Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Makan paling belakangan

Makan paling belakangan
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Simon Sinek, penulis kelahiran Inggris yang saat ini bermukim di Amerika, pernah berdiskusi dengan seorang jenderal Korps Marinir AS tentang kepemimpinan dan pembentuk tim yang solid. Sang jenderal menjawab singkat, bahwa officers eat last atawa para perwira makan paling belakangan.

Ini bukanlah sekadar petuah heroik dari mulut seorang pimpinan, karena Sinek sendiri menyaksikan para marinir muda makan terlebih dahulu, sementara yang lebih senior makan setelahnya di barisan kursi belakang.

Apa yang terjadi di ruang makan sesungguhnya merupakan cerminan dari apa yang terjadi di medan perang.

Seorang pemimpin yang hebat akan mengorbankan kenyamanan, bahkan juga keselamatannya sendiri, demi kemaslahatan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Pengalaman ini memberikan inspirasi kepada Sinek untuk memberi judul salah satu buku karyanya, yakni "Leaders Eat Last, Why Some Teams Pull Together and Others Dont", yang diterbitkan pada awal 2014.

Pesan Sinek di atas mengingatkan saya pada cerita serupa dari salah satu pemimpin sekaligus khalifah besar abad ke-7, Umar bin Khattab.

Keteladanan Umar sangat terlihat, baik semasa perang maupun damai. Ketika peperangan terjadi, Umar yang bertubuh tinggi kekar dan pemberani ini selalu berada di baris terdepan menggenggam pedang.

Namun, saat berhasil memenangkan perang, ia tak mengklaimnya sebagai prestasi dan kehebatan pribadi. Saat masa damai tiba, ia mundur ke belakang dan menjalani pola hidup bersahaja.

Guru saya pernah berujar bahwa seorang pemimpin yang baik harus mampu mengambil keputusan alias decisive. Sekalipun keputusan yang diambil itu salah, tetaplah lebih baik daripada tidak mengambil keputusan sama sekali.

Selanjutnya, setelah menetapkan keputusan, ia pun harus siap menanggung segala risiko akibat dari keputusan yang diambilnya.

Ia harus berada di barisan terdepan untuk membendung segala potensi reaksi yang tak menyenangkan, dan menjadi bumper bagi segenap jajaran di bawahnya.

Orang awam menggunakan istilah pasang badan untuk menjelaskan sikap kesatria pemimpin seperti ini. Secara berkelakar, sang guru menerjemahkan frasa tersebut ke dalam bahasa Inggris dengan kata install body.

Pada kenyataannya, urusan pasang badan tak semudah yang dibayangkan. Untuk mempertahankan kedudukannya, banyak pemimpin berusaha mencari aman dan menghindar dari serangan.

Jika perlu, bahkan dengan mengorbankan orang-orang di sekelilingnya, termasuk juga anak buah sendiri. Padahal, secara hakiki, bukankah seorang pemimpin eksis karena ada yang dipimpin?