kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • LQ45904,78   -7,59   -0.83%
  • EMAS590.870 -0,68%

Libur, Libur, Libur!

Libur, Libur, Libur!
Pengamat Pasar Modal

Ketika memutuskan menjadi full trader dua tahun yang lalu, saya sadar sepenuhnya hidup saya, periuk nasi keluarga saya, akan secara penuh berasal dari pergerakan harga saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Mencari rejeki dari volatilitas pergerakan harga, itulah kehidupan dari seorang pedagang saham. Trading for A Living, itu bahasa kerennya.

Menjadi seorang pedagang di BEI (selanjutnya saya sebut stock trader, biar keren), berarti berusaha mencari kesempatan pada setiap pergerakan harga saham selama perdagangan berlangsung di bursa. Jadi, pedagang itu hanya bisa makan kalau pasarnya buka.

Nah, hari-hari ini, kita menikmati libur perdagangan untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Idul Fitri-nya, sih, baru Jumat dan Sabtu nanti. Tapi, karena satu dan lain hal, BEI tutup sejak Senin. Buat mereka yang mencari nafkah sebagai karyawan, jelas enak: enggak kerja, tapi terus terima gaji. Mana kalau lebaran begini, gajinya double.

Tapi sebagai stock trader, itu berarti saya tidak ada pendapatan selama seminggu. Saya harus menutup pengeluaran selama hari libur dengan pendapatan yang saya peroleh saat perdagangan masih berlangsung.

Bagaimana pengaruh banyaknya hari libur terhadap kinerja emiten? Sebenarnya sih, kalau melihat penjualan total dari perseroan selama setahun serta melihat profit emiten dalam setahun, bisa dibilang tidak ada. Para pakar manajemen pasti akan melihat dari sisi produktivitas, tapi tetap saja, pengaruhnya secara langsung terhadap pergerakan harga saham tidak akan terlihat.

Akan tetapi, kita tidak bisa menutup mata bahwa terdapat emiten yang harga sahamnya bisa cenderung turun kalau pada bulan itu terdapat banyak hari libur. Emiten yang pergerakan harga sahamnya terpengaruh dengan banyaknya hari libur ini, biasanya adalah emiten yang penjualan bulanannya banyak digunakan untuk ukuran dari kinerja perseroan.

Emiten dari industri properti dan otomotif, biasanya memang paling terpengaruh. Dengan sedikitnya hari kerja, maka para agen penjual properti juga semakin sedikit peluangnya untuk bisa melakukan penjualan. Demikian juga pada penjual mobil, penjual alat berat dan emiten-emiten lain yang sejenis.

Emiten di sektor konsumer dan ritel, perbankan serta komoditas, biasanya tidak terkena pengaruh signifikan. Bank memang tutup, tapi bunga bank, kan, tetap jalan. Barang-barang konsumsi tetap memiliki terjual selama peritel tetap buka.

Emiten komoditas juga kapasitas produksinya turun. Akan tetapi, harga batubara internasional biasanya cenderung bergerak naik karena menurunnya suplai batubara dari Indonesia. hal ini membuat harga dari saham-saham batubara kemudian juga tetap saja bergerak naik. Emiten Telekomunikasi? Ayo lah, masa kita berhenti main internet ketika libur?

Bullish atau bearish, setiap stock trader harus bisa mencari kesempatan. Ketika harga cenderung bergerak naik, sering disebut sebagai bullish market, keuntungan biasanya lebih mudah didapat. Tanpa kemampuan paripurna, seorang pelaku pasar pemula bisa memperoleh keuntungan luar biasa. Itu sebabnya, cerita sukses pelaku pasar pemula sering terdengar ketika bullish market berlangsung.

Akan tetapi, harga saham tidak selamanya bergerak naik. Bearish market, kondisi di mana harga saham akan cenderung turun, biasanya akan segera datang menggantikan bullish market. Dalam salah satu buku Trading Psychology yang pernah saya baca, ada pernyataan dari salah satu trader terkemuka bahwa market itu menghabiskan 2/3 waktu untuk bergerak naik, sedangkan 1/3 waktu sisanya dihabiskan untuk turun.

Kenaikan harga berlangsung secara perlahan, sehingga butuh waktu lebih lama dibanding ketika harga bergerak turun. Kenaikan harga memang identik dengan kata membangun. Membangun butuh waktu yang lama. Di sisi lain, penurunan harga, sering disebut sebagai koreksi, identik dengan kata menghancurkan. Penghancuran selalu berlangsung dengan singkat dan tajam. Itu yang membuat orang tidak ada yang suka dengan bearish market.

Libur ketika bullish market, mungkin hati dari pelaku pasar yang hold posisi (baca: investor) akan menjadi tenang. Akan tetapi, libur ketika bearish market, terutama dengan berita-berita ajaib bisa saja muncul dari Donald Trump, bisa membuat seorang investor meradang.

Apa yang terjadi pada pertemuan G7 minggu lalu saja, di mana Trump meninggalkan pertemuan dan kemudian melakukan olok-olok diplomatik melalui akun twitter, bisa membuat investor bertanya-tanya, Bagaimana pengaruhnya terhadap pasar modal? Bagaimana pengaruhnya terhadap bursa di Asia? Bagaimana pengaruhnya terhadap bursa global?

Bagaimana soal trader teknikal? Ya sudah, kita sedang libur. Apa yang terjadi selama liburan ini, biarkanlah terjadi. Kita tinggal melihat selisih antara posisi penutupan indeks bursa regional di Jumat kemarin dengan posisi penutupan di Jumat minggu depan. Berapa persen selisihnya, kira-kira segitu pengaruhnya ke IHSG. Kegaduhan di internet, soal peluang Amien Rais jadi presiden, cuekin saja!

Saya sebenarnya kecewa dengan libur yang terlalu panjang ini. Pemodal asing yang risk averse terlihat berhasil menghancurkan saham di Jumat kemarin. Posisi saya, sih, memang cenderung kosong sehari sebelumnya. Tapi tetap saja, melihat harga turun di Jumat, saya turut merasakan bagaimana sakit hatinya mereka yang hold posisi ketika liburan panjang ini.

Dari dalam negeri, saya juga kecewa dengan semua kegaduhan yang masih berlangsung. Bayangkan, Ramadan bukannya berdamai, tapi caci maki dan perang kata terus berlangsung di media sosial. Masalah mudik saja bisa jadi bahan berantem.

Sekarang, berhubung kita sedang berlibur, saya hanya ingin mengucapkan: selamat berlibur dan merayakan Idul Fitri bagi pembaca yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin.

(Dimuat di Harian KONTAN, 11 Juni 2014)