: WIB    —   
indikator  I  

Merawat Optimisme

Merawat Optimisme
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Belakangan ini, seorang teman yang bermukim di salah satu kawasan elite Jakarta seringkali gusar. Setiap hari ia harus berhadapan dengan kemacetan (dalam kompleks perumahan) yang maha-dahsyat!

Berangkat pagi dan pulang larut pun tak memberikan jaminan kondisi lalulintas lebih lancar. Dalam satu kawasan, ada pembangunan ruas jalan tol, jalan layang (fly-over), dan juga jalur LRT alias light rail transit. Sempurnalah sudah!

Pada kenyataannya, wilayah di Jakarta yang sedang mengalami pembangunan infrastruktur secara masif.

Pengalaman kemacetan tak hanya dirasakan oleh orang-orang atawa kawasan atawa wilayah tertentu, tetapi nyaris menjadi pengalaman kolektif seluruh warga ibukota. Sampai-sampai, kita terbiasa dengan guyonan, “kalau tidak macet, ya bukan Jakarta.”

Para pakar pembangunan menyebut urusan penuh sengkarut seperti ini sebagai persoalan sistemik, yakni tatkala skala persoalan menjadi begitu masif, berlangsung sedemikian lama, dan saling-berkelindan dengan persoalan lainnya.

Penyelesaian atas persoalan seperti ini pastilah membutuhkan usaha keras, berdimensi struktural, sekaligus menuntut pengorbanan luar biasa.

Inilah yang sedang dilakukan pemerintah saat ini, dengan menggenjot pembangunan infrastruktur besar-besaran untuk mengejar ketertinggalan yang berlangsung cukup lama.

Sesuai dengan sifatnya yang berwatak sistemik, penanganan masalah seperti ini pasti tak gampang dan mustahil dapat diatasi secara individual.

Kalau sudah demikian, apa yang bisa dilakukan oleh setiap warga negara Indonesia sebagai seorang individu? Apakah akan kesal terus-terusan atau mengumpat tak karuan sampai mulut berbusa dan kepala dipenuhi banyak “bintang”?


Close [X]