kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • LQ45943,42   4,79   0.51%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Tidak asal cepat

Tidak asal cepat
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Sekelompok orang muda sedang asyik berdiskusi tentang perkembangan dunia usaha masa kini. Ada yang menyebutnya sebagai era digital, disrupsi ataupun revolusi industri 4.0.

Tiba-tiba semua menjadi begitu fasih mendiskusikan persoalan teknologi, mulai dari urusan artificial intelligence, data-analytics, internet of things, dan sebagainya.

Sebagai orang yang lebih tua, saya menikmati perbincangan tersebut dengan mengambil posisi sebagai seorang pendengar yang baik. Cukup mengamati, mendengarkan dan memikirkannya di dalam benak sendiri.

Di akhir diskusi, mereka menyepakati bahwa di zaman yang penuh VUCA (volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity), semua orang harus bertindak “cepat, cepat dan cepat”.

Kecepatanlah (bahasa kerennya “speed”) yang akan menentukan menang kalahnya seseorang atawa institusi dalam dinamika persaingan.

Dengan lantang mereka berujar “yang cepat, yang menang. Semakin cepat, semakin baik!” Sangat mirip dengan ucapan para pejabat kita saat berbicara tentang kompetisi global.

Dalam hati, saya setuju saja dengan kesimpulan itu, namun tetap dengan catatan. Catatannya adalah “selain cepat, juga harus benar”. Buat apa juga bertindak cepat, namun ternyata salah?

Saya teringat dengan cerita sederhana berikut ini. Alkisah, seorang pengusaha muda baru saja membeli mobil mewah yang mengkilap. Ia pun menjajal mobil barunya dengan menuruni jalan di lereng yang sepi.

Jalanan yang mulus dan cuaca cerah, membuatnya memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Beberapa pejalan kaki dilewatinya, tanpa sempat diperhatikan barang sedetik pun. Maklumlah, ia sangat menikmati perjalanan dengan mobil barunya.

Hingga, tiba-tiba badan mobil berbunyi keras dan menghentak pendengarannya. Seketika juga ia menghentikan kendaraan, dan turun memeriksa keadaan.

Astaga, ada bagian mobil yang luka cukup dalam tersabet lemparan batu.

Sambil menanggung amarah, matanya pun menatap tajam sekitar tempat kejadian mencari sang pelempar batu.

Tampak seorang bocah kecil membungkuk ketakutan, sambil meminta maaf dan mengakui perbuatannya.

Saat mulut sang pemuda hendak membentak mengumbar amarah, si bocah pun menunjuk jari ke bawah lereng. Ternyata, kakak sang anak terpeleset ke bawah bersama dengan kursi rodanya.

Ya, ternyata si anak berusaha mencari bantuan seseorang untuk mengangkat kakaknya yang lumpuh dan terjatuh ke bawah. Badannya yang kecil tak memungkinkannya mengangkat sang kakak bersama kursi roda.

Sang bocah ternyata sudah beberapa kali menjulurkan tangan sambil berteriak meminta pertolongan kepada para pengendara mobil yang lewat. Namun, mereka berlalu begitu saja dan mengabaikan dirinya.

Akhirnya, ia memberanikan diri melempar batu untuk “memaksa” pengendara yang lewat memberhentikan kendaraannya.

Sang anak tahu bahwa itu bukannya tanpa risiko, namun jika tak dilakukannya, kakaknya tak akan bisa tertolong.

Saat mengetahui alasan sang anak, amarah sang pemuda pun surut seketika. Tanpa menghabiskan waktu berlama-lama, segera ia turun ke bawah lereng untuk membantu mengangkat kakak si bocah.