Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Dividen: Emang gua pikirin?

Dividen: Emang gua pikirin?
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Pekan lalu, KONTAN melaporkan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) berusaha mencari keterangan dari para emiten yang tidak membagikan dividen dalam tiga tahun terakhir, meskipun menghasilkan laba bersih.

Misalnya, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) yang tidak membayar dividen sejak go public tahun 1989. Padahal laba bersih HERO bertumbuh baik. Mungkin HERO terinspirasi oleh Microsoft yang baru bersedia membayar dividen 17 tahun setelah go public. HERO tidak sendirian. Ada tujuh emiten serupa HERO untuk keukeuh tidak mau membayar dividen .

Apakah dividen penting? Keuntungan bagi investor saham datang dari dua sumber: kenaikan harga saham (capital gain) dan dividen.

Ada dua skenario sikap investor terhadap pembayaran dividen. Pertama, investor lebih menyukai dividen daripada capital gain. Ini adalah tipe investor yang bilang "A bird in the hand is worth two birds in the bush".  Artinya, mereka lebih menghargai dividen yang lebih pasti daripada capital gain di masa mendatang. Harap maklum, laba ditahan yang diinvestasikan ke proyek baru selalu mengandung risiko. Alih-alih diinvestasikan pada proyek yang prospektif, laba ditahan bisa disalahgunakan atau diinvestasikan di proyek spekulatif. Alasan lain adalah pembayaran dividen yang teratur mendisiplinkan manajemen perusahaan.

Kedua, investor lebih menyukai capital gain daripada dividen. Alasan utamanya adalah pajak atas dividen lebih tinggi daripada pajak atas capital gain. Menurut UU PPh, tarif pajak dividen 10% dan bersifat final. Misalnya, korporasi A menghasilkan laba bersih sebelum pajak Rp 100 miliar. Ia harus membayar pajak penghasilan sebesar 28% atau Rp 28 miliar. Jika sisanya, Rp 72 miliar, dibagikan sebagai dividen, investor akan membayar pajak Rp 7,2 miliar (yakni Rp 72 miliar x 10%).

Jika Rp 72 miliar semuanya ditahan dan diinvestasikan untuk menghasilkan keuntungan 20%, setahun kemudian nilai korporasi akan bertambah Rp 14,4 miliar, ceteris paribus. Jika ini terekspresi pada harga saham saat dijual tahun depan, investor membayar pajak atas capital gain Rp 86,4 juta (yakni 0,1% pajak final atas capital gain dikali Rp 72 miliar dan Rp 14,4 miliar). Jauh lebih kecil dibanding pajak atas dividen.

Ada kecenderungan emiten di BEI mengurangi pembayaran dividen. Pasca 1998, hanya 40% dari korporasi pencetak laba bersih membagikan dividen. Namun, tidak membagi dividen bukanlah sebuah dosa besar asal manajemen bisa mengelola laba ditahan secara baik. Seperti sabda Warren Buffett, laba bersih boleh ditahan hanya jika ada proyek yang bagus. Ini menjelaskan mengapa saham Microsoft atau HERO tetap seronok meski lama tidak membagi dividen.

Di level korporasi, ada dua kebijakan dividen. Pertama, kebijakan dividen terkelola. Dividen per saham diupayakan tidak fluktuatif, malah kalau bisa naik perlahan. Ini banyak diterapkan oleh korporasi di AS dan Inggris karena di kedua negara tersebut struktur kepemilikan saham relatif tersebar.

Pada korporasi semacam ini, pemegang saham umumnya tidak terlibat aktif dalam manajemen. Akibatnya mereka menggunakan dividen sebagai indikator prospek korporasi. Menyadari hal ini, manajemen berusaha “meratakan” dividen per saham (dividend smoothing). Mereka cenderung menghindari pemotongan dividen apalagi tidak membayar dividen. Di BEI, hanya sedikit emiten di LQ 45 yang menganut kebijakan ini. Misal, TLKM, UNTR, BBRI, UNSP. Penulis mengamati, dampak pengumuman pembagian dividen terhadap harga saham di BEI sering kalah besar dari pengumuman laporan keuangan kuartalan.

Kedua, korporasi menganut kebijakan "residual" dividend di mana dividen tergantung pada tiga hal: kebutuhan investasi, laba bersih sebagai sumber dana internal dan struktur modal sasaran. Dari penelitian penulis terhadap emiten di BEI diketahui, mayoritas emiten menganut kebijakan residual dividend yang menomorduakan dividen.

Berikut tips bagi investor dalam menyikapi masalah pembagian dividen. Pertama, besaran dividen penting, tetapi lebih penting lagi adalah kestabilan dividen dan pertumbuhan laba bersih. Kedua, perhatikan life cycle perusahaan. Jika masih dalam masa pertumbuhan tetapi royal membagi dividen, ini tidak baik. Jika sudah berada di tahapan kedewasaan, royal membagi dividen justru baik karena mengurangi kemungkinan berinvestasi di proyek yang spekulatif.

Terakhir, perhatikan tata kelola perusahaan. Perusahaan yang memiliki tata kelola dan pertumbuhan laba bersih yang bagus, sedikit membagikan dividen justru bagus. Harga saham perusahaan semacam ini punya potensi untuk bersinar terang.