Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Belajar dari Kota Gurgaon

Belajar dari Kota Gurgaon
Pengamat Asia Tenggara

MINGGU lalu, saya mendarat di Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi. Hening, mengkilap, modern, dan dibalut indah permadani, terminal udara ini tidak akan terlihat janggal di Skandinavia sekalipun.

Dibandingkan dengan terakhir kali saya menginjakkan kaki di New Delhi delapan tahun lalu, transformasi saat ini betul-betul sangat mengagumkan. Pada saat itu, bandara ini tampak telantar, kumuh, dan semrawut.

Transformasi bandara ini hanya satu dari banyak sekali kejutan yang saya temui selama perjalanan ini. Berbagai kemajuan bidang infrastruktur di New Delhi sebagai ibukota sekaligus kota terbesar kedua di India (dengan populasi di atas 16 juta) sangat luar biasa.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa bagi negara kedua terbesar di Asia ini, mengatur bukan sesuatu yang mustahil, dan bahwa demokrasi tidak berarti pembangunan selalu tertunda. Bandara di New Delhi ini merupakan tersibuk di Asia Selatan, mengurusi sekitar 35,88 juta penumpang (jauh di belakang Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta) dan menargetkan untuk mengurusi hingga 100 juta penumpang pada tahun 2030.

Kualitas angkutan umum di New Delhi juga telah meningkat secara dramatis dengan selesainya proyek pembangunan jalur hijau dan violet untuk Metro Delhi di 2010 serta Delhi Airport Metro Express (DAME) di 2011.

Dioperasikan oleh Delhi Metro Rail Corporation (DMC) yang merupakan perusahaan patungan antara pemerintah pusat India dan pemerintah ibu kota New Delhi, Metro Delhi terdiri dari enam jalur sepanjang 189,63 km dengan 143 stasiun. Setiap hari, DMC mengurusi lebih dari 2 juta pengguna kereta api.

Angkutan bandara-kota (DAME) sangat mengagumkan. Dioperasikan oleh perusahaan Reliance Infrastructure, mode kendaraan ini sangat efektif menghemat waktu dari bandara ke New Delhi hingga hanya memerlukan sekitar 19 menit.

Saat ini juga, terdengar rencana untuk mengembangkan jalur angkutan langsung menuju Gurgaon, pusat industri dan finansial dekat negara bagian Haryana, tempat saya menginap. Gurgaon, dengan populasi lebih dari 1,5 juta, berada sekitar 30 km di bagian selatan New Delhi.

Kota ini layaknya perkawinan antara BSD dan Tangerang, serta merupakan markas bagi sejumlah korporat raksasa India dan dunia, termasuk Nokia, PwC, dan Bharti Airtel. Dengan GDP terbesar ketiga di India (INR 122.212) setelah Chindigarh dan Mumbai, Gurgaon merupakan kota modern yang dihiasi menara perkantoran serta komunitas kaya dan hotel-hotel mewah.

Gurgaon juga merupakan kota pusat perbelanjaan yang dipenuhi produk dari Barat maupun Asia bagian utara yang mencoba masuk ke pasar domestik India. Kebanyakan pembangunan di Gurgaon dikembangkan oleh konglomerat Delhi Land & Finance (DLF) yang didirikan oleh hartawan real estate K.P. Singh yang kekayaannya saat ini bernilai US$ 6,3 miliar dan menduduki peringkat 14 daftar terkaya di India versi Forbes. DLF memiliki banyak lahan yang luasnya lebih 7.000 hektare, menjadikannya perusahaan real estate terbesar di India.

Menurut Shyatto Raha, CEO NDTV Worldwide, setara dengan CNN di India, Gurgaon dijuluki kota milenium India. Dari kota kecil, ia telah berkembang menjadi kota besar. Gurgaon merupakan melting pot profesional muda dari berbagai penjuru di India dan secara cemerlang mempertontonkan kisah pertumbuhan dari keluarga-keluarga kelas menengah di perkotaan.

Gurgaon menawarkan yang terbaik di bidang kondominium, sekolah-sekolah unggulan, rumah sakit, pusat perbelanjaan mewah kelas dunia dengan banyak pilihan untuk kepuasan konsumen, hiburan untuk anak-anak dan dewasa, serta pusat teater multipleks.

Tantangan terbesar yang dihadapi Gurgaon adalah di infrastruktur, khususnya jalan dan listrik. Tetap saja, saya merasa bahwa kota Gurgaon saat ini berada di puncak kemajuannya, terutama ketika saya mengamati hotel Oberoi yang sangat menawan dengan kolam renang yang berkilauan.

Dipadu dengan karakter India, lentera kemudian dinyalakan langsung oleh pembawa obor yang berjalan pelan mengitari kolam ditemani kelap-kelip toko Gucci. Jadi, walau akhir-akhir ini telah menjadi kebiasaan bersama untuk mengkritik ekonomi yang kian melemah, korupsi yang merajelala, dan kebuntuan politik di India, selama kunjungan di New Delhi, saya merasakan semacam energi dan dorongan yang tak bisa dipungkiri. Jakarta harus menyusul.