kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.612
  • LQ451.117,91   -4,27   -0.38%
  • SUN103,52 -0,01%
  • EMAS597.932 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Bukan hamster

Bukan hamster
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

 

Sibuk dan efektif
Begini ceritanya, pembaca. Umumnya, hewan hamster dipelihara dalam sebuah kandang jeruji kecil, lengkap dengan segala makanan, minuman dan juga aksesorinya.

Salah-satu aksesori utama (bahkan wajib) dalam kandang hamster adalah roda putar. Hamster senang sekali memanjat roda tersebut, karena pada dasarnya hewan mini tersebut senang dan bisa berjalan hingga bermil-mil di alam terbuka.

Begitu gesitnya hamster memanjat, seringkali roda tersebut berputar begitu cepat. Semakin lincah kakinya merambat, semakin cepat pula rodanya berputar.

Namun, seberapa cepat pun kakinya melangkah dan seberapa banyak pun tenaga yang telah dikeluarkan, toh pada akhirnya sang hamster tak beranjak ke mana-mana. Alias, jalan di tempat.

Sang CEO kembali bertutur penuh hikmat bahwa “tugas seorang profesional pertama-tama adalah menjadi efektif, bukannya sibuk”.

“Efektif” merujuk kepada besaran manfaat, kontribusi dan progres yang kita berikan kepada organisasi dan stakeholders.

Sementara “sibuk” terkait dengan volume aktivitas dan kepadatan jadwal seseorang. Keduanya tak selalu berhubungan, seperti yang ditunjukkan oleh hewan hamster di atas.

Hamster yang asyik, seru dan heboh saat memanjat roda putar, namun sekaligus juga hamster yang keletihan, bingung sendiri, dan tak bergerak ke mana-mana.

Secara kebetulan, beberapa hari yang lalu saya membolak-balik majalah lawas, Fortune, 27 Maret 2006.

Di dalamnya ada liputan bertajuk Secret of Greatness, yang mengungkap rahasia gaya kerja para kampiun bisnis waktu itu, seperti Carlos Ghosn (Nissan & Renault), Howard Schultz (Starbucks), A.G Lafley (Procter & Gambler), Hank Paulson (Goldman Sachs), dan juga Nandan Nilekani (Infosys).

Adalah Nilekani, saat ini Non-Executive Chairman Infosys, perusahaan piranti lunak kelas dunia yang berbasis di India, yang juga dengan tegas membedakan antara “sibuk” dan “efektif”.

Bahkan, Nilekani justru mengusung slogan be less busy, and more effective sebagai jargon hidupnya.

Di tengah kepungan aktivitas bisnis keseharian yang melimpah-ruah, Nilekani sejak awal menyusun prioritas kerjanya secara selektif, terstruktur, dan terkoordinasi baik.

Ia bahkan mengaku, “I’am generous with my money, but stingy with my time.”

Ia tahu, waktunya yang terbatas harus digunakan untuk sesuatu yang bisa mendatangkan manfaat, bukan sekadar mengeluarkan keringat.


Close [X]