: WIB    —   
indikator  I  

Rasa syukur

Rasa syukur
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

 

Belajar positif
Suatu pagi, sang teman memasuki mobil sedan miliknya, sembari bertanya kepada supir pribadinya. “Bagaimana kira-kira cuaca pada hari ini?” Dengan ceria, sang supir menjawab, “Cuaca hari ini adalah yang saya sukai”

Penasaran dengan jawaban tersebut, sang teman bertanya kembali, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin dengan ramalanmu?”

Supirnya pun menjawab, “Begini, Pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai. Dengan demikian, lebih baik saya belajar menyukai apapun yang saya dapatkan.”

Menutup ceritanya, sang teman berkata, “Saya memang memberikan penghasilan kepada supir. Tapi, dia memberikan pembelajaran kebahagiaan pada saya. Bukan lewat kecakapan dan kehebatan diri, namun melalui rasa syukur yang ada dalam hatinya.”

Mungkin terasa klise saat kita mendengar kata “rasa syukur” atawa sense of gratitude. Rasa syukur menghindarkan kita dari sikap saling membandingkan yang menjadi kegemaran alamiah manusia.

Sikap ini pada akhirnya selalu melahirkan kekecewaan, kejengkelan dan negativitas lain, seperti tersirat dalam pepatah tua “rumput tetangga senantiasa lebih hijau daripada rumput sendiri”.

Alkisah, ada cerita menarik tentang dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung bengong sambil bergumam lirih, “Nana, Nana..”. Seorang tamu pengunjung keheranan, dan menanyakan kepada dokter penjaga tentang masalah yang dihadapi pasien tersebut.

Dokter menuturkan bahwa pasien tersebut menjadi gila, setelah cintanya ditolak oleh seorang wanita bernama Nana. Si pengunjung pun mengangguk-anggukkan kepala, bisa memahami apa yang terjadi.

Namun, beberapa saat kemudian, saat melewati sel kamar lain, ia terkejut melihat penghuninya membentur-benturkan kepala ke tembok sambil berteriak keras: “Nana, Nana!!”

Kembali si pengunjung bertanya penuh heran kepada dokter, “Apakah orang ini juga mempunyai masalah dengan wanita bernama Nana?” Dokternya menjawab ringkas, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Nana.”

Jika sikap membandingkan menciptakan banyak negativitas, rasa syukur justru membangkitkan kemampuan belajar secara positif. Kata orang bule, every dark cloud has a silver lining; behind every problem lies an opportunity.

Bersyukur dalam segala situasi yang dialami –juga dalam kondisi yang tak kita sukai– memampukan kita untuk menyambut gembira setiap kesempatan pembelajaran akan hal-hal baru.


Close [X]