: WIB    —   
indikator  I  

Biaya bank menggerus habis tabungan Anda

Biaya bank menggerus habis tabungan Anda
Pengamat Pasar Keuangan dan Staf Pengajar FEB-UI

Nasihat orangtua di rumah dan guru di sekolah mengajarkan menabung di bank adalah kebiasaan baik, bermanfaat, aman, dan menguntungkan. Karena, menabung di bank akan mendapatkan bunga secara periodik.

Dengan suku bunga yang sangat rendah, sementara biaya administrasi justru naik, apakah menabung di bank masih menguntungkan?

Jika tidak cermat, tabungan Anda di bank bisa habis seperti pengalaman seorang kenalan saya. Tabungannya berisi ratusan ribu rUpiah habis, padahal dia tidak pernah mengambilnya.

Seiring tingginya biaya operasional dan kualitas pelayanan, sah-sah saja bila bank menaikkan biaya administrasi untuk para penabungnya.

Apalagi, jika kita memahami bisnis bank dengan dua sumber pendapatan utamanya, yaitu keuntungan dari selisih bunga pinjaman atas bunga simpanan dan fee-based income.

Contoh dari fee-based income adalah, sekarang meminta referensi bank, transfer ke bank lain, cetak mutasi rekening koran, buka rekening, tutup rekening, ganti buku tabungan, atau ganti kartu ATM, semuanya dikenakan biaya.

Intinya, untuk setiap pelayanan dan jasa yang diberikan, bank akan mengenakan biaya sebagai sumber pendapatannya.

Ingin tahu lebih banyak tentang ini, saya pernah mencari informasi seputar KPR atau refinancing KPR yang ditawarkan sebuah bank swasta besar terkemuka.

Ternyata, biaya yang dikenakan kepada debitur sangat banyak yaitu biaya appraisal, administrasi KPR, provisi, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, cek sertifikat, biaya notaris (PK dan APHT), serta akta jual beli dan balik nama.

Total biaya ini mencapai 4,46% dari jumlah kredit. Dengan embel-embel fee-based income, bank memanfaatkan ketidakberdayaan nasabah yang cuma bisa pasrah menerimanya.

Kembali ke cerita tabungan yang habis, kita sebenarnya bisa menghitung dengan pasti kapan tabungan seseorang akan habis.

Ini adalah persoalan mencari atau jumlah periode yang membuat sejumlah dana/utang (PV) akan habis atau lunas jika diambil/dibayar sejumlah tertentu (PMT) sama besar setiap periodenya pada suku bunga (rate) tertentu.

Sebagai ilustrasi, seorang pensiunan mempunyai tabungan atau deposito Rp 200 juta dari hasil kerja selama 30 tahun.

Dana itu disimpannya di sebuah bank yang memberikan bunga bersih 6% per tahun, dengan bunga dihitung tiap bulan dan tidak ada biaya administrasi.

Jika untuk keperluan biaya hidUp, dia mengambil Rp 4 juta per bulan, dalam berapa lama uang itu akan habis?

Jika Anda menjawab 50 bulan, logika keuangan Anda belum terasah. Dengan matematika keuangan, kita akan mendapatkan jawaban yang benar adalah 57,7 bulan.

Dengan Excel, kita bisa menghilangkan satuan juta dan cukUp mengetikkan =nper(0.5%,-4,200) kemudian tekan enter. Dengan menggunakan kalkulator finansial, dalam sepersekian detik kita juga akan mendapat hasil yang sama, 57,7 bulan.

Ini berarti, pensiunan itu bisa mengambil uang sejumlah Rp 4 juta setiap bulan selama 57 bulan. Pada bulan ke-58, dia masih dapat mengambil uang untuk terakhir kalinya, namun jumlahnya tidak sampai Rp 4 juta.

Perhatikan kalau uang Rp 200 juta itu akan habis dalam 50 bulan bila tidak mendapat bunga. Di banyak negara maju, produk seperti di atas ditawarkan dengan nama anuitas yaitu menyetor sejumlah uang tertentu untuk diambil secara periodik hingga habis.

Setelah memahami ilustrasi di atas, mestinya tidak ada yang aneh dengan kasus tabungan di bank menjadi habis. Misalkan, suku bunga tabungan hanya 1% per tahun kotor atau 0,8% per tahun, dan 0,067% per bulan setelah pajak.

Sementara biaya administrasi dan kartu ATM per bulan kini sudah di kisaran Rp 20.000. Tabungan saya di sebuah bank BUMN malah kena biaya bulanan Rp 21.000, yaitu Rp 11.000 untuk biaya administrasi rekening dan Rp 10.000 untuk biaya administrasi kartu.


Close [X]