: WIB    —   
indikator  I  

Lidah tak bertulang

Lidah tak bertulang
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Minggu lalu, saya mengawali tulisan refleksi dengan pertanyaan seorang teman yang sedang galau, yakni: “Pikiran itu memang jahat ya?!!”

Kali ini, dari teman lain yang sedang jengkel, muncul kembali pertanyaan terkait dengan urusan “pikiran”. Bunyinya: “Pikiran itu memang enggak jujur ya?!”

Nah loh, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga muncul kesimpulan yang “sangat berani” seperti itu?

Usut punya usut, ternyata sang teman jengkel bukan kepalang menyimak berita politik mutakhir yang lalu-lalang melewati saluran televisi, radio, ataupun media sosial.

Untuk perkara yang sama, elite politik bisa mengambil kesimpulan dan sikap yang berbeda. Terhadap pejabat A dan B yang sama-sama melakukan tindak pelanggaran yang setara, seorang elite politik bisa mengambil sikap dan rekomendasi yang berbeda.

Padahal, kasusnya benar-benar serupa. Hanya saja kebetulan kedua oknum tersebut dari lingkup partai yang berbeda.

Lebih lucu lagi, terkadang dengan urusan dan pelaku yang sama, kesimpulan dan tafsirnya juga bisa berbeda!

Terhadap pejabat C, yang “kebetulan” dua kali melakukan tindak pelanggaran yang serupa, elite politik bisa mengambil posisi dan rekomendasi yang berbeda. Kok bisa? Faktanya ya..., seperti itu.

Hanya karena rentang waktu yang berbeda, sikap orang menjadi berbeda. Seorang teman politikus pernah memberikan nasehat kepada saya.

Katanya, jangan pernah bicara tentang konsistensi dalam dunia politik. Mengapa? Karena politik adalah “seni” yang tak berpola dan bergerak mengikuti naluri. Yakni, naluri kepentingan dan kekuasaan.

Demikian pula, jangan bicara komitmen dalam kancah politik. Mengapa juga? Karena politik adalah “negosiasi”, yang sangat situasional dan bisa dikompromikan seturut keadaan.

Persisnya, keadaan yang saling menguntungkan pihak-pihak yang berunding, bukan pihak lain, apalagi rakyat banyak.

Atas nasehat sang teman politikus di atas, saya sempat tertegun dan berpikir keras. Seolah-olah tak ada tempat bagi wacana “integritas” dalam praktik perpolitikan.

Bukankah elemen “konsistensi” dan “komitmen” –yang dianggap tak relevan bagi dunia politik– adalah dua kandungan utama dari “integritas”.


Close [X]