: WIB    —   
indikator  I  

Perusahaan Berutang, Bagus atau Tidak?

Perusahaan Berutang, Bagus atau Tidak?
Direktur Investa Saran Mandiri

Beberapa kali penulis mendapat pertanyaan, jika sebuah perusahaan berutang, apakah itu tanda ada masalah di perusahaan tersebut? Pertanyaan ini terdengar cukup sederhana dan harusnya mudah untuk dijawab.

Tapi kenyataannya ternyata sulit. Sebab jawabannya bisa baik, bisa juga tidak baik bagi perusahaan.

Banyak orang memang berpikir, bila ada saudara, teman atau tetangga mulai meminjam uang jadi indikasi sedang menghadapi masalah keuangan. Banyak yang khawatir ketika ada saudara atau teman mulai meminjam uang, karena takut uang tersebut tidak bisa dikembalikan. Berangkat dari pemahaman dan peristiwa ini, banyak investor juga berpikir, ketika perusahaan mulai meminjam uang, berarti ada indikasi masalah keuangan.

Menjelaskan masalah di atas memang bukan sebuah pekerjaan gampang, apalagi perdebatan tentang manfaat utang terhadap nilai perusahaan masih terus berlangsung di berbagai penelitian ilmiah. Hal yang biasa jadi pertanyaan, apakah tambahan utang perusahaan memberi nilai tambah atau sebaliknya?

Perdebatan panjang dimulai dari tulisan Franco Modigliani dan Merton Miller di tahun 1958 tentang teori kapital struktur perusahaan. Kapital struktur sendiri mengacu pada komposisi perbandingan utang dan modal untuk mendanai aktivitas perusahaan. Menurut Modigliani dan Miller, struktur modal tidak relevan mempengaruhi nilai sebuah perusahaan. Pendapat ini dikenal sebagai teori irrelevant MM.

Teori MM ini banyak mendapat kritik akibat asumsi yang didasari pasar modal sempurna, di mana tidak ada biaya transaksi, pajak pribadi dan perusahaan, serta pasar yang efisien secara informasi. Akibat banyaknya kritik tersebut, akhirnya di 1963 Modigliani Miller mempublikasikan teori kedua tentang struktur modal dengan memperhatikan pajak.

Akibat pajak, maka pengunaan utang pada perusahaan cenderung meningkatkan nilai sebuah perusahaan. Hal ini terjadi karena utang berakibat timbulnya biaya bunga, di mana komponen biaya bunga menjadi pengurang laba sebelum pajak, sehingga pajak perusahaan menjadi lebih rendah. Penggunaan utang juga menjadi leverage bagi perusahaan karena mendorong jumlah modal saham yang tetap, sedang laba meningkat akibat ekspansi bisnis dengan utang.

Bila mengikuti pendapat tersebut, untuk meningkatkan nilai perusahaan, perusahaan bisa berutang sebanyak-banyaknya untuk ekspansi. Tapi tunggu dulu! Harus disadari peningkatan utang mendorong risiko kebangkrutan. Utang yang terlalu besar menaikkan risiko pada perusahaan, karena biaya bunga merupakan biaya tetap yang harus dibayar.

Ketika terjadi gangguan pada pendapatan, arus kas perusahaan akan kesulitan menutup biaya tetap, sehingga timbul risiko likuiditas di jangka pendek. Bila hal ini terjadi dalam waktu lama, akan timbul berbagai masalah yang berujung pada kebangkrutan.

Kenaikan utang juga akan mendorong naiknya biaya modal saham akibat risiko yang naik dan biaya pinjaman akibat risiko perusahaan. Perusahaan dengan utang terlalu besar cenderung membuat biaya bunga naik ketika tambahan utang diambil. Hal ini berkonsekuensi buruk bagi nilai perusahaan.

Selain itu, ketika masalah likuiditas terjadi, maka stakeholder akan terganggu dan bisa menurunkan reputasi perusahaan. Pemasok menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan bahan baku dan meminta dibayar dimuka sebelum melakukan pengiriman. Pelanggan atau konsumen mengurangi konsumsi produk atau layanan akibat kuatir penurunan kualitas produk atau layanan akibat krisis yang dihadapi. Karyawan mengalami penurunan semangat kerja dan beberapa yang terbaik akan segera keluar untuk mencari pekerjaan baru.

Naiknya risiko kebangkrutan perusahaan berakibat naiknya biaya perusahaan dan turunya pendapatan perusahaan. Konsekuensi inilah yang membuat perusahaan tidak dapat berutang terlalu besar, biarpun ada keuntungan pajak yang didapatkan dari berutang.

Hal ini yang disampaikan dalam teori trade off. Yakni ada nilai perusahaan yang optimal akibat penggunaan utang di pendanaan perusahaan. Perusahaan dapat memilih struktur modal yang optimal dengan kombinasi modal saham dengan utang, sehingga didapat biaya modal minimal.

Memang teori trade off ini juga masih banyak dikritik. Tetapi minimal hal ini membuka wawasan bahwa utang dalam skala tertentu baik untuk perusahaan. Utang yang terlalu besar akan mengganggu arus kas perusahaan dan menimbulkan risiko kebangkrutan.

Jadi investor harus lebih jeli melihat kebijakan utang perusahaan, terutama terkait rasio utang terhadap modal perusahaan. Bila utang terkendali dengan baik, naiknya utang akan berkonsekuensi pada naiknya nilai perusahaan. Tetapi bila utang sudah terlalu besar, yang akan terjadi sebaliknya.

Besar bunga juga harus dibandingkan dengan margin yang didapat perusahaan. Secara sederhana bila utang tersebut dipakai untuk kegiatan produktif yang mendorong naiknya pendapatan perusahaan, tentu utang tersebut baik bagi perusahaan. Margin keuntungan yang lebih besar dari biaya bunga menjadi salah satu kunci peningkatan nilai perusahaan. Tetapi bila tambahan utang dipakai untuk membeli aset tidak produktif yang tidak mendorong naiknya pendapatan, tentu ini akan jadi masalah di masa depan.

Penggunaan utang untuk investasi pada proyek dengan margin rendah atau internal rate of return (IRR) yang lebih kecil dari cost of fund, atau pada proyek dengan net present value (NPV) yang negatif, juga berkonsekuensi buruk pada nilai perusahaan.

Berangkat dari penjelasan di atas, jawaban dari pertanyaan di awal tulisan ini akan tergantung beberapa hal. Mulai dari penghematan pajak yang didapat perusahaan akibat berutang, risiko kebangkrutan perusahaan akibat utang yang berlebih. Selain itu, penggunaan utang untuk pembelian aset produktif atau tidak produktif yang berdampak pada margin keuntungan untuk menutup biaya bunga juga harus dipertimbangkan. Jadi investor harus cerdas menyikapi kebijakan utang perusahaan.


Close [X]