kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • LQ45904,78   -7,59   -0.83%
  • EMAS590.870 -0,68%

Menahan Pecundang, Menjual Pemenang

Menahan Pecundang, Menjual Pemenang
Direktur Investa Saran Mandiri

Ketika melakukan transaksi, banyak orang segera menjual saham yang untung dan menahan saham yang rugi dalam portofolio. Akibatnya, portofolio pelaku pasar tersebut akhirnya berisi saham-saham rugi atau merah semua. Padahal teori mengatakan cut your losses and let your profits run atau segera potong kerugian dan biarkan keuntungan berjalan.

Kenapa banyak pelaku pasar menjual saham pemenang terlalu cepat dan menahan saham pecundang lebih lama? Ada beberapa alasan ini terjadi.

Saat mencetak untung, pelaku pasar kerap dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan A langsung dapat uang Rp 500 juta dan pilihan B berpeluang dapat Rp 1 miliar dengan probabilitas 50% atau Rp 0 dengan probabilitas sama. Bila berpikir rasional, tentu pelaku pasar lebih memilih opsi A lantaran faktor kepastian dan menghindari risiko. Karena itu pelaku pasar berusaha mengamankan keuntungan yang didapat dengan menjual cepat saham yang untung sebelum harga saham turun kembali.

Dalam kondisi merugi, pelaku pasar kembali berhadapan dengan dua pilihan. Pilihan C, pelaku pasar pasti rugi Rp 500 juta. Pilihan D, ada peluang rugi Rp 1 miliar atau Rp 0, dengan probabilitas masing-masing 50%.

Dalam kasus ini, ternyata banyak pelaku pasar memilih menghindari kerugian dengan memilih opsi D dan menahan saham yang rugi, dengan harapan harga saham ke depan berbalik arah kembali ke posisi awal, sehingga rugi jadi Rp 0.

Pilihan A dan D tampak cukup masuk akal. Tetapi ketika hal ini dilakukan, maka pelaku pasar malah akan terjebak menahan saham pecundang dan menjual saham pemenang, atau mengalami efek disposisi.

Pilihan ini juga tidak sesuai teori cut your losses and let your profits run, sehingga banyak pelaku pasar yang mengalami kerugian di pasar. Ketika manahan terus menerus saham yang rugi (pecundang), maka akhirnya hampir seluruh portofolio menjadi rugi atau merah.

Efek disposisi atau disposition effect dapat dijelaskan oleh teori prospek atau prospect theory yang dikemukakan oleh Kahneman dan Tversky (1979). Teori prospek mampu menjelaskan keputusan yang dibuat pelaku pasar ketika menghadapi risiko atau ketidakpastian.

Teori prospek menjelaskan, sesudah membeli sebuah saham, pelaku pasar akan mempunyai nilai atau titik referensi, yang biasanya adalah harga pembelian saham tersebut. Pergerakan harga naik dan turun dari titik referensi menyebabkan keuntungan dan kerugian, yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan yang diambil.

Teori lain menyatakan prospek bisa digambarkan berbentuk seperti huruf S, di mana bentuk cekung menggambarkan keuntungan dan cembung untuk kerugian. Ini menggambarkan biasanya rasa sakit saat mengalami kerugian lebih besar dibandingkan rasa senang ketika mendapatkan keuntungan. Nilai atau value ketika kehilangan sesuatu akan dibobot jauh lebih tinggi dibandingkan ketika mendapatkan sesuatu.

Ketika mengalami kerugian akibat keputusan yang salah, rasa sakitnya lebih tinggi dibandingkan rasa senang ketika mengalami keuntungan, biarpun angka atau jumlah keuntungan dan kerugian tersebut sama. Biarpun sama-sama mengalami keuntungan Rp 1 miliar dan kerugian Rp 1 miliar, rasa sakit akibat rugi Rp 1 miliar lebih besar dibanding rasa senang akibat untung Rp 1 miliar.

Ketika harga bergerak menjauh dari titik referensi, akan terjadi penurunan kepekaan terhadap keuntungan maupun kerugian. Ketika berada di zona keuntungan, grafik yang terbentuk adalah cekung, membuat tambahan kesenangan atau kepuasan berkurang. Sebaliknya, kehilangan keuntungan akan lebih menyakitkan.

Hal inilah yang mendorong pelaku pasar menjadi risk averse, sehingga lebih cepat merealisasikan keuntungan untuk menghindari risiko. Di sisi lain, bentuk cembung pada zona kerugian juga membuat tambahan (marginal) rasa sakit berkurang, sehingga lebih baik menahan saham rugi (pecundang) dan ketika terjadi pembalikan arah rasa senang akan sangat besar. Karena alasan inilah, pelaku pasar menjadi risk seeker, dengan mengambil risiko lebih besar, sehingga lebih senang menahan saham rugi.

Efek disposisi juga disebabkan oleh probabilitas untung dan rugi. Investasi pada pasar saham diukur ex post, atau diukur dari hasil investasi yang dilakukan. Orang merasa sakit saat investasi mengalami kerugian atau bergerak tak sesuai harapan.

Ketika pelaku pasar memutuskan melakukan penjualan atau merealisasikan kerugian, keputusan itu tak bisa diputar balik atau diubah di kemudian hari. Merealisasikan kerugian yang terjadi sama saja dengan mengakui kesalahan investasi yang dilakukan. Rasa sakit akan meningkat bila dikemudian hari ternyata saham yang sudah dijual tersebut naik kembali. Ketika saham naik dari kerugian menjadi break event atau bahkan untung, maka akan terjadi rasa sakit secara psikologi.

Di sisi lain bila saham rugi tadi ditahan, maka ada peluang harga saham tersebut naik kembali, bahkan dari rugi menjadi break event atau bahkan untung. Keputusan investasi yang dianggap salah mungkin sekali berubah menjadi keputusan investasi yang benar atau baik di kemudian hari. Dengan mempertahankan saham pecundang atau investasi rugi, pelaku pasar telah menunda mengakui kesalahan yang dibuat dan berharap di kemudian hari terjadi perubahan, sehingga kesalahan menjadi investasi yang berhasil.

Dari dua alasan di atas, dapat dipahami kenapa banyak pelaku pasar menahan saham yang rugi dan cepat menjual saham yang untung. Keputusan ini sebenarnya salah dan hanya mengikuti kepuasan psikologi dan berpotensi membuat tujuan investasi tidak tercapai.

Dengan menyadari efek disposisi, sebaiknya pelaku pasar mulai berpikir mengubah pola dengan tak menahan pecundang dan menjual pemenang, tapi cut your losses and let your profits run. Lakukan investasi dan trading dengan bijak, agar tujuan investasi tercapai.