Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Payung Toleransi

Payung Toleransi
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Hari-hari ini, bangsa kita disibukkan dengan urusan keanekaragaman. Dinamika politik yang muncul, bergulir begitu jauh hingga menyentuh filosofi dasar pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Walaupun berbeda dalam hal suku, agama, ras dan golongan, toh dalam semangat Pancasila, para pendahulu kita sudah menegaskan bahwa kita adalah anak-anak yang bertanah air, berbangsa, dan berbangsa satu: Indonesia.

Friksi yang muncul dalam bentuk debat tak sehat, adu demonstrasi hingga ujaran kebencian, membuat Presiden Joko Widodo mengadakan pertemuan dengan para tokoh lintas agama di Istana Merdeka, pada hari Selasa, 16 Mei 2017. Pertemuan yang berlangsung selama satu jam tersebut diakhiri dengan seruan untuk jangan saling menghujat, jangan saling menjelekkan, jangan saling fitnah, jangan saling menolak, jangan saling mendemo. Karena apa? Karena kita bersaudara, kata Presiden.

Keanekaragaman atawa pluralitas adalah kenyataan yang tak terhindarkan, dan oleh karenanya musti diterima sebagai bagian inheren dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dunia bisnis dan organisasi juga mengenal wacana pluralitas. Namun, lebih sering menggunakan istilah diversitas. Pun, banyak organisasi bisnis yang menyadari bahwa diversitas adalah hal yang tak dapat dielak. Alih-alih dielak, justru banyak perusahaan yang dengan sengaja memburu diversitas.

Minimal, ada dua alasan yang membuat organisasi mengejar corak keanekaragaman ini. Pertama, perubahan bisnis saat ini berjalan begitu cepat, bahkan disruptif. Life cycle suatu produk menjadi semakin pendek, peta market share bergerak dinamis, dan bahkan model bisnis juga berubah jumpalitan. Perusahaan ritel, taksi, ataupun hotel konvensional, dulu tak pernah menyangka akan ditantang, atau lebih jauh, digeser oleh perusahaan seperti Amazon.com, Uber ataupun AirBnB.

Kalau sudah demikian, tak ada pilihan lain bagi perusahaan, kecuali melakukan inovasi. Jika inovasi merupakan kunci untuk mempertahankan daya saing perusahaan, maka diversitas adalah pendorong utama lahirnya inovasi. Apabila homogenitas melahirkan corak pemikiran yang berdimensi tunggal (single minded toughts), diversitas justru memicu munculnya mozaik pemikiran yang penuh warna. Inovasi adalah hasil persilangan pemikiran yang kaya warna, bukannya doktrinasi pikiran yang serba sama.

Kedua, arus globalisasi telah membuat dunia menjadi sebuah kampung besar yang nyaris tanpa batas alias global village. Para talenta-talenta muda bisa bebas menjelajah untuk berkiprah di perusahaan manapun, sepanjang dianggapnya mampu menampung cita-cita dan mimpi mereka. Dan, itu tak terbatas di dalam negaranya sendiri, namun juga bisa melintasi batas negara, bahkan menyeberangi benua.

Pluralitas ambigous

Makanya, tidaklah mengherankan, jika banyak perusahaan (utamanya multi national corporation) membuka diri lebar-lebar untuk menampung para profesional muda berbakat yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Lewat iming-iming pengembangan karier dan penghasilan yang menjulang, para best talent diundang untuk bekerja dan menjadi bagian dari organisasi mereka.

Apapun namanya, entah itu pluralitas atawa diversitas, keanekaragaman sesungguhnya adalah sebuah fakta-keras kehidupan. Bukan hanya di Indonesia, yang kebetulan dianugerahi begitu banyak jenis suku, agama, sub-kultur, dan bahasa daerah, namun juga di pelbagai belahan planet bumi. Pluralitas adalah cerminan kehidupan yang ambigous, yang tak pernah sepenuhnya hitam ataupun putih, benar ataupun keliru, baik ataupun jahat.

Fakta ini juga disebut keanekaragaman, karena di antara warna hitam dan putih, terbentang ragam warna lainnya: merah, kuning, jingga, hijau, biru dsb. Dan, terhadap kenyataan ini, alam sudah memberikan jawaban penyikapannya, yakni toleransi.

Salah satu kamus memberikan definisi toleransi (tolerance) sebagai the capacity for, or practice of allowing or respecting the nature, believes or behaviors of others. Sikap toleransi memampukan kita untuk menerima, bahkan menghargai kebiasaan, kepercayaan dan perilaku sesama kita yang berbeda-beda.

Toleransi memampukan kita untuk hidup damai di tengah situasi yang ambigous, dan seringkali tak ideal menurut pikiran dan keinginan kita sendiri.

Rohaniwan sekaligus penulis hebat, Anthony de Mello SJ, dalam bukunya Wellsprings (1984) mengatakan certainty is the sin of bigots, terrorists and pharisees. Kepastian adalah dosa yang terkandung di dalam pikiran para fanatikus, teroris, dan farisi.

Pribadi yang matang menyadari kenyataan ambiguitas ini, dan oleh karenanya selalu membuka lebar-lebar hati dan pikirannya terhadap perbedaan dan keanekaragaman yang ada. Sebuah peribahasa Tibet berbunyi, Pikiran itu ibarat payung. Akan berfungsi, kalau terbuka.