: WIB    —   
indikator  I  

Naif dan impulsif

Naif dan impulsif
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Saracen menjadi salah satu topik terhangat yang diperbincangkan oleh publik Indonesia belakangan ini. Aparat kepolisian akhirnya berhasil mengungkap sindikat yang diduga menyebarkan ujaran kebencian di media sosial, sekaligus menangkap beberapa aktor utama yang mengoperasikannya.

Sindikat ini memperdagangkan isu-isu terkait suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) yang merupakan wacana paling sensitif di Republik ini, namun sekaligus juga saleable di tengah hiruk-pikuk perhelatan persaingan politik nasional.

Tak tanggung-tanggung, mereka berhasil mengaktivasi ribuan akun yang beroperasi sesuai dengan pesanan pihak-pihak tertentu.

Entah untuk mempromosikan pihak tertentu, menyudutkan pihak lainnya, menciptakan benturan antar kelompok yang semua dilakukan dengan mengaduk-aduk sentimen primordial dan naluri kompetisi segenap anak bangsa.

Begitu hebatnya strategi kerja (dalam penentuan topik ujaran sesuai pangsa pasar) dan pola manajemen (dalam pengendalian follower virtual secara militan), perwira Analis Kebijakan Madya Bidang Penmas Divhumas Polri, Kombes Sulistyo Pudjo Hartono, bahkan menyebut para aktor tersebut sebagai orang-orang dengan kecerdasan di atas rata-rata.

Jelas, ini sebuah aksi high-level crime yang sangat mengkhawatirkan kita sebagai sebuah bangsa.

Pernah ada penelitian yang dilakukan terhadap perilaku konsumen di restoran makanan Jepang, yakni : sushi.

Di restoran sushi, biasanya ada dua cara pemesanan makanan yang bisa dilakukan, yaitu:

(1) memesan dari buku menu, dan kemudian menyajikannya di atas meja makan yang sudah kita tempati, dan
(2) duduk di depan “ban berjalan” (conveyer belt) yang berisi aneka ragam sushi siap santap yang lalu lalang melewati mata kita.

Secara rata-rata, hasil observasi menunjukkan bahwa ternyata cara yang kedua – yakni duduk di depan conveyer belt – membuat orang cenderung menikmati sushi dalam jumlah yang lebih banyak daripada cara pertama.

Studi sederhana ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki sifat impulsif, yakni dengan seketika bersikap reaktif terhadap apa yang dihadapinya.

Ketika kita diserang secara fisik, secara refleks kita akan menangkis atau memukul balik; sama halnya juga saat badan kita digelitik oleh teman, dengan sekejap ia akan menggetarkan dirinya sendiri.

Impulsivitas bisa membuat perilaku manusia menjadi tak rasional, karena yang diutamakan adalah “kesegeraan” (immediateness).


Close [X]