Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Lo Kheng Hong dan Flu Burung

Lo Kheng Hong dan Flu Burung
Financial Expert Universitas Prasetiya Mulya

Bagi kebanyakan orang, flu burung adalah musibah. Ketika wabah flu burung merebak di Indonesia 2005 silam, orang ketakukan makan daging ayam. Prospek bisnis yang berhubungan dengan ayam pun mendadak meredup.

Tapi bagi investor sukses seperti Lo Kheng Hong (LKH), wabah flu burung justru memberi kesempatan untuk meraup keuntungan fantastis, yakni melalui investasi di saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Kisah berikut adalah materi di buku Lo Kheng Hong: Orang Miskin Yang jadi Kaya di Bursa Efek Indonesia yang sedang saya susun.

MBAI adalah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang usaha pembibitan ayam, dengan hasil produk utamanya day old chicks (DOC) alias anak ayam yang baru menetas. Mayoritas saham MBAI (sekitar 73%) dimiliki oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), perusahaan yang berbisnis pakan ternak hingga daging ayam.

LKH tertarik membeli saham MBAI karena merasa harganya sudah sangat murah. Indikatornya adalah price earning ratio-nya kurang dari 1 kali. Mengapa saham MBAI bisa salah harga?

Menurut LKH, saat itu terjadi wabah flu burung, yang menyerang ayam. Masyarakat menghindari mengonsumsi ayam. Akibatnya, penjualan MBAI turun dan investor menghindari saham ini, karena khawatir prospeknya. Akibat dorongan jual yang masif, harga MBAI terkapar. Mengapa LKH berani masuk pada saat mayoritas investor lari tunggang langgang? LKH memberikan mantranya sembari tersenyum. Invest in bad times, sell in good times, and you will get rich, ujar dia.

LKH membeli saham MBAI pada 2005 seharga Rp 250 per saham. Tidak tanggung-tanggung, ia mengoleksi hingga 6,2 juta saham, dengan total nilai investasi Rp 1,55 miliar. Alhasil, LKH memiliki 8,28% saham MBAI dan menjadi pemegang saham terbesar ketiga. Ia menjualnya enam tahun kemudian pada harga Rp 31.500, menikmati keuntungan 12.500%! Atau rata-rata hampir 125% setahun, dalam jangka waktu enam tahun. Total keuntungan dari saham MBAI selama enam tahun adalah Rp 194 miliar.

Bagaimana Lo Kheng Hong menemukan MBAI? Prosesnya mirip ketika LKH menemukan saham UNTR. Diawali dengan indikator PER yang sangat rendah, ia mulai menganalisis fundamental saham tersebut.

Ia menemukan bahwa pada tahun 2005, MBAI memperoleh penjualan Rp 655 miliar, laba usaha Rp 78,3 miliar dan laba bersih Rp 58,5 miliar. Total aset MBAI di akhir 2005 adalah Rp 627 miliar, sedangkan total utangnya Rp 615 miliar. Maka modal ekuitas MBAI saat itu tinggal Rp 12 miliar.

Pada harga Rp 250 per saham, nilai pasar ekuitas bisa dihitung dengan mengalikan Rp 250 dengan jumlah saham beredar (75 juta), hasilnya adalah Rp 18,75 miliar. Artinya, harga pasar saham ini hanya sedikit di atas nilai bukunya (nilai historis).

Mengapa LKH menemukan kesempatan emas ini dan investor lain tidak? Kemungkinan lebih dari 90% investor saham tidak tahu apa yang mereka beli. Mereka seperti membeli kucing dalam karung, ujar LKH.

LKH membayangkan, sebuah perusahaan yang masih bisa menghasilkan laba bersih sebesar Rp 58,5 miliar bagi pemegang saham hanya dihargai Rp 18,75 miliar di pasar! Maka LKH mulai mengoleksi MBAI. Ia membeli saham ini secara bertahap supaya tidak menimbulkan gejolak harga di pasar saham.

Perhitungan LKH ternyata tepat. Setelah kehebohan flu burung berlalu, kinerja MBAI makin moncer (lihat tabel). Penjualannya, misalnya, berlipat ganda selama periode 20062010, alias tumbuh 19% per tahun. Sedangkan laba bersih per saham juga berlipatganda, dari Rp 1.414 di 2006 menjadi Rp 3.416 di 2010, tumbuh 25% per tahun. Tak heran jika harga saham MBAI meroket.

Lantas, mengapa LKH menjual saham MBAI di 2011? Harganya sudah naik terlalu tinggi, sehingga melampaui nilai intrinsiknya, jelas LKH. Selain itu, MBAI merger dengan JPFA. LKH kurang suka aksi merger ini karena saham MBAI ditukar dengan saham JPFA. Menurut LKH, saham JPFA sudah kemahalan.

Jika saat krisis finansial 1998 LKH kaya melalui saham PT United Tractor Tbk (UNTR), maka kasus flu burung membuat LKH menjadi kaya raya. Menurut LKH, jika dibandingkan dengan berinvestasi di saham UNTR, investasi pada saham MBAI mengandung risiko (ketidakpastian) yang lebih besar. Mengapa?

UNTR adalah perusahaan yang jauh lebih besar dan memiliki reputasi tatakelola lebih bagus daripada MBAI. Tapi risiko besar tidak bisa menghambat pendekar saham LKH untuk menaklukkan saham MBAI.