kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.841
  • LQ45939,75   -3,67   -0.39%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Mendayung di Tengah Volatilitas Saham

Mendayung di Tengah Volatilitas Saham
Staf Pengajar FEUI dan Pengamat Pasar Modal

 

IHSG turun selama lima hari berturut-turut hingga Kamis (26/4) lalu, yaitu dari 6.338 hingga 5.909 atau 6,76%. IHSG yang merupakan indikator pergerakan harga seluruh saham di BEI pernah turun 64% (dari 740 menjadi 265) selama 15 bulan pada Juli 1997September 1998.

Di Oktober 2008, IHSG pernah meluncur 31,42% (dari 1.833 jadi 1.257) dalam sebulan atau 20,78% (dari 1.833 jadi 1.452) dalam seminggu (3-10 Oktober 2008). Untuk harian, indeks pernah merosot 10,38% dan 10,03%, masing-masing pada 8 Oktober 2008 dan 3 Oktober 2008.

Kinerja bursa saham lain tidak jauh beda. Indeks bursa Kuala Lumpur pernah susut 9,5% sehari (10 Maret 2008), indeks bursa Bombay 10,4% (24 Oktober 2008), Hang Seng 12,7% (27 Oktober 2008), Indeks bursa Athena bahkan turun 16,2% (3 Agustus 2015). Masih ada Dow Jones yang terjun hingga 22,6% dalam satu hari pada 19 Oktober 1987, yang kini dikenal sebagai Black Monday.

Soal kejatuhan indeks, tidak lengkap tanpa menyebut indeks Nikkei yang tergerus 42% dalam 28 tahun, dari 38.916 di akhir 1989 menjadi 22.468 akhir pekan lalu. Indeks bursa Athena bahkan turun 85% selama 10,5 tahun, dari 5.123 pada 28 September 2007 menjadi 780,5 akhir Maret lalu.

Mengapa volatilitas saham begitu tinggi? Volatilitas adalah tendensi harga berubah di luar perkiraan. Perubahan harga itu dapat terjadi karena adanya informasi baru mengenai nilai perusahaan (volatilitas fundamental) atau karena kepanikan dan reaksi berlebihan para investor (volatilitas transitory).

Mari kita bahas volatilitas fundamental. Harga aset umumnya mencerminkan nilai fundamental. Harga berubah jika fundamentalnya berubah. Harga saham berubah ketika investor mengetahui terjadi perubahan fundamental. Inilah yang dimaksud volatilitas fundamental.

Kita dapat mengenali dengan mudah saham-saham bervolatilitas tinggi. Pertama, saham perusahaan yang berkecimpung dalam teknologi tinggi. Saham ini cenderung volatil karena nilainya sangat tergantung pada keberhasilan riset produk barunya, yang pasarnya mungkin belum ada.

Kedua, saham dengan PER tinggi umumnya juga volatil. Saham-saham ini berharga tinggi karena optimisme investor akan tingkat pertumbuhan perusahaan di masa depan, yang mungkin saja tidak terjadi.

Ketiga, saham-saham dengan rasio utang yang besar biasanya volatil. Ini karena adanya kewajiban membayar bunga yang besar di masa depan, sementara tingkat penjualan belum pasti.

Sedang volatilitas transitory terjadi karena investor saham dikuasai dua ta, yaitu takut dan tamak. Saat harga saham jatuh karena banyak investor menjualnya, investor lain ikut jual karena takut rugi lebih besar. Begitu pula sebaliknya. Volatilitas akibat perilaku investor yang tidak bersumber dari perubahan fundamental perusahaan ini disebut sementara (transitory) karena harga pada akhirnya akan kembali ke tingkat wajarnya.

Contoh, butuh waktu lima tahun lebih bagi IHSG agar dapat bangkit usai jatuh di 1998 karena pertumbuhan ekonomi saat itu -13%. Tapi hanya butuh waktu belasan bulan ketika indeks kembali terperosok di 2008, karena saat itu pertumbuhan ekonomi positif.

Volatilitas fundamental adalah alami dan diperlukan untuk alokasi sumber daya secara efisien. Volatilitas sementara justru sangat tidak disukai regulator tetapi memberi kesempatan mendulang laba bagi investor.

Tips dari saya, identifikasi dengan cermat jika terjadi gejolak pada harga saham. Jika Anda percaya volatilitas terjadi karena fundamental, jangan ragu segera jadi follower. Sebaliknya, jika volatilitas sementara, ambillah posisi kontrarian alias melawan pasar.

Lalu, volatilitas yang terjadi sekarang ini transitory atau fundamental? Di mata saya, kecuali kurs rupiah yang melemah, saya tidak melihat kekhawatiran lain dalam perekonomian kita.

(Telah dipublikasikan di Harian KONTAN, 30 April 2018)