: WIB    —   
indikator  I  

Risiko investasi saham ternyata rendah

Risiko investasi saham ternyata rendah
Komisaris PT Infinitum Advisory

Dengan memilih LQ45, maka investor sudah menghilangkan risiko likuiditas.Sebenarnya semua orang perlu melakukan investasi.

Bagaimana tidak? Kebutuhan hidUp seseorang akan semakin berkembang. Tetapi banyak orang yang masih terlalu konservatif dalam memilih instrumen investasi akibat mengkhawatirkan risiko yang mungkin ia alami.

Risiko masih menjadi salah satu pertimbangan terpenting bagi masyarakat dalam melakukan investasi. Padahal lazimnya, ketika seseorang menetapkan sebuah tujuan, risiko otomatis segera muncul.

Risiko sendiri dipandang sebagai sesuatu peristiwa atau keadaan yang bila terjadi menyebabkan tujuan yang sudah ditetapkan mungkin tidak tercapai. Tujuan tersebut bisa berupa tujuan keuangan, maupun tujuan lain di luar keuangan.

Tujuan ini juga muncul saat seseorang melakukan investasi. Ketika seseorang memulai investasi, pasti sebenarnya ada tujuan yang ingin dicapai.

Setiap investasi harusnya punya tujuan, seperti ingin membeli rumah atau untuk memenuhi biaya pendidikan anak dari hasil investasi tersebut.

Akan lebih baik lagi bila tujuan investasi tersebut jelas dan bisa dihitung. Seperti berapa lama investasi akan dilakukan dan seberapa besar harapan keuntungan (expected return) yang ingin diperoleh.

Dengan terukurnya hasil yang diharapkan serta jangka waktu investasi tersebut, seseorang bisa melakukan evaluasi terhadap pencapaian investasinya.

Tetapi, seperti sudah dikemukakan tadi, investasi juga memiliki risiko. Faktor risiko inilah yang membuat seseorang menjadi enggan menginvestasikan dananya, termasuk untuk berinvestasi di instrumen saham.

Padahal, saham merupakan salah satu instrumen investasi yang paling diminati di seluruh dunia. Dengan membeli saham, sebenarnya seseorang telah menjadi pemilik sebuah perusahaan.

Masalahnya, saat ini investasi saham sering dianggap sebagai investasi yang berisiko tinggi. Hal ini tidak lepas dari pemikiran high risk high return. Instrumen investasi yang menjanjikan keuntungan yang tinggi tentu akan memiliki risiko yang tinggi juga.

Ada beberapa risiko yang mungkin terjadi saat seseorang melakukan investasi di saham, salah satunya adalah turunnya harga saham atau capital loss. Banyaknya peristiwa ekonomi, politik, dan sosial, tentu akan membawa pengaruh pada harga suatu saham.

Belum lagi berita atau informasi yang terkait dengan industri maUpun perusahaan tersebut. Karenanya harga saham yang baik idealnya akan berfluktuasi setiap hari. Hal ini tentu saja akan membuka potensi terjadinya risiko dalam jangka pendek.

Selain risiko tersebut, ada juga risiko sebuah perusahaan terbuka tidak membayarkan dividen kepada pemegang saham. Dividen merupakan komponen kas yang dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham.

Dividen dibayarkan berdasarkan keputusan rapat umum pemegang saham (RUpS). Risiko paling besar adalah tidak mendapatkan dividen. Meski begitu, risiko ini sebenarnya tidak menimbulkan kerugian uang bagi investor.

Risiko lain adalah risiko likuiditas atau risiko saham yang dibeli tidak dapat dijual kembali di pasar. Ada beberapa saham yang memang tidak terlalu likuid diperdagangkan di bursa, sehingga investor menemukan kesulitan ketika ingin menjual kembali saham tersebut.

Risiko ini sebenarnya mengacu pada spread atau selisih antara posisi bid dan ask di pasar. Bila selisih ini terlalu lebar, tentu dapat menimbulkan risiko kerugian bagi investor.

Selain itu ada risiko inflasi, yaitu risiko ketika hasil investasi saham tidak lebih tinggi dari pada inflasi. Inflasi sendiri adalah kenaikan harga barang dan jasa dalam suatu periode tertentu.

Tentu bila hasil investasi di bawah inflasi, lebih baik investor segera mengonsumsi uangnya dengan membeli barang atau jasa yang dibutuhkan dan tidak perlu melakukan investasi.

Wajar saja, karena investasi merUpakan proses menunda konsumsi, dengan harapan bisa memperoleh hasil yang lebih baik di masa depan.


Close [X]