: WIB    —   
indikator  I  

Pertumbuhan Ekonomi dari Hong Kong

Pertumbuhan Ekonomi dari Hong Kong
Pengamat Pasar Modal

Ekonomi Indonesia di 2016 tumbuh 5,01%. Bagus, kalau dibandingkan dengan angka perkiraan konsensus ekonom yang sebesar 5%. Tapi, kalau melihat janji Jokowi ketika pilpres 2014 silam yang akan mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke level 7%, angka 5,01% bisa dibilang jauh dari harapan. Dilihat dari rata-rata pertumbuhan ekonomi 10 tahun terakhir yang sebesar 5,8%, angka 5,01% itu hanya memperlihatkan prestasi medioker dari pemerintah.

Apakah saya kecewa? Jelas tidak. Rata-rata pertumbuhan ekonomi 10 tahun terakhir memang sebesar 5,8%. Tapi, ketika Jokowi menerima tongkat estafet kepemimpinan nasional, kondisi ekonomi memang sedang tidak terlalu bagus. Pertumbuhan ekonomi terus turun dan mendekati angka psikologis 5%. Setidaknya, Jokowi mampu menghentikan penurunan laju ekonomi menjadi tidak lebih buruk lagi. Pemerintah mengalokasikan sebesar-besarnya perhatian, dana dan sumber daya untuk membangun infrastruktur. Itu sudah sesuai dengan harapan saya. Tidak ada lagi sumber daya yang dibuang untuk sesuatu yang sebenarnya hanya bersifat jangka pendek dan tidak efisien.

Tapi komunikasi pemerintah di era Jokowi memang buruk dan sudah memakan korban sangat panjang. Dari harga semen, gas, BBM dan masih banyak lagi. Pasar modal juga sebenarnya mulai capek dengan pernyataan-pernyataan buruk yang dikeluarkan pemerintah. Seringkali kebijakannya baik, niatnya baik, tetapi karena pernyataannya (kadang perilakunya), kemudian menjadi buruk.

Yang terbaru soal komunikasi buruk ini adalah pernyataan Jokowi di Hong Kong minggu lalu, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia nomor tiga di dunia. Banyak kalangan yang kemudian menyayangkan ketidaktepatan informasi ini.

Pemerintah ngeles kita memang nomor tiga, tapi di negara-negara anggota G-20. Akan tetapi, dengan track record panjang akan buruknya komunikasi, muncul pertanyaan. Memangnya, kualitas orang-orang yang ada di sekitar Jokowi sekarang seperti apa?

Terutama, kalau melihat data sanggahan dari Jake Van Der Kemp, kolumnis South China Morning Post, yang mengomentari pernyataan Presiden Jokowi dengan membandingkan pertumbuhan 5,02% di Indonesia dengan negara lain. Misal India yang tumbuh 7,5%, Laos sebesar 7,4% hingga Timor-Leste yang tumbuh 5,5% dan Papua Nugini yang tumbuh 5,4.

Mengapa Jokowi membuat pernyataan aneh seperti itu? Saya melihatnya sebagai kelanjutan dari kejadian sebelumnya, isu reshuffle yang muncul pasca Pilkada DKI.

Pernyataan Jake van Der Kemp juga tidak sepenuhnya benar. Tapi, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang jalan di tempat, di tengah perekonomian kawasan yang mulai melonjak, juga membuahkan pertanyaan: ada apa dengan Jokowi? Ada apa dengan Indonesia? Mengapa kita jalan di tempat, sedangkan orang-orang lain yang ada di sekitar kita sudah mulai berlari?

Reshuffle kabinet yang dilakukan Jokowi, tidak sepenuhnya berakibat buruk. Tapi, dalam sebuah reshuffle, harusnya Presiden membuang menteri yang berkinerja buruk dan menggantinya dengan orang lain yang diharapkan berkinerja lebih baik. Munculnya Anies Baswedan, orang yang dibuang Jokowi, sebagai Gubernur DKI, seakan-akan membuat rakyat berkata, Presiden tidak melakukan reshuffle berdasarkan kinerja, tapi hanya sebagai proses politicking. Orang jadi semakin ragu. Apakah pemerintah serius dalam melakukan pembangunan?

Belum terlalu jelek karena pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas level 5%. Akan tetapi, kalau politicking-nya terus kencang seperti sekarang ini, apakah kita bisa yakin bahwa pertumbuhan ekonomi masih bisa bertahan di atas 5% hingga dua tahun mendatang, saat pilpres 2019?

Pertumbuhan ekonomi memerlukan adanya kepercayaan, baik dari pelakunya hingga kepercayaan dunia internasional. Salah satu ukuran kepercayaan ini adalah keberadaan Sri Mul-yani dalam Kabinet Kerja. Saya hanya berharap, jangan sampai Sri Mulyani keluar dari Kabinet Kerja. Keberadaan Sri Mulyani dalam Kabinet Kerja merUpakan jaminan bahwa perekonomian Indonesia akan berada di tangan orang yang profesional hingga akhir pemerintahan Jokowi.

Jadi, sell in May and go away? Apakah kita harus mengambil posisi jual di Mei, kemudian berlibur hingga Agustus? Sepertinya, sih, enggak. Akan tetapi, posisi IHSG yang sedang berada di resistance 5.6905.750, kinerja emiten yang cenderung buruk, adanya kebiasaan yang muncul beberapa tahun terakhir di mana pemodal asing cenderung wait and see (atau bahkan cenderung menjual) jelang Ramadan, membuat kenaikan IHSG dan harga saham menjadi terasa berat. Terlebih lagi, kondisi politik masih juga belum move on dari pilkada DKI. Akan tetapi, hingga akhir minggu lalu, pemodal asing masih tetap keukeuh mengambil posisi net buy.

Pernah mendengar seseorang membuat celaan dengan kata "dari Hong Kong"? Istilah ini melambangkan barang kualitas palsu yang biasanya dibawa orang dari Hong Kong. Saya, kita semua, sebenarnya masih menunggu hal-hal yang terbaik yang bisa datang dari Jokowi. Melihat pernyataan aneh Jokowi minggu lalu, hati saya serasa sedih sebenarnya, melihat bagaimana orang-orang di sekitar Jokowi kemudian menghancurkan hal-hal indah yang bisa diwujudkan oleh Jokowi. Happy trading!


Close [X]