: WIB    —   
indikator  I  

Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan
Ekuslie Goestiandi

God, grant me the serenity to accept the things I can not change; Courage to change the things I can; and wisdom to know the difference.

Pembaca, sebagian dari kita pasti pernah membaca kutipan emas di atas, sebagai sumber ilham dan pencerahan bagi kita masing-masing.

Namun tahukah kita, kalimat inspiratif tersebut adalah penggalan dari doa seorang teolog Amerika, Reinhold Niebuhr (1892-1971), yang juga disebut sebagai the serenity prayer atawa “doa (mohon) ketenangan batin”.

Sejenak, saya teringat dengan petikan liris di atas, di tengah kehebohan publik tentang wacana “pribumi” yang memanas belakangan ini.

Diskursus “pribumi” sendiri menjadi sebuah perdebatan sengit tiada akhir, saat kita harus merumuskan definisinya yang operasional.

Apakah kita mampu menemukan fakta historis yang teruji tentang kelompok yang paling asli menghuni suatu kawasan?

Atau, sebelum yang asli, jangan-jangan masih ada lagi yang lebih asli? Apakah adil jika status pribumi (dan sebaliknya juga “pendatang”) disematkan kepada kelompok tertentu hanya berdasarkan identitas suku, agama, ras dan golongan (SARA) yang disandangnya?

Terlepas dari perdebatan tak berujung tersebut, toh sejatinya semua pejabat negara dan warga bangsa sudah dilarang untuk menggunakan istilah tersebut, seperti termaktub di dalam Instruksi Presiden No. 26 tahun 1998 (era Presiden Habibie) dan tersirat dalam UU No. 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Dalam konteks SARA, sesungguhnya manusia tak “sanggup” memilih, dan juga mengubah suku, ras dan golongan yang dikaruniakan kepadanya.

Atribut-atribut tersebut adalah karunia yang bersifat ilahiah; tak lebih tak kurang. Siapa pula yang dari rahim ibunya sudah bisa memilih untuk lahir sebagai turunan suku A? Atau, siapa yang diperbolehkan mengubah ras asalinya seturut dengan keinginan pribadi?

Untuk urusan “agama” pun, memilih dan mengubahnya juga tak semudah yang diteorikan, bahkan teramat sangat rumit.

Daripada bertanya dan bergumul penuh gejolak, bukankah benar nasihat yang disampaikan oleh Niebuhr untuk “menerima dengan ketenangan hati atas hal-hal yang tak dapat kita ubah?”

Saat kita masih tak bisa membedakan antara hal-hal yang bisa diubah dan tak bisa diubah, bukankah itu pertanda bahwa kita belum dikaruniai hikmat dan kebijaksanaan?

Mendatangkan manfaat

Stephen Covey, pemikir psikologi kontemporer ternama, menyebutkan bahwa salah-satu kebutuhan sekaligus pencapaian tertinggi kehidupan manusia adalah leaving a legacy atawa meninggalkan warisan dan jejak kehidupan.

Dan, “warisan kehidupan” terbaik yang pernah diberikan oleh seorang manusia adalah kontribusi dan perbedaan yang telah diberikannya kepada lingkungan di sekitarnya.

Ini serupa dengan yang dikatakan oleh pakar kepemimpinan John Maxwell, bahwa success is when we add value to ourself; significance is when we add value to others.

Sosok super-genius Albert Einstein pun menegaskan hal yang sama, yakni try not to become a man of success, but rather to become a man of value.

Bagi ketiga tokoh itu, sehebat-hebatnya manusia yang sukses, tetaplah lebih mulia manusia yang mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Benarlah kata pepatah bijak negeri ini, “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan jejak berupah sumbangsih terbaiknya bagi sesama manusia.

Jika suku, ras, golongan, status primordialisme dan atribut pribumi adalah anasir hidup yang tak bisa kita pilih (dan oleh karenanya cukup diterima dengan hati yang tentram saja), maka jejak dan warisan yang ingin kita tinggalkan adalah unsur yang sepenuhnya berada di dalam jangkauan pilihan manusia. Kata Niebuhr, hanya diperlukan courage alias keberanian saja.

Daripada menghabiskan energi untuk berseteru tentang status pribumi dan pendatang, bukankah lebih baik menerima dengan hati yang tenang perbedaan-perbedaan asali antar-manusia yang memang sudah menjadi takdir kehidupan?

Bukankah lebih baik pula, bersama-sama kita menggalang keberanian untuk membangun “warisan kehidupan” yang konstruktif, positif, dan penuh kemaslahatan bagi masyarakat luas; bukannya menciptakan kebanggaan primordial picik yang hanya bisa menepuk dada sendiri tanpa mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

Seperti kata guru-bangsa kita, Gus Dur, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kau bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu...”

Saatnya berdoa memohon ketenangan hati, untuk melihat persoalan secara jernih dan menerima perbedaan secara terbuka.