis, selain intuk menjaga risiko, juga dimotivasi untuk meningkatkan kinerja investasi.

Penerapan aset alokasi taktis, selain berpotensi meningkatkan kinerja, pada saat bersamaan juga akan meningkatkan risiko yang lebih tinggi daripada penerapan portfolio rebalancing.

Risiko yang mungkin terjadi adalah ketika kondisi pasar yang terjadi tidak sesuai dengan yang diprediksi. Sebagai contoh, jika investor memprediksi pasar saham akan naik dan menerapkan aset alokasi dengan bobot lebih tinggi (overweight) dari aset alokasi strategisnya, lalu ternyata pasar saham turun. Maka yang terjadi adalah kinerja yang lebih buruk dari kinerja seandainya hanya melakukan portfolio rebalancing.

Begitu pula sebaliknya, jika investor memprediksi pasar saham turun dan menerapkan aset alokasi yang lebih rendah (underweight) dari aset alokasi strategisnya, lalu yang terjadi pasar saham justru naik. Maka kinerja yang terjadi akan lebih buruk dari kinerja seandainya hanya melakukan portfolio rebalancing.