Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Masa depan pekerjaan

Masa depan pekerjaan
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Beberapa tahun terakhir, muncul diskursus yang ramai diperbincangkan di kalangan organisasi dan bisnis. Orang mulai mempertanyakan “masa depan pekerjaan” alias the future of work.

Konsep dan definisi kata “kerja” sendiri mulai dipertanyakan, bahkan digugat. Misalnya, apakah kerja adalah sebuah aktivitas yang harus dilakukan di kantor, pabrik atau lokasi yang umumnya disebut sebagai tempat kerja? Bagaimana kalau aktivitas itu dilakukan di rumah, warung kopi atau tempat tetirah?

Demikian pula, apakah bekerja harus diatur dalam kurun waktu tertentu, yang lazim disebut sebagai “waktu kerja”. Katakanlah, itu jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Bagaimana dengan aktivitas yang dilakukan di luar waktu tersebut? Apakah tetap sahih disebut sebagai “bekerja”?

Sama halnya, apakah kata “rapat” melulu berarti hadir secara fisik, duduk, dan bicara di salah satu ruang kantor? Bagaimana dengan kegiatan diskusi bersama via conference call yang dilakukan di lokasi masing-masing? Apakah masih bisa dikatakan rapat juga?

Perkembangan teknologi telah mengubah banyak hal. Urusan yang dulu harus dikerjakan oleh tangan manusia, sekarang sudah bisa digantikan oleh teknologi robot.

Proses berpikir, yang dulu katanya hanya bisa dilakukan oleh otak manusia, kini juga sudah bisa dikerjakan oleh teknologi bernama artificial intelligence.

Ruang fisik yang dulu menjadi tempat orang berinteraksi dan bekerja bersama-sama, saat ini juga bisa dialihkan ke ruang virtual yang bertebaran di layar komputer ataupun gawai pribadi masing-masing orang.

Perubahan ini membawa dampak yang luar biasa terhadap keseluruhan lanskap bisnis. Dahulu, bisnis dijalankan secara tradisional dan bersifat off-line dengan menggunakan fasilitas fisik yang tersedia, seperti pabrik, toko, gudang, konter, ruangan, dan sebagainya, yang dikenal juga sebagai model bisnis brick and mortar.

Saat ini, orang bisa membuka lapak secara virtual lewat situs-situs komersial yang bertebaran di layar digital, dan proses transaksinya dijalankan secara online.

Model bisnis yang juga disebut sebagai brick and click ini, telah melahirkan perusahaan-perusahaan jawara sekelas Amazon, Alibaba, ataupun Ebay.

Perubahan lanskap bisnis, tak pelak, membuat banyak perusahaan harus menyesuaikan strategi usahanya. Jika tidak, mereka harus siap-siap terlempar dari gelanggang persaingan.

Namun, seperti dikatakan oleh Jeffrey Joerres, mantan CEO Manpower Group, perusahaan raksasa penyedia jasa konsultasi dan alih-daya SDM di Amerika, banyak perusahaan yang memikirkan perubahan strategi bisnis (business strategy), namun tak cakap merumuskan strategi pekerja (workforce strategy). Akibatnya, perusahaan gagap menjalankan operasi bisnisnya secara optimal.