Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Tata Kelola dan Nilai Saham

Tata Kelola dan Nilai Saham
Financial Expert Universitas Prasetiya Mulya

Blue Bird adalah contoh korporasi yang dibangun dan bertumbuh dengan nilai dan tata kelola yang baik. Ketika Jakarta masih dikuasai taksi berwarna kuning, Blue Bird menawarkan nilai kepercayaan, kenyamanan, dan keamanan. Penumpang si Burung Biru tidak perlu khawatir diajak blusukan di Jakarta dengan argometer kuda. Supir Blue Bird dibekali dengan niat baik dan kejujuran.

Tata kelola perusahaan yang baik ini menjadi keunggulan bersaing (competitive advantage), faktor yang membedakan dengan kompetitornya. Lambat laun burung-burung biru ini berkembang biak menggeser taksi berwarna kuning. Saya sering menggunakan contoh si Burung Biru ini saat berkhotbah tentang manfaat good corporate governance (GCG).

Maka, ketika terjadi demonstrasi panas supir taksi PT Blue Bird Tbk (BIRD) pada Maret lalu di Jakarta, masyarakat Ibu Kota RI yang tingkat kepo-nya tinggi jadi kerepotan. Apalagi, kemudian terjadi tindak kekerasan oleh pelaku demonstrasi. Foto-foto tindak kekerasan beredar cepat bak virus di dunia maya, menuai citra negatif dan kecaman.

Menyadari hal ini, manajemen Blue Bird, sore itu juga mengeluarkan kebijakan naik Blue Bird gratis selama masih di Jakarta dan berlaku seharian setelah hari demonstrasi. Jika kita asumsikan setiap unit taksi Blue Bird menyetor Rp 660.000 per hari dan ada 15.000 unit taksi yang beroperasi pada hari gratisan tersebut, maka dana yang dikeluarkan untuk say sorry with flowers demi menjaga reputasi adalah Rp 10 miliar.

Mari kita belajar hubungan antara Good Corporate Governance (GCG) dan nilai sebuah perusahaan atau saham. Dari sisi keuangan, corporate governance akan berdampak terhadap nilai perusahaan melalui biaya modal perusahaan. Semakin bagus penerapan GCG, maka semakin rendah risiko yang dipersepsi oleh investor. Karena risiko berbanding lurus dengan imbal hasil yang disyaratkan investor (biaya modal), perusahaan yang menerapkan GCG diharapkan bisa memperoleh modal dengan lebih murah.

Dalam model valuasi perusahaan menggunakan metode discounted cash flow, nilai perusahaan adalah hasil bagi ekspektasi seluruh arus kas perusahaan dengan biaya modalnya. Jika angka pembagi mengecil, nilai perusahaan diharapkan meningkat.

Misalnya, ada dua perusahaan (A dan B) yang identik dalam segala aspek. Keduanya memiliki produk yang sama, brand yang sama kuat, saluran distribusi yang sama luas. Bedanya, manajemen A memiliki reputasi buruk dalam hal akuntabilitas, sedangkan manajemen B menjalankan GCG. Apakah Anda akan membayar harga yang sama untuk A dan B? Tentu tidak. Semua investor akan memilih B. Dan akibatnya ialah harga pasar A lebih rendah ketimbang B.

Jadi, corporate governance adalah aspek penting dalam pengambilan keputusan investasi. Survei yang dilakukan McKinsey dengan sampel 201 investor institusi yang mengelola dana hingga total US$ 9 triliun pada 31 negara di 5 benua (McKinsey Global Investor Opinion Survey on Corporate Governance 2002) mengindikasikan beberapa hal menarik.

Ternyata, dua isu terpenting yang memengaruhi keputusan investasi investor institusi adalah keterbukaan informasi akuntansi (accounting disclosure). Serta, perlakuan adil bagi semua pemegang saham (shareholder equality).

Lebih dari 60% responden menganggap isu corporate governance sama penting bahkan lebih penting dibanding isu keuangan, seperti laba dan potensi pertumbuhan perusahaan. Sebagian besar responden menyatakan, akan menghindari atau mengurangi kepemilikan saham di perusahaan yang memiliki corporate governance buruk. Sebagian besar dari mereka bahkan berani membayar premium untuk saham perusahaan yang memiliki corporate governance baik.

Hal lain yang terungkap dari survei tahun 2002 tersebut adalah, 80% investor institusi menyatakan, mereka bersedia membayar lebih mahal (pay premium) untuk saham perusahaan yang memiliki tata kelola yang bagus. Premi yang bersedia dibayar bervariasi, dari 11% untuk perusahaan di Kanada hingga 40% untuk perusahaan di Maroko. Dari survei tampak jelas bahwa GCG sangat bernilai di mata investor global.

Untuk Indonesia, investor bersedia membayar premi hingga 25%. Survei Asian Development Bank tentang Corporate Governance Practices di Indonesia, Korea Selatan dan Thailand (2004) menunjukkan hasil serupa. Untuk perusahaan Indonesia, nilai praktik tata kelola (corporate governance scorecard) memiliki korelasi yang positif dengan kinerja keuangan perusahaan. Semakin GCG baik, maka semakin tinggi nilai sahamnya.

Bukti empiris lain dilaporkan oleh Profesor MacKenzie dari Harvard. Ia menemukan perbedaan imbal hasil antara korporasi besar di AS yang memiliki tata kelola terbaik dan terburuk adalah 8,5% per tahun. Angka ini bahkan mencapai 35% per tahun untuk sampel korporasi besar di Inggris.

Menjadi perusahaan yang baik dan amanah (benar-benar bisa dipercaya) memang tidaklah mudah. Perlu komitmen dari manajemen puncak dan dukungan seluruh karyawan perusahaan serta waktu yang panjang.