: WIB    —   
indikator  I  

Ekonomi Perilaku

Ekonomi Perilaku
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Saya pernah “terjebak” pada sebuah kegiatan travel-fair yang diselenggarakan di pusat kota Jakarta.

Ternyata, itu sebuah pengalaman yang “luar biasa”! Saya katakan “terjebak”, karena berkunjung ke sana tanpa sengaja dan hanya sekadar mengantar anak yang mempunyai keperluan lain di luar urusan pelesir.

Saya juga katakan “luar biasa”, karena begitu ramai, riuh laksana kerumunan manusia yang sedang menyaksikan konser band.

Pengalaman tersebut membuat orang seperti saya yang lahir sebagai Generasi X (1960-an-1980) merasa perlu meredefinisi ragam kebutuhan manusia.

Bagi Generasi X dan sebelumnya, jalan-jalan, berwisata jelas bukanlah kebutuhan utama. Berwisata adalah kebutuhan tersier, maksimal sekunder, yang tak akan diuber dengan cara berdesak-desakan.

Sekaligus juga hanya dilakukan apabila ada surplus uang kas rumah-tangga dan dengan penjadwalan per tahun, atau maksimal per semester.

Tak terbayangkan orang generasi terdahulu untuk berwisata dengan uang pinjaman (sekalipun bisa dibayar dengan cara mencicil), dan melakukannya sewaktu-waktu dengan model masa kini yang disebut sebagai private-trip.

Boleh jadi, apabila masih hidup, Abraham Maslow, akan merevisi teori hierarki kebutuhan manusianya yang legendaris.

Wacana-wacana baru, seperti wisata, smartphone, internet dan “teman-temannya” semisal wi-fi, media sosial, boleh jadi akan masuk ke dalam kategori kebutuhan dasar manusia; melengkapi kebutuhan elementer klasik berupa kebutuhan fisiologis, seks, pangan, sandang, dan papan.

Generasi Y atawa milenial telah hadir menjadi satu generasi baru, dengan orientasi berpikir, sikap perilaku dan tindak tanduk yang relatif baru.

Beberapa kali saya diundang untuk berbagi pandangan dan pengalaman tentang generasi milenial (yang lahir 1980 ke atas), yang menjadi trending generation saat ini.

Dalam forum diskusi, sudah menjadi hal alamiah bahwa generasi terbaru selalu dianggap berbeda dan unik, bahkan diadili sebagai “generasi aneh” oleh para generasi pendahulunya.

Saya sendiri lebih mengamini kata “berbeda” bagi generasi baru ini, dibandingkan kata unik, apalagi aneh. Catatannya, generasi Y bukan hanya sekadar “berbeda”, namun “berbeda secara signifikan” dari generasi sebelumnya.