kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • LQ45904,78   -7,59   -0.83%
  • EMAS590.870 -0,68%

Mengenal Gutenberg, Pionir Entrepreneur Teknologi

Mengenal Gutenberg, Pionir Entrepreneur Teknologi
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California

 

Johannes Gutenberg (1398-1468) adalah pionir entrepreneur teknologi. Fakta ini lebih jarang terdengar dibandingkan dengan dirinya sebagai penemu mesin cetak movable type pertama di dunia.

Mesin cetak sendiri sudah hadir ribuan tahun di dunia melalui tangan inventor China. Versi mereka menggunakan blok-blok kayu dengan beberapa karakter yang ditekan di atas kertas.

Kemudian, Tiongkok juga menemukan mesin cetak movable dengan setiap huruf yang ditata rapi di atas setiap helai kertas. Namun mengingat jumlah karakter dalam Bahasa China mencapai ribuan, mesin ini tidak efisien. Hal yang sama juga terjadi di Korea.

Artikel ini membahas sisi entrepreneurship Gutenberg yang sangat besar artinya bagi peradaban Eropa dan manusia sedunia. Satu, kondisi makro pemicu perubahan. Di Mainz, Jerman, kota kediaman Gutenberg, saat itu sedang terjadi "perang kelas" antara kelas pekerja dengan para aristokrat. Gutenberg pun pindah ke Strassburg.

Ternyata, itulah titik penting di mana para entrepreneur kawakan dilahirkan. Masa-masa penuh disrupsi perubahan, pindah ke kota baru, menjadi pemicu bagi banyak insan untuk mencari mata pencaharian baru. Gutenberg si entrepreneur dilahirkan.

Kala itu, ia telah berusia 40 tahun dan bekerja sebagai pengrajin emas. Tampaknya ia juga mempunyai aspirasi lain yang terinspirasi oleh mesin cetak label botol minuman anggur: mesin pencetak buku.

Mesti cetaknya membutuhkan tinta dan mol cetak terbuat dari besi yang membutuhkan ingenuitas kreatif hingga 20 tahun. Selama masa itu juga versi-versi baru manjadi bukti ingenuitas Gutenberg.

Dua, pionir beta testing.Tahap pertama yang dijalankan Gutenberg adalah pembuatan prototipe mesin cetak dengan cetakan buku tatabahasa Bahasa Latin sebagai produk pertama. Buku ini merupakan produk sampel yang penting untuk menjadi benchmark produk-produk berikut.

Jadilah Gutenberg pionir entrepreneur teknologi yang menerapkan beta testing. Dalam dunia teknologi informasi (TI), tahap beta test berarti tahap kedua, produk yang dihasilkan sudah bebas dari defek utama (alpha test).

Dalam proses beta testing, produk yang dihasilkan telah siap dipakai oleh pengguna beta tester. Masukan dari para pengguna akan sangat berarti bagi proses produksi produk final yang siap dipasarkan.

Tiga, pionir open source. Hebatnya, ia juga merupakan pionir open source pertama di dunia. Ketika investor menyita mesin cetaknya akibat tunggakan utang Gutenberg dari buku-buku Injil cetakan yang belum terjual, ia memutuskan membuat mesin cetak baru dan melatih para pekerja untuk menggunakannya.

Jadilah mesin cetak movable type Gutenberg menjadi produk yang mudah dimodifikasi tanpa takut digugat oleh pemegang hak paten. Ia juga mengundang kolaborasi dengan para inventor dan pengguna profesional.

Di era modern seperti sekarang ini, banyak open source software yang dinikmati oleh para developer dan user. Open source products dilindungi di bawah Creative Commons Law.

Empat, penyulut Renaissance dan perubahan sosial. Dengan mesin cetak Gutenberg, menyebarkan karya sastra, religi, dan sains semakin mudah. Dalam waktu sekejap informasi dapat didesiminasi untuk massa. Ini menyulut semakin berkobarnya Era Pencerahan (Renaissance) yang telah dimulai di abad ke-14 hingga ke-17.

Bahkan pemberontak Agama Katolik Martin Luther yang mendirikan Protestan banyak menggunakan buku hasil cetakan mesin kreasi Gutenberg. Termasuk the Ninety Five Theses yang menjadi buku reformasi utama.

Hingga Revolusi Industri pertama di abad ke-19, mesin cetak Gutenberg tidak mengalami perubahan berarti. Pasca era mesin uap, barulah kecepatan cetak bertambah drastis. Ini mirip dengan produk-produk komputer dan digital yang semakin cepat bergerak dengan informasi realtime internet.

Gutenberg sendiri sebagai pencipta, mengutamakan desain mesin dan hasil cetakan. Ia sering disamakan dengan Steve Jobs (atau sebaliknya), mengingat mereka berdua sama-sama pencipta disruptif dan mengutamakan desain produk dan hasil cetakan.

Konklusinya, setiap produk teknologi membutuhkan beberapa tahap testing penggunaan dan Gutenberg mengenal ini semenjak awal. Sebagai entrepreneur teknologi, ketika ia membuka movable type menjadi open source, ia pun bermetamorfosis menjadi seorang aktivis sosial perubahan.

Dengan produk-produk mesin cetaknya, berbagai buku penggerak reformasi dan revolusi sosial pun bermunculan. Di pengujung hidupnya, Gutenberg miskin papa secara finansial. Namun jasa dan pahala Gutenberg sebagai pengubah sosial sekaligus bapak open source sejati akan selalu menjadi benchmark produk-produk disruptif futuris.