: WIB    —   
indikator  I  

Membangun Emirates Airlines

Membangun Emirates Airlines
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California

Para pramugari Emirates Airlines mengenakan blazer cantik dan topi manis yang dihiasi cadar menggantung di samping. Mirip dengan yang dikenakan Barbara Eden dalam sitkom TV zaman baheula I Dream of Jeannie. Maskapai ini dikenal dengan servis luar biasa, selain harga tiket kompetitif.

Dalam salah satu perjalanan dari San Francisco ke Jakarta, penulis pernah tercatat sebagai penumpang Emirates. Perjalanan cukup jauh dan perlu menginap di Dubai, mengingat rute yang diambil bukan dari San Francisco via Samudera Pasifik, tapi via Samudera Atlantik.

Di akhir tahun fiskal 2014-2015, Emirates Airlines mencatat pendapatan US$ 24,2 miliar, naik 7,5% dibanding tahun sebelumnya. Jumlah penumpang meningkat dari 44,5 juta menjadi 49,2 juta. Biaya bahan bakar termasuk yang tertinggi dari biaya operasional, yaitu mencakup 34,6%.

Emirates menduduki tangga ke-7 maskapai penerbangan terbesar dunia dari jumlah penumpang dan kilometer terbang per tahun. Kapasitas maskapai ini sangat besar, hubungannya dengan kapasitas Bandara Dubai yang dapat digunakan 24 jam per hari.

Ada beberapa hal yang menarik dari Emirates Airlines dari masa pendirian hingga hari ini. Sukses mereka pantas dihargai dan dipelajari sebagai kasus maskapai penerbangan yang semakin populer.

Satu, di tahun 1985, penguasa Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Rashid bin Saeed AlMaktoum dan puteranya mendirikan Emirates Airlines untuk mewujudkan Dubai sebagai hub bisnis dan turisme. Lokasi strategis Dubai di dunia internasional sangat membantu.

Kini Emirates dipimpin Tim Clark yang bergelar Sir dan pernah memimpin Srilankan Airlines hingga 2008. Lulusan University of London tahun 1971 ini menggunakan data demografi penumpang dengan jeli dalam menentukan rute-rute baru bagi Emirates. Salah satu rute awal Pakistan. Di sana hanya ada satu maskapai, padahal jumlah populasi 150 juta. Lokasi strategis Dubai juga memungkinkan membuka rute ke India.

Prestasi kelas dunia Tim Clark diakui berbagai institusi, baik negara maupun badan aviasi. Di tahun 2009, ia menerima penghargaan Officier de la Legion dHonneur untuk bidang aviasi dan transportasi. Di tahun yang sama, ia mendapat Gold Award dari The Royal Aeronautical Society.

Di tahun 2011, ia menerima Airline Business dan Flightglobal Achievement Awards. Di tahun 2012, ia menerima Center fo Aviation Legends Award. Dan di tahun 2014, ia menerima gelar Sir dari Ratu Elizabeth Inggris Raya sebagai Knight of the Most Excellent Order of the British Empire.

Dua, Emirates tidak membayar pajak ke UEA dan tidak menghadapi berbagai masalah perburuhan, mengingat struktur organisasi tanpa serikat buruh. Perjanjian perdagangan bebas internasional Open and Fair Skies juga sangat menguntungkan Emirates dengan jumlah penerbangan tanpa batas antara Amerika Serikat dan Teluk Persia. Etihad, Qatar Aieways dan Turkish Airlines kini meniru model bisnis Emirates dan juga menikmati kemudahan perjanjian Open and Fair Skies.

Tiga, Emirates menggunakan pesawat-pesawat ramah lingkungan yang irit bahan bakar, sehingga biaya operasional ditekan. Harga tiket Emirates dan para kompetitor yang mengikuti jejaknya, seperti Turkish, Etihad dan Qatar, cukup miring untuk perjalanan-perjalanan jauh antar benua. Ini sangat menguntungkan konsumen dan kompetitif di dunia maskapai yang semakin banyak pemain.

Empat, partnership dengan low-cost carrier FlyDubai menggabungkan konektivitas Emirates di seluruh dunia. Kerjasama dengan sistem operasi sinergistik di hub Dubai. Emirates menerbangkan 259 pesawat wide-body A380-800 ke 157 destinasi, sedangkan FlyDubai menggunakan 58 unit Boeing 737 ke 95 tujuan.

Diharapkan tahun 2022, gabungan Emirates dan FyDubai mencapai 240 destinasi dan 380 pesawat. Sebagai perbandingan, Garuda Indonesian Airlines memiliki 144 unit pesawat dan 133 destinasi domestik dan internasional.

Lima, customer service Emirates berkualitas kelas dunia yang patut dipuji. Pelayanan excellent dari check-in di counter hingga perjalanan jauh di udara yang memakan waktu belasan jam tidak berubah. Konsistensi ini sangat erat hubungannya dengan efisiensi training profesional dan sistem komputer yang terintegrasi. Kualitas pelayanan luar biasa ini dibuktikan dengan 500 penghargaan internasional. Di tahun 2017, Emirates memenangkan Best Airline Worldwide, Best First Class, Best Frequent Flyer Programme dan Best First Class Lounge.

Konklusinya, Emirates sangat jitu mempekerjakan pimpinan puncak dan tim customer service. Kultur korporat juga sangat mendukung dan memotivasi loyalitas dan antusiasme para pekerja, tercermin ketika melayani penumpang.

Kepiawaian memilih teknologi aviasi dan sistem integrasi sangat membantu operasi di seluruh dunia. Kini, partnership dengan FlyDubai diharapkan membangun jaringan yang semakin dikagumi dan dihargai. Kisah sukses Emirates bukti kehebatan manajemen bisnis korporat internasional dari negara Arab.


Close [X]