: WIB    —   
indikator  I  

Melepas masa lalu

Melepas masa lalu
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Pada bulan Mei 2017, taipan dan investor kawakan dunia, Warren Buffett melego 30% saham yang dimilikinya di perusahaan teknologi IBM.

Alasannya, “perusahaan (IBM) menghadapi beberapa pesaing bisnis yang tangguh!” Sebagai sosok yang dianggap “acuan” para investor, sekaligus juga pemegang saham terbesar IBM, tentunya keputusan Buffett akan menjadi salah-satu barometer persepsi publik.

Suka tidak suka, perasaan sebagian publik akan menjadi ciut dan grogi terhadap IBM, karena aksi-jual oleh “maha-guru investasi” dunia tersebut.

Namun, tidak demikian halnya dengan Virginia “Ginni” Rometty, sang CEO perusahaan IBM yang mulai menduduki tampuk tertinggi organisasi sejak awal 2012.

Saat diwawancarai oleh Adi Ignatius, Pemimpin Redaksi publikasi bisnis bergengsi Harvard Business Review, Ginni tak menunjukkan kegentarannya dengan aksi dan analisa Buffett.

Dengan percaya diri, ia mengatakan “Kemampuan berubah (the ability to change) ada di dalam DNA organisasi.” Artinya, ia sangat yakin bahwa IBM mampu untuk berubah dan menerbangkan dirinya menjadi salah satu perusahaan teknologi yang maju dan langgeng (durable).

Ginni merasa tahu persis kondisi dan kemampuan IBM, karena ia telah meniti karier selama 36 tahun di perusahaan tersebut. Ia adalah sosok yang berada di balik kesuksesan organisasi membangun divisi business-services, sekaligus juga memimpin proyek akuisisi dan integrasi PwC Consulting ke dalam IBM.

Status dan pengalaman sebagai “orang dalam” seakan menjadi pedang bermata-ganda bagi seorang pemimpin, termasuk Ginni. Sebagai “orang dalam”, ia mengetahui seluk-beluk perusahaan hingga ke ujung kaki organisasi.

Ia juga tak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kultur perusahaan dan praktik manajemen yang ada, dan tinggal mengambil posisi untuk memimpin dan memobilisasi segenap armada di bawahnya.

Namun, kedudukan sebagai “orang dalam” juga menjadi beban bagi Ginni, terutama dihadapkan dengan tantangan untuk membawa kapal organisasi mengarungi samudra perubahan.

IBM sebenarnya mempunyai pengalaman melewati fase perubahan yang deras (bahkan turnaround) pada awal tahun 1990-an.

Bedanya, pada masa tersebut pemegang saham menunjuk nakhoda baru bernama Louis Gerstner, “orang luar” yang kemudian berhasil menyelamatkan perusahaan, dan bahkan menanamkan jejak transformasi yang kuat pada IBM hingga saat ini.


Close [X]