: WIB    —   
indikator  I  

Rasa syukur

Rasa syukur
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

“Pikiran itu memang jahat ya?!!” tanya seorang teman yang sedang hidup dalam kegelisahan dan kejengkelan yang luar biasa.

Ia merasa isi pikirannya yang jumud dan dipenuhi “negativitas” telah membuat hidupnya tak sehat, bukan hanya secara jasmani, namun juga rohani.

Perawakannya menjadi kurus, mukanya tirus, layaknya badan yang tak terurus. Rona muka dan isi ceritanya dipenuhi nuansa ketidakbahagiaan. Itulah sebabnya, kalimat: pikiran itu memang jahat terlontar berkali-kali dari mulutnya yang tampak kelu.

Benarkah pikiran itu memang jahat adanya? John Milton, dalam buku klasiknya yang ternama Paradise Lost menyebutkan bahwa the mind is its own place, and in itself... can make a heaven out of hell or a hell out of heaven.

Pikiran manusia tak bersifat jahat, juga tak bersifat baik pula. Pikiran manusia memiliki dunianya sendiri dan kondisi di dalamnya bisa membuat neraka terasa surga, juga sebaliknya surga terasa neraka.

Bila pikiran kita dipenuhi dengan kecemasan dan amarah, makanan senikmat apa pun akan terasa pahit di lidah. Sama halnya, jika pikiran dipenuhi kegembiraan dan rasa syukur, rumah ukuran sepetak pun seolah istana raja.

Yang jelas, banyak studi yang sudah menunjukkan bahwa urusan kebahagiaan hati tak ada hubungannya dengan kekayaan materi dan tumpukan kekuasaan.

Guru Cheng Yen, rahib Buddha pendiri komunitas kemanusiaan Tsu Chi, dalam buku Still Thoughts (2009), mengatakan bahwa semua kelompok mempunyai masalah.

Mereka yang kaya dan berkuasa takut kehilangan apa yang mereka punyai, sementara mereka yang miskin dan lemah pusing setengah mati, memikirkan cara memperoleh apa yang mereka tak punyai.

Banyak pejabat tinggi dan konglomerat kaya raya yang hidupnya penuh was-was dan tak bisa tidur nyenyak.

Sementara itu, tak sedikit pula orang kecil bersahaja yang selalu ceria dan penuh suka cita, seperti cerita berikut yang saya dapatkan dari seorang rekan.


Close [X]