Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Perusahaan dan Investor

Perusahaan dan Investor
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Suatu saat, ada pertanyaan reflektif yang muncul dari mulut seorang pengusaha besar di Indonesia. Bunyinya, mana yang lebih penting antara keluarga dan perusahaan? Pilih salah satu. Ini pertanyaan yang tricky, karena memilih salah satu lebih penting, sama artinya merendahkan derajat kepentingan lainnya. Mungkin banyak di antara kita yang secara spontan akan menjawab keluarga.

Banyak ajaran kebajikan hidup yang selalu menempatkan keluarga (baik orangtua, pasangan hidup dan anak) sebagai pribadi mulia, yang harus kita abdi, bela, dan juga prioritaskan dalam setiap langkah hidup. Dalam pergaulan sehari-hari, kita juga sering mendengar lontaran, kita capek-capek kerja banting tulang, ujung-ujungnya kan juga untuk keluarga!

Namun, atas pertanyaan di atas, sang pengusaha sendiri dengan lugas menjawab perusahaan!. Setahu saya, istri dan anak-anaknya semua tahu akan pilihan beliau. Dan, setahu saya pula, sekalipun memilih perusahaan, beliau tak kehilangan kharisma dan pengakuan sebagai sosok yang bertanggung-jawab terhadap keluarga. Menjelaskan argumentasi atas pilihannya, sang pengusaha hanya menjawab singkat keluarga (pemilik perusahaan) boleh saja hilang berganti, namun perusahaan (yang didirikan dan dimilikinya) tetaplah harus ada... sepanjang dan selama mungkin.

Pilihan sang pengusaha yang cenderung berbeda dengan pikiran mainstream ini seolah menemukan kebenarannya dalam studi yang dilakukan oleh Joseph L. Bower dan Lynn S. Paine, dua profesor dari Harvard Business School. Dalam tulisannya bertajuk The Error at the Heart of Corporate Leadership (HBR, May-June 2017), kedua profesor tersebut mempertanyakan sekaligus menggugat peran (keluarga) pemegang saham yang terlalu besar dan eksesif, yang potensial mendatangkan persoalan dan bencana bagi perusahaan itu sendiri.

Banyak CEO ataupun dewan direksi yang berpegang pada prinsip bahwa tanggungjawab mereka sebagai pimpinan perusahaan adalah mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi pemegang saham. Bahasa kerennya, maximizing shareholder value. Sekalipun, terkadang upaya memaksimalkan kekayaan pemegang saham (shareholders wealth) dilakukan dengan mengorbankan kesehatan perusahaan (companys health).

Pada musim gugur 2014, seorang investor aktif yang sekaligus juga pemegang saham perusahaan farmasi Allergan, Bill Ackman, begitu frustrasi dengan dewan direksi perusahaan tersebut. Bill kecewa dan marah, karena direksinya tak mau mengikuti keinginannya sebagai pemegang saham, yakni diakuisisi oleh Valeant Pharmaceutical, perusahaan yang sangat berorientasi kepada maksimalisasi shareholder value. Alih-alih diakuisisi oleh Valeant, direksi justru bernegosiasi dan akhirnya melepas saham Allergan kepada perusahaan lain, yakni Actavis.

Jadi perusahaan sehat

Tindakan pembangkangan yang dilakukan oleh dewan direksi Allergan, yang saat itu dipimpin oleh CEO David Piyott, justru disebut oleh executive editor Harvard Business Review, Sarah Cliffe, sebagai upaya mempertahankan perusahaan yang baik dari investor yang buruk (defending a good company from bad investors). Piyott menyebutkan bahwa perlawanan terhadap desakan pemegang saham dilakukannya demi keselamatan dan pertumbuhan perusahaan itu sendiri.

Bagi Piyott, Allergan dan Valeant adalah perusahaan dengan model bisnis yang sangat berbeda. Valeant adalah perusahaan yang terbiasa dengan jual-beli aset/ perusahaan dan semata-mata berhitung atas dasar manfaat dan keuntungan bagi pemegang saham, tanpa terlalu peduli kepada kesehatan operasional pabrik yang dimilikinya.

Sementara itu, Allergan adalah perusahaan yang begitu peduli keunggulan operasional (operational excellence) dan mengandalkan pertumbuhan yang bersifat organis (organic growth). Organic growth di sini berarti pembesaran perusahaan dengan cara menumbuhkan dirinya dari dalam, bukan mencaplok sana-sini pihak atau perusahaan luar.

Benar rasanya apa yang dikatakan oleh sang pengusaha, bahwa perusahaan harus didahulukan daripada keluarga (pemegang saham). Sekali didirikan dan dioperasikan, perusahaan sesungguhnya bertanggung-jawab, bukan hanya kepada shareholder atawa pemegang saham, namun kepada keseluruhan stakeholders. Stakeholders itu berupa karyawan, masyarakat, konsumen, pemasok, lingkungan alam, pemerintah, selain tentunya juga pemegang-saham.

Kesamaan orientasi pertumbuhan yang bersifat organis inilah yang membuat direksi Allergan lebih rela menyerahkan dirinya kepada perusahaan Actavis, bukannya Valeant. Terbukti, keputusan mereka waktu itu tepat adanya. Revenue perusahaan bertumbuh signifikan, bahkan merupakan tahun terbaik bagi pencapaian perusahaan sepanjang usianya yang menginjak 62 tahun.

Oleh karenanya, kesehatan perusahaan (companys health) yang mendatangkan manfaat dan kemaslahatan bagi banyak pihak, haruslah didahulukan daripada kesejahteraan segelintir pemegang saham (shareholders wealth). Apalagi, sebagai manusia, pemegang saham juga memiliki naluri untuk serakah dan rakus bagi dirinya.